dsc_6510

Oleh : Agus Puji Prasetyono

Inovasi sudah menjadi kata yang tidak asing lagi bagi Peneliti, Perekayasa, Pakar dan Akademisi terutama ketika banyak negara sepakat mengumandangkan isu globalisasi. Isu ini bahkan telah menggiring banyak kebijakan suatu negara mengubah paradigma dari proteksi dan tertutup menjadi negara yang harus bersaing di era keterbukaan. Inovasi menjadi kesempatan emas bagi negara produsen menjadi strategi jitu pemasaran berbagai produk berbasis teknologi mandiri, tetapi akan menjadi monster yang menakutkan bagi negara konsumen yang selalu mengandalkan teknologi impor dan hidup dari eksploitasi sumberdaya alam. Bahkan tidak menutup kemungkinan negara konsumen akan menjadi sapi perah dan didikte oleh negara produsen karena tidak memiliki posisi tawar (bargainning position)yang kuat terhadap negara produsen. Akibatnya, negara konsumen tidak dapat mengembangkan inovasi secara mandiri karena membanjirnya produk murah dari luar negeri. Tidak hanya itu, eksplorasi sumberdaya alam termasuk hasil pertanian dan tambang  dengan “terpaksa” diekspor ke negara maju, karena tidak ada teknologi dan infrastruktur yang  dapat digunakan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Seperti diketahui, terbatasnya daya tampung lapangan kerja, mengakibatkan ribuan lulusan sarjana tidak sepenuhnya mendapat kesempatan bekerja sesuai harapan, sehingga tidak bisa dipertahankan lagi, mereka “lari” mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri. Bayangkan, kepakaran yang telah didapat dari hasil mengais uang pajak masyarakat untuk membiayai kuliah, akhirnya perusahaan asing yang memanen hasilnya. Sungguh disayangkan…!! Sejatinya ditangan mereka proses inovasi di bumi Nusantara ini akan terdorong secara sempurna.

Dalam perpektif lain, apresiasi tinggi kita berikan kepada Pemerintah terhadap kebijakan anggaran sebesar 20% APBN yang dialokasikan untuk pendidikan, sebagian teralokasi untuk kegiatan riset Perguruan Tinggi, dinilai mampu mendorong jumlah dan kualitas kegiatan riset sehingga harapan akan terwujudnya daya saing dan kesejahteraan menjadi semakin nyata. Dengan kebijakan ini, tidak terpungkiri jumlah jurnal yang berhasil di publikasi di tingkat internasional dan paten secara statistik mengalami peningkatan signifikan. Sementara itu, Pemerintah juga tidak tinggal diam, sejumlah paket kebijakan di bidang ekonomi, energi dan sumberdaya mineral serta infrastruktur juga telah digelontorkan untuk membangun  iklim investasi agar lebih kondusif.

Namun anehnya  kenyataan yang terjadi adalah menurunnya Peringkat Daya Saing Indonesia di tingkat global. World Economic Forum (WEF) yang merilis Global Competitiveness Index (GCI) atau Indeks Daya Saing Global tahun 2016-2017 yaitu posisi atau peringkat GCI tahun 2016-2017  ini memperlihatkan posisi Indonesia di tingkat global mengalami penurunan dari peringkat 37 ke peringkat 41. Dalam laporan itu secara umum, setidaknya  ada empat faktor utama yang dinilai yakni kinerja perekonomian, efektivitas pemerintahan, efektivitas bisnis, serta infrastruktur. Di level Asia Tenggara, peringkat Indonesia masih berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Apakah Inovasi itu…? Kenapa harus melakukan Inovasi….?

Di Indonesia, inovasi masih diartikan secara berbeda-beda oleh berbagai kalangan, bahkan sampai saat ini belum ada kata yang tepat digunakan untuk mendefinisikannya, namun intinya adalah penciptaan nilai tambah. Oleh berbagai praktisi inovasi diartikan sebagai perubahan atas kondisi lama yang ada diwaktu sebelumnya yang dinilai banyak kelemahan. Namun secara umum inovasi ( innovation) dapat diartikan sebagai proses atau hasil pengembangan pemanfaatan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk, proses atau sistem yang baru, yang memberikan nilai yang tinggi terutama di bidang ekonomi dan sosial.

