Kemiskinan memang menjadi musuh utama bangsa Indonesia. Keterbatasan ekonomi menjadi penghalang seseorang untuk meraih pendidikan yang tinggi. Kemiskinan menjadi momok menakutkan bahwa seseorang hanya bisa pasrah menerima takdir dari Sang Maha Kuasa.

Tapi logika tersebut tidak berlaku bagi Firna Larasanti. Tentu tak banyak orang mengenal namanya. Tapi itu sebelum ia lulus Sarjana pada bulan Juli 2016 dan berhasil meraih predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,77 di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dari parasnya nan ayu, mungkin tidak banyak orang yang tahu pula bahwa ia lahir dari keluarga yang serba kekurangan. Orang tuanya hanya bekerja sebagai pemulung barang-barang rongsokan di sekitar Kota Semarang.

Saat disambangi dirumahnya yang sangat sederhana di daerah Karanggeneng, Kelurahan Sumurejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, dimana barang-barang rongsokan menjadi penghias utama halaman rumahnya, Firna, anak kedua dari tiga bersaudara menceritakan pengalaman dan perjuangannya mendapatkan predikat lulusan cumlaude di kampusnya.

Firna yang setiap harinya membantu orang tuanya menyisihkan barang-barang rongsokan untuk dijual kembali kepada pengepul barang bekas memulai ceritanya sejak saat dia hampir saja putus asa tidak dapat masuk ke Perguruan Tinggi Negeri tujuannya, yaitu Unnes. Jalur SNMPTN dan SBMPTN yang telah coba ditempuhnya tidak memberikan hasil seperti yang diinginkannya. Hingga akhirnya pada kesempatan terakhir ia berhasil masuk Unnes.

“Awalnya saya ingin masuk ke program studi pendidikan, karena cita-cita awal adalah menjadi guru. Tapi akhirnya malah diterima di program studi politik. Itu saja sudah alhamdulillah bisa diterima di Unnes, karena disini saya tahunya Unnes itu bagus,” ungkapnya.

Pada semester awal masuk Unnes, Firna merasa kebingungan untuk mencari dana talangan untuk membayar biaya kuliahnya, karena masih termasuk mahasiswa reguler. Ia pun berusaha keras menutupinya dengan membantu orang tuanya mengumpulkan barang-barang bekas yang bisa dijual kembali. Terlebih yang ia pikirkan saat itu adalah bagaimana caranya mendapatkan buku-buku penunjang perkuliahan.

“Jadi saya minta tolong juga kepada orang tua saya, kalau Bapak sama Ibu saat memulung menemukan buku atau majalah bekas, diberikan saja kepada saya. Jangan dijual kembali. Selain saya juga mencarinya sendiri saat memulung. Dari sana saya banyak mendapatkan buku-buku atau majalah untuk membantu perkuliahan, terutama isu-isu politik. Saya sempat kebingungan, teman-teman sekitar saya punya buku, laptop, sedangkan saya tidak punya. Tapi alhamdulillah saya tetap mendapatkan IPK yang cukup baik,” ujarnya.

Beasiswa Bidikmisi

Pada semester selanjutnya, takdir berkata lain. Akhirnya Firna mendapatkan kuota beasiswa Bidikmisi dari Unnes. Dari sanalah semangat dan motivasi Firna terus bertambah untuk membuktikan bahwa orang-orang yang berada dalam kekurangan itu bukan berarti tidak bisa berprestasi. Bukan berarti malah harus malu dengan hidup.

“Dari sejak itu, motivasi saya bertambah. Saya justru malah ingin membuktikan bahwa bantuan yang saya terima itu berasal dari uang rakyat. Saya harus mempertanggungjawabkannya kepada rakyat dan Negara yang mempercayai saya menerima beasiswa. Saya ingin menjadi mahasiswa Bidikmisi yang sangat bertanggungjawab terhadap uang rakyat. Apalagi karena saya ada di ilmu politik, saya ingin buktikan bahwa politisi itu memang harus berjuang untuk rakyat,” ujar dara yang punya tokoh idola Presiden RI Joko Widodo itu.

Siti Suswati, ibunda dari Firna dengan nada tersedu mengatakan bahwa ia amat bersyukur dengan apa yang telah dicapai oleh putrinya. Dengan nada sendu ia mengatakan bahwa pada awalnya berfikiran tidak mungkin Firna bisa berhasil seperti sekarang. Suswati menceritakan, dengan penghasilan yang paling besar hanya 50 Ribu Rupiah per hari bila banyak rongsokan yang didapat, tidak mungkin Firna akan mencapai cita-citanya menjadi Sarjana.

Harapan kedepan, Firna amat ingin melanjutkan kuliahnya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu pascasarjana ilmu politik di National University of Singapore (NUS). Cita-citanya, bila memang diberi kesempatan mendapatkan beasiswa kembali, ia sangat ingin mendapatkan sampai jenjang Strata-3 (S3).

“Saya sangat ingin menginpirasi teman-teman yang merasa kekurangan, jangan pantang menyerah. Ini hanya keterbatasan ekonomi. Sementara kita masih punya fisik yang baik, jika kita mau berusaha dan bersyukur, saya percaya akan diberikan jalan oleh Yang Maha Kuasa. Sesungguhnya ekonomi bukan menjadi kesulitan, karena kita masih memiliki akal, otak, sehingga kita pasti bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi,” katanya dengan penuh semangat.

Firna yang sederhana, Firna yang percaya diri, Firna yang selalu bersyukur, telah berhasil menembus keterbatasan logika berfikir semua orang. Firna menjadi inspirasi bagi sekian banyak orang yang berada dibawah garis kemiskinan. Kekurangan bukanlah beban, tapi jadikan kekurangan sebagai penyemangat pembuktian keberhasilan. (Dzi)