Oleh : Dr. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng.

index

MENAPAK di bumi Oksibil bagaikan perjuangan antara hidup dan mati, pasalnya daerah itu hanya bisa diakses oleh transportasi udara melalui pesawat kecil, sedangkan cuaca di langit Oksibil selalu tidak menentu setiap hari. Oksibil adalah Ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua, dikelilingi oleh pagar pegunungan yang terjal dan tinggi. Wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang berbatasan dengan Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom di sebelah Utara, Kabupaten Boven Digoel di sebelah Selatan, Kabupaten Asmat, dan Kabupaten Yahukimo di sebelah Barat dan Negara Papua Nugini di sebelah Timur. Hampir di setiap distrik terdapat lapangan terbang, tetapi hanya lapangan terbang di Oksibil dan Batom saja yang bisa didarati pesawat Twin Otter.

Kondisi alamnya indah sekali, hijau, dengan udara yang sangat segar, sepanjang masa kota  Oksibil tidak pernah mengalami musim kemarau, setiap hari selalu diliputi awan meskipun saat-saat tertentu boleh dibilang cerah. Letak geografis di cekungan dataran tinggi ini selalu berkabut, sehingga sering menyulitkan pilot ketika melakukan pendaratan. Tidak jarang sejumlah pesawat mengurungkan pendaratan dan memilih kembali ke Sentani Jayapura karena kabut yang tebal. Cuaca yang tiba-tiba memburuk, pesawat sering mengalami kecelakaan fatal di daerah ini, pesawat sulit dikendalikan oleh pilot senior dengan pengalaman puluhan ribu jam terbang sekalipun.

Kondisi Pasar di Oksibil Saat Ini

Meskipun memakai pesawat kecil dengan waktu tempuh Sentani-Oksibil hanya 45 menit tetapi harga tiket pesawat bisa dibilang mahal, bahkan lebih mahal dari harga tiket pesawat Sentani-Jakarta. Di sisi lain, fakta yang dapat ditemukan di antaranya adalah harga sembilan bahan pokok di Oksibil terbilang sangat mahal, seikat  berisi tiga buah cabe mencapai Rp. 10.000,-, sebutir telur Rp.6.000,- dan minyak goreng Rp. 40.000,- per liter. Selain itu, bahan bangunan juga melangit, semen 50 kg di Jakarta Rp.60.000,-, di Oksibil mencapai Rp. 1.5 juta, sementara itu bensin Rp.40.000,- per liter. Mahalnya bahan-bahan kebutuhan tersebut karena adanya sejumlah penyebab diantaranya karena akses jalan darat belum selesai pembangunannya, yang mengakibatkan keterpencilan dan keterisolasian.

Akibatnya bahan pokok makanan dan bangunan harus diangkut dengan pesawat. Fakta lain terjadi dalam membangun akses jalan dalam kota, alat berat seperti bulldozer dan grader harus didatangkan dengan Helikopter dengan biaya sekali angkut mencapai Rp 400.000.000,-. Tidak hanya itu, sebuah Dozer shovel yang karena beratnya, harus diangkut hingga lima kali mengakibatkan biaya angkut mencapai dua milyar rupiah.

Solusi Strategis

Untuk menurunkan harga tersebut tidak ada jalan lain kecuali akses jalan Oksibil-Boven digoel dan Oksibil-Yahukimo segera dibangun tuntas. Namun sukses dalam membangun akses jalan tidaklah cukup membawa Pegunungan Bintang  berdaya saing dan sejahtera. Secara komprehensif terintegrasi perlu dilakukan perencanaan ulang terhadap sejumlah peningkatan infrastruktur, pengembangan organisasi birokrasi dan bisnis serta penguatan jaringan klaster strategis.

Meningkatkan infrastruktur di Pegunungan Bintang tidak dapat dilakukan secara serampangan, semestinya diarahkan untuk meningkatkan kesiapannya dalam menghadapi banjirnya investasi dari luar agar masyarakat asli Pegunungan Bintang tidak hanya menjadi penonton tetapi menjadi pelaku pembangunan, yaitu antara lain infrastruktur pendidikan baik akademi maupun pendidikan vocasional, infrastruktur kesehatan, pertanian, pertambangan, mineral serta energi.

Keterampilan dalam penguasaan kemampuan teknis menengah perlu ditingkatkan sehingga setiap sektor industri di Kabupaten ini digerakkan oleh tenaga kerja lokal yang tersertifikasi.

Melihat tatakelola saat ini, organisasi yang dikembangkan tidak hanya sekadar dapat melayani kepentingan masyarakat, tetapi organisasi birokrasi dan bisnis harus mampu menjadi power dan leader untuk mengakselerasi pembangunan, tidak bisa tidak  organisasi birokrasi dan bisnis harus  dikembangkan selaras secara simultan berbasis teknologi yang memadai. Dimulai dengan menetapkan target goal, sebuah organisasi dapat dikembangkan berdasar strategi dan misi yang dilakukan.

Sistem jaringan untuk menghubungkan antar klaster tidak dapat diproyeksikan sekadar untuk menjalankan menghubungkan pusat-pusat keramaian, tetapi harus dapat menggerakkan semua kutub kekuatan agar berjalan menuju visi dan misi yang ditetapkan, dalam hal ini klaster kepemerintahan, bisnis dan akademis harus berjalan seimbang sehingga tidak terjadi informasi asimetrik yang melemahkan perkembangan organisasi. Kohesi, sinergi dan komunikasi dapat dilakukan dengan menggunakan sistem digital yang selaras dengan kebutuhan seperti e-goverment, e-market, e-education, e-coordination, dan lain sebagainya.

Di samping melakukan prioritas dalam pembangunan industri dengan basis infrastruktur dasar seperti energi, telekomunikasi, pekerjaan sipil namun secara simultan juga perlu dilakukan peningkatan sistem dan teknologi transportasi, sehingga hubungan antar pusat-pusat kegiatan ekonomi tidak terjadi hambatan.

Perencanaan Pembangunan Komprehensif, Integral

Pengembangan Kabupaten Pegunungan Bintang tidak dapat dilakukan secara parsial tetapi memerlukan perencanaan pengembangan wilayah secara komprehensif, integral dan holistik serta memperhatikan kondisi alam, kelestarian dan daya dukung lingkungan.

Jika perencanaan pembangunan di Pegunungan Bintang dilaksanakan secara benar, setidaknya tata kelola kepemerintahan, bisnis serta eksploitasi sumberdaya alam akan berjalan lebih efektif dan efisien. Dengan demikian masa depan Pegunungan Bintang tergantung apa yang dilakukan hari ini secara terencana, visioner, menyeluruh, menyatu dan berwawasan lingkungan. Kuat tidaknya daya dukung yang dimiliki tergantung dari bagaimana masyarakat merencanakan, mengolah dan memelihara potensi sumberdaya alam yang melimpah.

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang memiliki pakar, praktisi dan teknisi di berbagai bidang dan sektor strategis, yang tersebar di BPPT, LIPI, BATAN, BIG termasuk Perguruan Tinggi dapat dijadikan partner dan rujukan untuk menajamkan arah dan strategi baik makro maupun mikro-teknis dalam rangka mengakselerasi pembangunan secara berkelanjutan di Pegunungan Bintang.