DIKTI- Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tahun ini kembali melaksanakan Program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik). Di tahap awal, tahun 2012 dikhususkan untuk daerah Papua dan Papua Barat. Setelah tiga tahun berjalan perluasan cakupan wilayah pun dilakukan hingga ke Nusa Tenggara, Maluku Utara, dan Aceh (3T).

“Afirmasi bukan sekadar program keberpihakan pemerintah untuk daerah Papua dan 3T, melainkan transformasi akademis,” kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, saat membuka kegiatan Pembahasan Pelaksanaan Program Afirmasi Pendidikan Tinggi Papua dan 3T Tahun 2015, Kamis (5/3), di Jakarta.

Pertemuan itu membahas tiga hal, sistem penerimaan, penetapan kuota peserta dan prodi, serta pendampingan mahasiswa. Pendampingan mencakup pembinaan kultur akademis.

 Tahun ini telah disiapkan 900 kuota calon penerima beasiswa ADik dengan alokasi 500 calon untuk daerah 3T dan 400 calon untuk Provinsi Papua dan Papua Barat. Meskipun telah berjalan di tahun keempat, beberapa perguruan tinggi pelaksana mengaku kesulitan dalam menerima dan membina mahasiswa afirmasi.

Program Afirmasi, lanjut Nasir, tidak otomatis menurunkan standar penerimaan. Para siswa diberi matrikulasi setidaknya satu tahun sebelum kuliah. Usulan matrikulasi disampaikan di awal pelaksanaan program ini. Mereka diberi kesempatan mengenal lingkungan kampus selama satu tahun untuk beradaptasi sehingga mengurangi risiko drop-out. B

Rektor Universitas Papua, Suriel Mofu, mengungkapkan bahwa animo anak Papua mengikuti program ini semakin meningkat dari tahun ke tahun. Di awal program ini, lanjut Mofu, memang terjadi kesulitan dalam membujuk siswa Papua untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

“Tapi sekarang mereka rebutan. Maka saya minta kuota untuk calon peserta dari Papua dan Papua Barat jangan dikurangi. Ini bukan untuk kepentingan Papua. Seusai merampungkan pendidikan, mereka diharapkan berkarya bahkan memimpin daerah lain di luar Papua,” katanya.

Hadir dalam pertemuan itu 39 Rektor Perguruan Tinggi Negeri dan 22 Direktur Politeknik pelaksana Program Afirmasi. Politeknik Negeri Bali, misalnya, pernah menerima empat mahasiswa Papua yang memilih program studi pariwisata. Permasalahan senada yang dialami PTN/Politeknik pelaksana Afirmasi adalah kesulitan membina kultur akademik, terutama perlakuan khusus kepada peserta yang seringkali berbenturan dengan aturan pembelajaran di kampus. Meskipun demikian, Rektor Universitas Diponegoro, Sudharto, mengatakan bahwa pada tahun ketiga ada peningkatan kualitas disiplin akademis dari mahasiswa Afirmasi.

Pendaftaran seleksi calon peserta Program Afirmasi tahun 2015 ini akan dibuka mulai 28 Maret. Penyelenggara seleksi adalah Ditjen Dikti. Sementara, PTN/Politeknik pelaksana dilibatkan dalam penetapan kelulusan peserta yang dijadwalkan pada 1 Juni 2015. Seleksi akan dilakukan bertahap yang mencakupi seleksi khusus Afirmasi Pendidikan Tinggi di provinsi terkait dan SNMPTN-SBMPTN jalur Afirmasi. (NRS)