Mahasiswi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Serena Pynta Phenomenon, menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam International Forestry Students’ Symposium (IFSS) ke-45 di Afrika Selatan. IFSS merupakan ajang tahunan terbesar yang diselenggarakan oleh International Forestry Students’ Association (IFSA) yang merupakan satu-satunya organisasi independen mahasiswa kehutanan dan lingkungan hidup di dunia. IFSA memiliki 87 komite lokal yang tersebar di lebih dari 40 negara di seluruh dunia.

Setiap tahun, IFSA Local Committee UGM mengirimkan delegasinya untuk mewakili Indonesia di simposium tingkat internasional ini. IFSS ke-45 diselenggarakan oleh lima komite lokal di Afrika Selatan yang terdiri atas Nelson Mandela Metropolitan University, Fort Cox University, University of Pretoria, University of Stellenbosch,  dan University of Venda. IFSS kali ini mengangkat tema “Practicing forestry in a diverse environment: Siyaphi (where to from here)” yang dihadiri 121 delegasi dari 48 komite lokal dan 32 negara. Terdapat lima agenda utama dalam simposium yang diselenggarakan pada 2-17 Juli 2017 ini, diantaranya sidang umum,  serangkaian IFSA workshop, presentasi paper dan poster, kuliah umum, kunjungan lapangan dan budaya, serta international night.

Pada simposium internasional ini, Serena mempresentasikan karya ilmiah yang disusun bersama rekan mahasiswa Kehutanan UGM lainnya, Alnus Meinata, dengan judul “City of Philosophy: Evaluation of Yogyakarta Philosophical Axis based on Tree Architecture and its Philosophy towards UNESCO World Heritage”. Hasil penelitian ini merupakan bagian dari penelitian Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D. mengenai jenis, arsitektur dan filosofi pohon pada sumbu filosofi Yogyakarta yang dibiayai oleh dana DPP Fakultas Kehutanan UGM.

“Penelitian ini ingin mengenalkan dan mengevaluasi konsep arsitektur dan filosofi pohon yang menjadi salah satu bagian dari City of Phylosophy yang telah diusulkan menjadi UNESCO World Heritage pada 14 Maret 2017,” jelas Serena, Kamis (7/9).

Serena mengikuti seluruh agenda IFSS termasuk agenda utama dalam IFSS ke-45 yakni Sidang umum IFSA ke-28. Dalam sidang umum ini, diadakan pemberian laporan tahunan dari kepengurusan sebelumnya, pembuatan rencana kerja dan strategi IFSA selama satu tahun mendatang, serta pergantian pengurus IFSA. Serena terpilih menjadi Liaison Officer untuk salah satu partner profesional IFSA yaitu Center for International Forestry Research  (CIFOR). CIFOR merupakan salah satu institusi penelitian kehutanan terbesar di dunia yang bermarkas di Bogor.

Serena berpendapat bahwa peran pemuda sebagai agen perubahan di kancah global tidak dapat diwujudkan maksimal apabila tidak didukung dengan kemampuan berkomunikasi dan membangun jaringan. “Saya berharap akan ada lebih banyak kesempatan dan dukungan bagi pemuda Indonesia untuk berpartisipasi dalam ajang-ajang internasional, khususnya di bidang kehutanan,” tegas Serena. (Humas UGM/Catur)