Siaran Pers

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Jakarta – Pemandangan yang tidak biasa ada di halaman Gereja St Aloysius Gonzaga, Cijantung, Jakarta Timur, Minggu (24/9).

Umat Katolik didaerah tersebut tampak berduyun-duyun keluar dari Gereja setelah mereka bersama keluarga, teman dan handai taulan lainnya, selesai menjalankan misa pada pagi hari itu.

Mereka kemudian cukup terkejut dengan kehadiran Menristekdikti Prof Mohamad Nasir, PhD, Ak, yang datang dengan kendaraan biasa ber plat hitam dan hanya diiringi oleh patwal 1 (satu) motor dan 1 (satu) mobil.

Rupanya tidak semua tamu Allah sadar bahwa di tempat itu juga akan berlangsung suatu acara penting yaitu Seminar Kebangsaan: Pancasila, Pendidikan Katolik dan Ketahanan Nasional. Beberapa peserta Seminar kemudian diarahkan menuju lantai 3 (tiga) pada gedung disebelah Gereja Aloysius Gonzaga tersebut.

Setelah itu muncul sekelompok pemuda dan pemudi ganteng dan cantik, menarikan tarian dan lagu tradisional, menyambut Menteri Nasir dan mengalungkan rangkaian melati merah putih kepadanya.

Haru melihat indahnya persatuan, tanpa adanya diskriminasi oleh suku, agama, budaya, terjadi di halaman Gereja tersebut. Rasa kebersamaan dan kekeluargaan cepat membaur pagi itu. Pemandangan yang mungkin sekarang langka terjadi karena di kota-kota besar, masyarakat cenderung menjadi ‘selfish’ dengan ego yang menyeruak dan terkadang merasa paling benar, mewakili kelompok tertentu.

Dalam ramah tamahnya dengan Romo Barnabas, Bapak Romanus, Ibu Merry, Ibu Friska, Ibu Lusi yang menjadi tuan rumah, Bapak Kerong, Ibu Paris dan Nada, Menteri Nasir mengatakan bahwa beliau sudah sejak kecil berteman dengan teman teman berbeda suku dan agama. Beliau meyakini bahwa Negeri Indonesia dibangun berdasarkan keanekaragaman sejak nenek moyang kita, dan itu yang diterapkan oleh dirinya. Bahkan beliau mengatakan pernah tinggal di Timor Timur melakukan penelitian di tahun 1994, dan bertindak sebagai team leader nya.

Dalam kesehariannya, bahkan Menteri Nasir seringkali didampingi oleh Bapak C. Kerong yang berbeda agama dengan Menteri Nasir, tetapi mereka tetap bersahabat dengan erat.

Selanjutnya, Menteri Nasir menyatakan bahwa dalam agama Islam ada persaudaraan seiman, sebangsa dan hubungan sesama umat manusia. Dan sebagai seorang Muslim yang baik, Menteri Nasir sangat meyakini bahwa menjaga hubungan dengan sesama manusia dan menjaga kerukunan umat beragama adalah mutlak.

Seminar Kebangsaan: Pancasila, Pendidikan Katolik dan Ketahanan Nasional dimulai dengan sambutan beberapa panitia pengarah dan sambutan terakhir diberikan oleh Romo Barnabas, yang kemudian membuka acara tersebut bersama-sama Menteri Nasir, Ibu Merry Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Jakarta, serta Bapak Romanus.

Dalam pidato kuncinya, Menteri Nasir menyampaikan bahwa kegiatan Seminar ini sangat baik sekali, karena akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sangat sensitif dalam menghadapi isu radikalisme, narkoba dan obat2an terlarang, serta pengangguran. Membangun generasi muda adalah sangat tepat jika melalui pemberian pendidikan tinggi yang berkualitas, dan menurut Menteri Nasir melalui program akademi ‘Bela Negara’ yang antara lain menekankan pentingnya Pancasila dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari, perlu untuk tetap diberikan sebagai bahan akademik, disamping program pendidikan utamanya.

Jelas, mempertahankan kesatuan kebangsaan yang berlandaskan Pancasila tidak dapat ditawar lagi. Selanjutnya, Menteri Nasir meminta peserta untuk menghayati sejarah Pancasila, pidato Presiden Sukarno mengenai Pancasila dan mengamalkan ke lima sila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Menteri Nasir juga mengatakan bahwa “Apapun Agama-mu di Indonesia, apapun Suku asalmu, Ideologi-mu harus Pancasila!”.

Karena dengan mengamalkan Pancasila-lah Indonesia akan tetap menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan UUD 1945, hidup dalam simfoni indah.

“Bhinneka Tunggal Ika, dan berideologi Pancasila!. Empat pilar kebangsaan ini yang terus menerus harus didukung oleh generasi muda dari kalangan agama apapun di Indonesia,” tutup Menteri Nasir dalam pidato kuncinya.

Di akhir dialog dengan para peserta seminar, disimpulkan antara lain;

(i) dialog interaktif antar umat beragama diantara para pendidik generasi muda harus sering dilakukan,

(ii) Indonesia harus menjaga empat pilar kebangsaan: NKRI, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila,

(iii) sebagai ideologi bangsa, Pancasila harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga kehidupan umat beragama, menuju bangsa Indonesia yang produktif, guna menyambut Indonesia Emas 17 Agustus 2045. (NM)