PIH UNAIR -“ Tiga mahasiswa Universitas Airlangga mengikuti konferensi internasional yang diselenggarakan di Universitas Oxford, Inggris, 16 – 18 Agustus 2017 lalu. Konferensi yang menjadi ajang bertemunya akademisi dari berbagai negara itu diadakan oleh lembaga penelitian Asia Tenggara terbesar di Eropa, European Association for South East Asian Studies (EUROSEAS).

Ketiga mahasiswa itu adalah Dirgandaru G. Waskito (Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/2014), Tamara Meiliana Siswanto (Ilmu Hukum Fakultas Hukum/2014), dan Rinaldi Yoga Tamara (Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis/2013).

Konferensi yang diadakan tiap dua tahun sekali itu diikuti oleh sekitar 500 peserta yang berasal dari berbagai negara di dunia, seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia, hingga Indonesia. Sebanyak 300 peserta diantaranya adalah sebagai presenter.

Mereka mempresentasikan makalah dengan judul Indonesia’s Urgency on Ratifying The AATHP Agreement: A Long-term Sustainable Resolution Commitment. Makalah itu dipresentasikan pada panel ‘The Politics of Climate Change’.

Dije sapaan akrab Dirgandaru G. Waskito mengatakan, topik yang ia dan tim presentasikan adalah pengaruh lingkungan pengambilan kebijakan di tingkat domestik dan internasional di Indonesia.

“Kami bertiga memiliki kepedulian pada topik-topik bidang lingkungan. Untuk itu kami mempresentasikan topik itu di sana,” ujar Dije selaku ketua tim.

Mahasiswa Hubungan Internasional itu mengaku senang dapat mengikuti konferensi internasional di Oxford. Selain berbagi pengalaman dengan ratusan akademisi dari puluhan negara, di Oxford ia dapat mengunjungi tempat-tempat yang selama ini hanya bisa lihat di film-film produksi Hollywood.

“Kami bisa melihat gedung-gedung tua seperti benteng dengan usia mencapi ratusan hingga ribuan tahun yang sering digunakan untuk syuting beberapa film Hollywood ternama, seperti Transformers dan Harry Potter,” ungkap mahasiswa yang telah mengikuti ajang internasional sebanyak tiga kali itu.

Sementara Meily sapaan karib Tamara Meiliana Siswanto mengatakan, konferensi internasional ini adalah pertama kali bagi dirinya.

“Bagian pengalaman yang sangat menarik karena bisa presentasi di depan profesor-profesor dari berbagai universitas di seluruh belahan dunia serta dianggap sebagai researcher dari UNAIR,”tuturnya.

Sementara Rinaldi yang juga Wakil Ketua BEM UNAIR tahun 2017 menganggap konferensi kali ini sebagai pengalaman yang tak akan terlupakan. Apalagi dalam konferensi itu, mereka tercatat sebagai pemakalah termuda dari seluruh peserta yang ada.

“Kami adalah satu-satunya presenter yang masih undergraduate dan kami mempresentasikan karya kami di hadapan profesor, asisten profesor, dan mahasiswa S-2 maupun S-3 dari berbagai belahan dunia,” ujar mahasiswa yang pernah mengikuti ASEAN Forum 2014 di National University of Singapore ini. (PIH UNAIR)