Inovasi  dapat diartikan sebagai suatu produk atau praktik baru yang diaplikasikan dalam suatu konteks komersial. Inovasi juga dapat berupa sistem, “kegiatan” atau proses penciptaan kebaharuan sehingga bernilai  komersial. Inovasi mencakup berbagai ciptaan baru yang memiliki nilai ekonomi tinggi, yang umumnya dilakukan oleh perusahaan atau individu. Inovasi dapat berupa aplikasi komersial yang pertama kali dari suatu produk atau proses yang baru,  merupakan sebuah proses kreatif dan interaktif yang melibatkan kelembagaan. Juga dapat diartikan sebagai transformasi pengetahuan kepada produk, proses dan jasa baru atau tindakan menggunakan cara baru. Inovasi dapat berupa eksploitasi yang berhasil dari suatu gagasan baru (the successful exploitation of a new idea), atau dengan kata lain merupakan pemanfaatan pengetahuan, kreativitas dan pengalaman untuk menciptakan produk, proses atau jasa baru.

Inovasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan penelitian, pengembangan atau perekayasaan peengambangan dan penerapan Iptek baru, atau iptek yang telah ada diterapkan dengan metoda baru ke dalam produk atau proses produksi sehingga bermanfaat bagi pengguna. Proses Produksi yang hanya mengandalkan efisiensi tidak pernah bisa bersaing dalam waktu yang lama, karena hasil produksi pada suatu saat akan mengalami kejenuhan sehingga berakibat melemahnya daya saing pasar. Karena itu hasil produksi harus senantiasa diperbaiki baik secara berkala, secara insidentil yaitu ketika terjadi kerusakan yang mengakibatkan kerugian dalam proses produksi atau secara kontinyu (continuous improvement system).

How to increase innovation?

Ada sedikitnya tiga faktor utama yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan inovasi, yaitu kesiapan teknologi, kesiapan Inovasi dan kesiapan manufaktur. Sering ditemukan kekeliruan dalam mensosialisasikan inovasi yang hanya berpatokan pada tingkat kesiapan teknologi, ini adalah anggapan yang tidak sepenuhnya benar, kenapa? karena proses pemanfaatan hasil penelitian masih tergantung kesiapan inovasi dan kesiapan manufaktur.

“Valley of Death” akan menghadang Proses Inovasi jika hanya bertumpu pada ‘Tingkat Kesiapan Teknologi (Technology Readinnes Level)”.

Technology Readinnes Level (TRL) dibagi dalam sembilan Level yaitu TRL Level 1 sampai dengan TRL Level 9. TRL level 1 sampai 3 menjabarkan tentang basic concept teknologi yang diteliti, TRL level 4 sampai 6 menjabarkan tentang hasil penelitian di level laboratorium dan TRL Level 7 sampai 9 menjabarkan tentang hasil penelitian dengan skala industri dan proven technology. Berpedoman pada beberapa hasil penelitian yang dilansir oleh sejumlah perguruan tinggi melaporkan bahwa proses inovasi tidak hanya tergantung  dari TRL atau tingkat kesiapan teknologi, tetapi juga tergantung dari apa  yang disebut dengan IRL (Innovation Readinnes Level).

