MEULABOH– “Presiden Jokowi sudah mencanangkan laut sebagai masa depan bangsa.  Saya juga memulai dengan memberikan apa yang saya mampu perbuat sampai akhir hayat saya”, begitu tegas Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Dr (HC) Susi Putjiastuti ketka memberikan kuliah umum pada seminar dan expo nasional yang dilaksanakan Universitas Teuku Umar (UTU), 16-17 Oktober 2017.

Di depan peserta seminar, Menteri Susi berjanji akan membangun Tempat Pendaratan Ikan (TPI) dalam tahun 2018 untuk Meulaboh-Aceh Barat, untuk Aceh selatan, untuk  Aceh Barat Daya (Abdya). Tetapi para nelayan harus berjanji  jual ikan di TPI, jangan jual ke tengkulak. Panglima laot dan Bupati di Aceh tolong datang ke KKP, ketemu Dirjen dan juga perlu  ketemu dengan Direktur BUMN supaya cepat pelaksanaannya.  “Tahun 2018, saya akan datang kembali kesini untuk meresmikan TPI”, tegas Menteri Susi.

Ibu Susi menegaskan, sudah saatnya Aceh bangkit dari tsunami, dan dari konflik yang pernah melanda Aceh. Sekatang harus maju perikanan dan  harus berkelanjutan. “Jangan ada eks pengusaha dan  pejabat yang masih membawa kapal milik Thailand masuk ke wilayah kita,  kalau itu masih dilakukan berarti itu pengkhianat Negara”. Kembalikan ke arifan lokal-lah untuk menentukan rakyatnya.

Dalam kuliah umum lebih dari tiga jam, Menteri Susi juga menjelaskan tentang  pemanfatan sumber daya tambang dan sumber daya laut perikanan. Persoalan tambang dan sumber daya laut ini selalu muncul dan menjadi konflik berkepanjangan. “Ini suatu realita secara  jujur dan harus kita akui, mau tidak mau ini akan konflik seperti itu akan terus berkelanjutan yang sangat sulit penyelesaiannya. Saya mohon kepada Pemda dan pusat duduk bersama masyarakat untuk bisa mengatasinya secara bersama”.

Untuk itu, akademisi  Universitas Teuku Umar (UTU) dan Universitas lain-nya di Aceh,  duduk dan mufakat bersama, bagaimana  membangun perikanan dengan sumberdaya yang ada. “Bom ikan tidak boleh terjadi, bom terumbu karang, pukat trawl tidak boleh tangkap, cangtrang tidak boleh. Ini semua yang harus ditanam kepada nelayan. Pemerintah daerah harus punya keterikatan membangun yang lemah menjadi kuat. Kadang aneh,  informasi yang sampe ke saya  sudah disekat dan sudah dipilah-pilah sehingga sulit kita dapatkan informasi yang benar. Untuk itu,  pemerintah daerah harus transparan.

Mengutip pernyataan Menteri Susi,  Pinggir Pantai Wilayah Kabupaten Simeulue-Aceh jangan semuanya dijadikan untuk tambak, 70 persen dari sepanjayng pantai harusnya dihijaukan kembali ditanami bakau, sehingga akan menyuburkan perairan umum untuk hasil2 perikanan. 70 persen wilayah harus hijau dan untuk publik, 30 persen dikelola untuk masyarakat. “Jadi porsi pengelolaan seperti itu, 30 persen komersialisasi boleh utuk tambak, wisata, dan perhotelan. Dan 70 persen untuk mangrove dan untuk publi yang sifatnya digratiskan.

Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT ketika membuka seminar dan expo perikanan dan kelautan UTU, mengatakan,  Aceh  masih kekurangan dalam pengembangan sektor perikanan.  Kelemahan kita antara lain adalah nelayan kita masih keterbasan pengetahuan  dalam hal pengelolaan sektor perikanan, keterbatan modal usaha, kesulitan pemasaran hasil tangkapan, belum memadai sarana transportasi untuk memasarkan hasil tanggapan mereka (nelayan).  Kelemahan lain adalah Sumberdaya manusia dalam memberdayakan perikanan nelayan Aceh masih kurang.  “Ini harus dipikirkan, termasuk tugas pak Rektor bersama civitas akademika lainnya”.

Tentunya, melalui seminar dan expo perikanan  dan kelautan ini, kita berharap kepada Ibu Menteri Kelautan dan Perikan RI, Susi Putjiastuti  dapat menyiapkan berbagai program sarana untuk mendukung  peningkatan produksi dan produktifitas perikanan di Aceh, dalam upaya mendukung dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh.

Sementara itu, Rektor UTU Prof Jasman mengatakan Universitas Teuku Umar memiliki visi menjadi sumber inspirasi dan referensi dalam hal agro and marine industry. Pemiliihan core product UTU, industri berbasis kelautan ini tentulah bukan tanpa alasan. Dari segi historis, masyarakat Indonesia sejak dulu adalah masyarakat bahari, begitu juga potensi alam yang amat besar di sektor kelautan di negeri kita tercinta ini.

“Kita mengetahui, sejumlah teknik penangkapan ikan yang tidak sewajarnya haruslah dihentikan antara lain penangkapan ikan dengan menggunakan bom, penggunaan alat penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik serta alat tangkap cantrang. Alhamdulillah, di Aceh ada panglima laot yang diharapakan dapat secara aktif mensosialisasikan kearifan dalam menjaga, merawat dan memanfaatkan potensi laut di negeri kita tercinta ini,” tegas Prof Jasman.