Jakarta – Riset yang berujung pada inovasi menjadi sangat penting karena bisa mendongkrak kebutuhan terhadap para periset, hal ini dikatakan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir pada  Konferensi Forum Rektor Indonesia 2017 : Konvensi  Kampus XIII dan Temu Tahunan XIX Forum Rektor Indonesia di Hotel Sultan Jakarta, (2/2).

“Masalah riset ini juga harus berwujud pada publikasi ilmiah, ini yang harus kita dorong dan selesaikan bersama khususnya untuk para peneliti agar terus mempunyai gairah yang tinggi untuk publikasi ilmiah yang punya reputasi internasional,” ujar Menteri Nasir pada orasi ilmiahnya didepan para rektor-rektor Perguruan Tinggi di Indonesia.

Menteri Nasir menambahkan, kalangan peneliti harus mampu membuat hasil penelitian yang berorientasi pada kepentingan publik. Penelitian tidak boleh lagi bertumpu pada kepentingan individu. Hal itu lantaran proses administrasi untuk para peneliti dipermudah karena kini tidak lagi membuat laporan perjalanan dinas, akomodasi dalam proses penelitian.

“Pemerintah akan membiayai penelitian berdasar hasil yang dicapai. Dengan demikian, para peneliti tidak lagi berfikir soal administrasi, namun lebih pada kualitas hasil penelitian. Jadi, riset tidak berbasis aktivitas, akan tetapi berbasis output dan hasilnya. Berapa yang dibiayai, propotipe berapa, dan seterusnya,” jelas Nasir.

Menteri Nasir menjelaskan Kemenristekdikti mentargetkan di tahun 2016 hasil publikasi bisa mencapai di angka sekitar kurang lebihnya 6.250 publikasi, tetapi pada nyatanya bisa melewati target yaitu pada angka kurang lebihnya 9.574 publikasi per 1 desember 2016, dan bila melihat per tanggal 23 januari 2017 pada angka kurang lebihnya 10.540 publikasi.

Kemenristekdikti sudah bekerja sama dengan DRN (Dewan Riset Nasional) mengenai 7+1 bidang fokus unggulan dengan tujuan hasil riset yang berujung pada inovasi dan prototipe yang bisa dimanfaatkan oleh industri yaitu; 1) Bidang Transportasi, 2) Ketahanan Pangan dan Pertanian, 3) Teknologi Informasi dan Komunikasi, 4) Kesehatan dan Obat, 5) Pertahanan Keamanan, 6) Material Maju, 7) Energi dan Energi Terbarukan, dan 8) Maritim.

“Riset-riset yang dilakukan anak bangsa harus kita dorong untuk dimanfaatkan oleh industri, saya akan buat kebijakan dalam mewujudakn budaya riset dengan menyusun regulasi dan program-program antara Perguruan Tinggi dengan LPNK (LIPI, Batan, BPPT, Bapeten, BSN, BIG, dan LAPAN) untuk menjalin kerjasama dalam hal riset serta inovasi,” papar Nasir.

Konferensi FRI 2017 ini dihadiri juga Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani yang menjadi panelis di konferensi FRI 2017 dengan tema “Mewujudkan Amanat Konstitusi Pendidikan Nasional Melalui Peningkatan Anggaran untuk Kualitas Riset dan Inovasi Perguruan Tinggi”.

Menko PMK menyampaikan salah satu permasalahan dalam mengembangkan riset dan inovasi, baik melalui perguruan tinggi maupun melalui badan riset adalah masih terbatasnya alokasi anggaran untuk belanja riset. Berdasarkan data, anggaran riset Indonesia hanya sebesar 0,09% dari PDB nasional.

“Peran perguruan tinggi sangat strategis sebagai pusat riset dan inovasi, yang dapat berkontribusi dalam pembangunan perekonomian Indonesia yang berdaya saing,” tutur Menteri Puan. (ard)

 

Galeri