image001Musibah jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 di pengujung tahun 2014 menorehkan duka mendalam. Sebanyak 155 penumpang yang berangkat dari Surabaya menuju Singapura, 28 Desember lalu, dinyatakan hilang di Selat Karimata. Kesedihan seketika menyelimuti bangsa menjelang pergantian tahun.

Di bawah koordinasi Basarnas, segera dilakukan pencarian hingga 14 Januari 2015. Sebanyak 48 jenazah berhasil dievakuasi. Beberapa keping pu-ing dapat pula terdeteksi. Di antaranya termasuk dua bagian kotak hitam Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). Komponen black box diharapkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mampu menyuguhkan kronologi peristiwa di balik kecelakaan pesawat bertipe Airbus A320-200 itu.

Dalam jumpa pers, KNKT menerangkan proses pembacaan data black box Air Asia dapat berlangsung sepekan, kemudian dilakukan pemeriksaan dan analisis. Katanya, dapat menelan waktu hingga satu tahun sebelum resmi dipublikasikan ke masyarakat.

Kehilangan kerabat, saudara, maupun orang tercinta memang tak tergantikan. Namun, mencari jawaban penyebab musibah nahas yang merenggut keluarga tercinta menjadi pilihan berikutnya. Inilah realitas yang harus ditelan atas jutaan pertanyaan publik karena sikap menunggu jawaban memang posisi terbaik yang dapat diberikan pihak terkait.

Lamanya proses investigasi dalam kecelakaan transportasi menjadi lumrah terjadi. Banyaknya pihak terkait yang melakukan investigasi, dan menyesuaikannya dalam satu argumen menjadi salah satu alasan lamanya kesimpulan. Tengok saja pada kecelakaan pesawat Airbus 330-200 Air France AF 447 dalam penerbangan dari Rio de Janeiro ke Paris, 1 Juni 2009 silam. Pesawat yang mirip Air Asia QZ8501 itu, jatuh di Lautan Atlantik menewaskan 228 penumpang.

Dari hasil investigasi black box yang ditemukan, baru pada 5 Juli 2012 penyebab musibah itu dipublikasikan secara resmi. Artinya perlu tiga tahun setelah kejadian. Lalu adakah metode investigasi lain yang dapat dilakukan selain menggunakan data black box1. Ada. Yakni dengan menggunakan metode fraktografi dengan mengadakanpengamatan terhadap jenis patahan pesawat terbang.

Pengujian ini, minimal, akan menjawab teka-teki besar terkait faktor cuaca, apakah pesawat jatuh akibat menabrak awan cumulonimbus (awan tebal), atau sebab lain terkait kekuatan struktur pesawat.

Pengujian

Pengujian struktur pesawat terbang merupakan salah satu jenis pengujian yang dipersyaratkan dalam proses sertifikasi sebuah pesawat terbang. Tujuan pengujian untuk mengetahui karakteristik struktur pesawat terbang terhadap pembebanan operasional. Investigasi pada piling pesawat Air Asia QZ8501 yang ditemukan, sebenarnya menyimpan informasi penting yang dihimpun melalui hasil analisis jenis patahan struktur pesawat.

Secara umum, pengujian struktur pesawat dikenal dua cara. Yakni pengujian statik untuk mengetahui kekuatan pesawat (ultimate strength) maupun pengujian dinamis guna mengetahui umur pesawat (fatigue life). Ini termasuk Crack Propagation Test yaitu menguji kecepatan dan arah perambatan retak sebuah struktur pesawat terbang.

Dalam pengujian dinamis, misalnya, akan diketahui sejumlah titik-titik konsentrasi tegangan atau kritis, baik di badan, sayap maupun ekor pesawat. Pengukuran titik-titik kritis dengan menggunakan sensor regangan (strain gauge) tersebut dapat dianalisis untuk diketahui, sesungguhnya kapan terjadinya initial crack. Bahkan dapat pula dideteksi, kecepatan maupun arah saat keretakan terjadi melalui Crack Propagation Analysis (CPA).

Ibarat sebuah rekam medik, data crack propagation menjadi sangat penting dalam mengujian puing pesawat Air Asia QZ8501 yang ditemukan. Selain itu, ada pula pengujian struktur pesawat yang disebut dengan Non-DestruktifTest (NDT). Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui jenis material (metalografi) yang digunakan pesawat tersebut sehingga dengan pasti dapat diprediksiumur dan penjalaran retaknya.

Penggunaan material yang tidak homogen, umumnya menjadi titik lemah yang menyebabkan konsentrasi tegangan dan memungkinkan munculnya retak pada pesawat. Bagi produsen pesawat terbesar, seperti Boeing dan Airbus, peningkatan penggunaan material komposit yang homogen dan canggih memang telah diterapkan pada pesawat komersial yang diproduksinya.

Karena penggunaan material yang homegen dan telah melalui berbagai pengujian komponen serta konstruksi, diyakini dapat mengurangi berat ba-dan pesawat Dengan demikian dapat mengoptimalkan biaya operasional, produsen danpenggunaan bahan bakar. Namun pada musibah pesawat bertipe Airbus A320-200, pengujian statik dan dinamik pada puing yang ditemukan patut dilakukan.

Sinergi Lembaga

Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur, BPPT yang berada di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) sebenarnya telah mampu melakukan serangkaian pengujian, baik secara dinamis maupun statis pesawat terbang. Dengan peralatan canggih, terkomputerisasi, dan terintegrasi, maka pengujian dapat diketahui dengan cepat karakteristik statis dan dinamis struktur pesawat terbang.

Laboratorium Aerodinamika Gas dan Getaran (ILST) milik BPPT pun mampu menguji aerodinamik dan mengetahui titik-titik kritis konsentrasi tegangan pada pesawat terbang melalui simulasi uji aerodinamis. Sementara, melalui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kemampuan melakukan uji material pesawat dalam NDT secara detail dan akurat patut diapresiasi.

Ada pula peralatan canggih milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), melalui peralatan radiografi serta kemampuan para peneliti, mereka mampu mendeteksi struktur material pesawat yang rumit, terkecil sekalipun. Mengurai jawaban dari sekeping puing Air Asia QZ8501 memang tidak mudah. Selain melibatkan banyak disiplin ilmu, waktu, dan biaya besar. Hasilnya pun tak mampu melepas dahaga dari segudang pertanyaan dari musibah yang krono-lologis dan penyebabnya akan diungkap tahun depan.

Setidaknya, inilah salah satu upaya manusia dalam menemukan jawaban atas misteri takdir. Sebab dengan teknologi, sekeping puing Air Asia QZ8501 diharapkan mampu bertutur lugas dan terang guna menjawab banyak pertanyaan. Di antaranya, apakah serpihan puing disebabkan hempasan ketika jatuh ke laut atau memang sudah melekat potensi crack propagation pada pesawat Air Asia QZ8501.

(Sumber : Koran Jakarta, 4 Februari 2015)