Mahasiswa Universitas Gadjah Mada berhasil menyabet penghargaan “Most Diplomatic Awarad” dalam ASEAN Foundation’s Model ASEAN Meeting (AFAM) 2017 di Manila pada 25-30 September lalu.

Penghargaan tersebut diraih oleh Angelo Abil Wijaya, mahasiswa Departemen Hubungan Internasional FISIPOL UGM. Dalam kompetisi tersebut Angelo menjadi delegasi Indonesia bersama dengan enam mahasiswa lainnya dari UGM, UI dan ITS.

Mereka adalah  Made Deninta Ayu Dhamayanti (HI UI 2014), Maulana Syarif Habibi (Teknik Mesin ITS 2014), Muhammad Habib Abiyan Dzakwan (HI UI 2014), Muhammad Radhiyan Pasopati Pribadi (Politik UI 2014), Neta Cynara Anggina (HI UI 2014), dan Wyncent Halim (Hukum UGM 2014). Delegasi Republik Indonesia untuk AFMAM kali ini didampingi oleh Rakhmat Syarip (Dosen HI UI) selaku faculty advisor.

Angelo menyampaikan dalamkegiatan tahun ini mengangkat tema “Anticipating the Environmental Displacement of People in Asean due to Global Climate Change”. Konferensi diikuti lebih dari 80 peserta dari 10 negara anggota ASEAN, antara lain Brunei Darussalam, Cambodia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, the Philippines, Singapore, Thailand, dan Vietnam.

Sebelumnya, para peserta diseleksi terlebih di tingkat nasional. Angleo dan tim  harus bersaing dengan lebih dari 70 tim lainnya dari berbagai daerah di Indonesia. Sementara di tingkat ASEAN, mereka harus berkompetisi dengan 120 tim dari berbagai negara di ASEAN untuk dipilih satu tim yang mewakili masing-masing negara.

“Dari jumlah tersebut, hanya dipilih satu tim untuk mewakili masing-masing negara di konferensi yang diselenggarakan di Filipina ini,” jelas Angelo dalam rilis yang dikirim Rabu (18/10).

Dalam konferensi tersebut delegasi Indonesia mampu menunjukkan kebolehannya dalam bernegosiasi dan berdiplomasi. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan dalam memborong sejumlah penghargaan. Selain penghargaan “Most Diplomatic Award” yang diterima oleh Angelo di Pilar Komunitas Ekonomi ASEAN, beberapa anggotanya pun berhasil mencetak prestasi yang membanggakan. Penghargaan “Most Diplomatic Award” diraih oleh Muhammad Habib Abiyan Dzakwan di Pilar Komunitas Sosio-Kultural ASEAN dan “Most Diplomatic Award” yang diterima oleh Neta Cynara Anggina.

“ Delegasi Republik Indonesia juga mendapatkan dua penghargaan, yaitu “Most Diplomatic (Country) Award” dan “Best Delegation Award”,” imbuh Angelo yang saat ini tengah menjalani pertukaran pelajar di University of Glasgow, Inggris Raya.

Angelo mengatakan bahwa konferensi ini diwarnai dengan diskusi yang sangat konstruktif. Masing-masing delegasi menyampaikan gagasan dan solusi yang cemerlang serta dapat diaplikasikan di tingkat ASEAN.

“Yang sangat menarik adalah bahwa isu di tingkat ASEAN ternyata dibahas dari berbagai sudut pandang sebelum para pengambil keputusan menentukan kebijakan yang akan diambil”, tuturnya.

Angelo mengaku mendapatkan banyak pengalaman dan teman baru pada konferensi kali ini. Menurutnya konferensi ini memberikan pengaruh positif bagi generasi muda di negara-negara ASEAN. (Humas UGM/Ika)