Serpong-Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir melakukan kunjungan kerja ke beberapa Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) di bawah Kemristekdikti yang berada di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong (7/7). Kunjungan diawali dengan meninjau pusat reaktor nuklir di gedung GA Siwabessy Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Didampingi Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto, Menristekdikti memaparkan kepada rekan media mengenai reaktor nuklir serta pemanfaatannya selama ini yang sudah pada bidang kesehatan dan pertanian/pangan.

Menteri Nasir mengatakan saat ini tengah dilakukan persiapan pembangunan Reaktor Daya Eksperimental (RDE) oleh BATAN yang akan dimulai tahun depan dan diharapkan selesai pada tahun 2019. RDE ini nantinya untuk menunjang aktivitas penelitian di Puspiptek. Sekali lagi ia menegaskan bahwa ini hanya untuk riset, bukan untuk komersial.

Terkait pemanfaatan teknologi nuklir, Nasir berharap selain bagi kesehatan dan pertanian/pangan, pun nantinya dapat menghasilkan energi listrik. Pasalnya, dikatakan Djarot energi listrik dari nuklir memiliki keunggulan dari penggunaan bahan bakunya. Untuk menghasilkan listrik 10 mega watt, membutuhkan 20 kg uranium. Ia membandingkan dengan pembangkit listrik dari bahan baku batu bara yang membutuhkan satu truk lebih batu bara untuk menghasilkan listrik 10 mega watt.

Melanjutkan kunjungan kerjanya, Menristekdikti meninjau Balai Termodinamika, Motor dan Propulsi (BTMP) milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Ia menyempatkan diri untuk melihat beberapa hasil teknologi seperti alat verifikasi e-ktp, e-voting untuk pemilu/pilkada, alat pelacak pesawat terbang, serta manufaktur pesawat tanpa awak. Selain itu, di bidang pangan, BPPT juga telah menghasilkan inovasi teknologi untuk pengolahan pangan berbahan baku lokal seperti beras analog yang terbuat dari jagung, singkong, dan sagu.