Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) adalah lembaga non profit yang memperoleh mandat untuk melakukan penelitian dan pengembangan komoditas kopi dan kakao secara nasional, sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 786/Kpts/Org/9/1981 tanggal 20 Oktober 1981. Juga sebagai penyedia data dan informasi yang berhubungan dengan kopi dan kakao.

Pada kunjungan kerja Menristekdikti ke Jember Sabtu 17 Januari 2015, Menristekdikti M Nasir berkesempatan meninjau Puslitkoka didampingi oleh Staf Khusus Menristekdikti Lukmanul Hakim, Asisten Deputi Kompetensi Kelembagaan, Yohan; dan Asisten Deputi Iptek Industri Kecil dan Menengah Hadirin Suryanegara. Di Puslitkoka Menristekdikti disambut oleh Direktur Puslitkoka Teguh Wahyudi Beserta seluruh pegawai Puslitkoka.

Menristekdikti bangga dengan Puslitkoka, perkembangan serta produk-produk yang telah dihasilkannya. Setelah melihat laboratorium teknik Somatic Embryogenesis (SE) yang dibuat, Menristekdikti yakin bahwa prospek kopi di Indonesia akhirnya bisa memenuhi target hingga 2017. SE merupakan sistem yang bertujuan untuk meningkatkan prosukdi bibit dalam skala yang besar.

Indonesia memiliki banyak jenis kopi unggulan yang produksinya masih dibilang kecil, sistem ini memiliki potensi yang baik untuk membuat jenis kopi unggulan Indonesia lebih banyak muncul ke permukaan. Menristek berharap sistem tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, dan pemanfaatan tersebut dapat dilakukan dengan cara dikomersialisasikan ke PTPN.

Melihat kemasan cokelat yang ada, Menristekdikti mengharapkan agar Puslitkoka melakukan penelitian tentang kemasan yang baik dengan survei ke lapangan. Kemasan cokelat yang diproduksi di Indonesia masih lemah hingga konsumen kurang tertarik. Direktur Puslitkoka mengungkapkan bahwa Puslitkoka memiliki subdivisi penanganan khusus hal tersebut yaitu Subdivisi Hilir pada Divisi Pengemasan Pascapanen, subdivisi yang menangani kualitas kemasanĀ  dan produk. Penelitian perlu dikembangkan dengan lebih baik mengingat perkembangan teknologi pengemasan, penyajian, dan estetika semakin pesat. (flh/humasristek)