SURABAYA – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir meresmikan pembukaan Inovator Inovasi Indonesia Expo 2017 yang digelar di Hall Grand City Surabaya, Kamis (19/10).

Dalam peresmian itu, turut hadir Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe dan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah pada tahun 2016 menunjukkan bahwa pertumbuhan entrepreneur Indonesia masih sangat kecil yaitu hanya 1,6% dari populasi penduduk Indonesia. Sementara di negara-negara ASEAN, seperti Singapura jumlah wirausahanya tercatat sebanyak 7% dari jumlah penduduk, sedangkan Malaysia 5%, Thailand 4,5%, dan Vietnam 3,3%. Hal ini kenapa Indonesia masih tertinggal dikarenakan perdagangan di Indonesia masih berbasis budaya, bukan berbasis kepada teknologi sehingga pertumbuhannya melambat.

“Tetangganya usaha, saudaranya usaha, jadi usaha di Indonesia ini berbasis budaya bukan berbasis teknologi. Kalau industri pemula yang berbasis teknologi seperti start-up bisa terus didorong dan dikembangkan, Indonesia bisa bergerak lebih maju,” ujar Menteri Nasir.

Kegiatan I3E ini diikuti oleh 457 start-up yang nantinya akan mempresentasikan inovasi-inovasinya sehingga dapat menarik minat investor untuk berinvestasi pada start-up yang akan dikembangkan. Pameran ini juga dapat menjadi sarana strategis bagi para startup untuk menambah jejaring bisnis, menggali kerjasama serta kontrak-kontrak bisnis baru dengan berbagai mitra usaha atau pembeli yang hadir, dan mengembangkan pangsa pasar dalam negeri atau bahkan ekspor.

Menteri Nasir juga mengatakan bila riset-riset yang ada di Indonesia jangan hanya berakhir di perpustakaan, tetapi harus menghasilkan inovasi dan produk yang bermanfaat untuk masyarakat.

“Dengan inovasi, kita dapat mendorong pertumbuhan perekonomian bangsa. Saya harap dengan meningkatnya industri start-up berbasis teknologi, kedepannya dapat mengurangi tingkat pengangguran karena lulusan dari perguruan tinggi akan mencetak sarjana pencipta lapangan kerja, bukan sarjana yang mencari kerja,” tambah Menteri Nasir.

Pemerintah Indonesia saat ini memiliki target mencetak 1000 start-up dan telah dimulai. Seluruh Kementerian dan lembaga terkait harus saling bersinergi bekerja bersama melahirkan startup yang mampu bersaing dengan startup dari luar.

Kemenristekdikti melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi, telah mendukung dan mendorong proses penumbuhan startup melalui hilirisasi dan komersialisasi hasil inovasi karya anak bangsa dan sudah membuat kebijakan menyelenggarakan program insentif Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) serta program insentif Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT).

“Ketertinggalan jumlah startup akan teratatasi jika seluruh kementerian dan lembaga terkait dapat bersinergi dan berperan aktif mendorong pertumbuhan startup di Indonesia,” harap Nasir. (TJS)

Galeri