Setidaknya ada lima enabling factor terhadap suksesnya proses inovasi, yaitu 1) organisasi, 2) kerjasama, 3) teknologi, 4) pasar dan 5) risiko. Kelima faktor tersebut merupakan variable kompleks yang saling tergantung dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, memiliki kekhasan tersendiri untuk jenis inovasi tertentu. Misalnya, Inovasi di bidang energi memiliki kekhasan tersendiri, dan sangat berbeda dengan inovasi di bidang transportasi, teknologi pertanian, teknologi bidang kesehatan dan sebagainya. Kesiapan teknologi hanya mempengaruhi sebagian dari proses Inovasi. Organisasi diperlukan dalam proses inovasi antara lain untuk membangun sistem inovasi termasuk membangun rantai nilai, penguatan pasar, penguatan sumberdaya manusia dan bahan baku. Kerjasama diperlukan terutama untuk memperkuat subsystem dalam proses inovasi, menggalang jejaring sedemikian sehingga proses dapat berjalan secara efektif dan efisien, cepat dan tepat. Teknologi diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah. Pasar merupakan sebuah keniscayaan, tanpa pasar, proses  inovasi tidak akan terjadi. Dalam proses inovasi diperlukan manajemen risiko agar kegagalan inovasi dapat dihindari, hambatan yang muncul dalam proses dan system dapat diminimalisir.

Tingginya “Tingkat Kesiapan Inovasi” tidak dapat menjamin hasil penelitian dapat dimanfaatkan di Masyarakat secara luas, karena masih tergantung dari faktor penentu lain yaitu Tingkat Kesiapan Manufaktur (MRL- Manufacturing Readinnes Level).

Logikanya begini, sebuah penelitian telah menghasilkan produk dengan tingkat kesiapan teknologi tinggi (level 9) berarti teknologi sudah proven, juga telah memiliki tingkat kesiapan inovasi tinggi, yaitu tingkat kesiapan yang terdiri dari aspek pasar, kesiapan organisasi, suku cadang dan lain-lain telah disiapkan dengan prima.

Tetapi ketika suatu hari ada konsumen memesan produk teknologi dalam jumlah besar, waktu singkat dan harus dikirim ke tujuan dalam jarak yang jauh dan kondisi medan yang sulit maka kita harus siap itulah yang disebut dengan tingkat kesiapan manufaktur dan bila kita tidak mampu memenuhinya maka kegagalan akan terjadi, dan masuklah kita pada lembah kematian inovasi. Ketiga jenis kesiapan diatas (TRL, IRL dan MRL) sesungguhnya adalah dalam rangka memenuhi kepuasan konsumen tentang Quality, Cost and Delivery (QCD). Apa yang disebut dengan bentuk, warna, berat, fungsi, suku cadang dan masalah teknis lainnya termasuk umur pakai merupakan veriable yang berpengaruh pada kualitas. Sedangkan harga yang murah, mampu bersaing dengan produk sejenis lainnya, cost and banefit analysis merupakan faktor yang mempengaruhi Harga (Cost) termasuk harga jual, pembelian bahan baku, proses produksi serta suku cadang. Dan Delivery menentukan kecepatan pembuatan, pengiriman dan pesanan.

Apa yang harus dilakukan?

Sebuah penelitian menghasilkan produk teknologi akan memiliki aspek pasar tinggi, bermanfaat dan laku pasar  apabila memiliki tingkat kesiapan teknologi, tingkat kesiapan inovasi dan tingkat kesiapan manufaktur tinggi. Tanpa ketiga kesiapan tersebut sebuah proses inovasi akan tersungkur kedalam lembah kematian (Valley of Death) dan jika sudah masuk dalam lembah ini, sebuah produk inovasi yang kompleks dan panjang itu akan sulit dan bahkan tidak akan pernah bisa bangkit kembali.

Marilah mencermati secara komprehensif dan terstruktur dengan melihat semua aspek di atas dalam melaksanakan penelitian dan pengembang teknologi menjadi produk yang benar-benar laku dipasar, bermanfaat dan murah. Membangun negeri tidak dapat dilakukan sendiri sekaipun dia adalah pakar yang kemampuannya luar biasa, tetapi harus bekerjasama, bersinergi dan bergandeng tangan untuk membangun daya saing melalui proses inovasi inklusif yang menghasilkan nilai tambah tinggi.

Inilah indahnya makna dari sebuah proses Inovasi yang dilakukan oleh para peneliti, perekayasa dan akademisi di bumi pertiwi Indonesia. Hidup Inovasi, Jayalah Indonesia…!!!