MESIN Polnep Diesel Team menargetkan kembali meraih predikat Juara 1 Shell Eco-Marathon Asia untuk urban concept diesel seperti pada tahun 2014. Pada Shell Eco-Marathon Asia, 16-19 Maret 2017, Polnep mendaftarkan empat tim; masing-masing dua tim pada urban concept diesel dan petroleum. Satu tim yang diterima panitia dan lolos seleksi nasional bersama universitas top di pulau Jawa.

Direktur Polnep, HM Toasin Asha, menyampaikan lembaga mendukung penuh upaya tim. “Kalau dilihat dari persiapan anak-anak dan pembimbing, tahun ini lebih bagus, mereka kerja siang malam. Besar harapan kami bisa kembali dapat Juara 1, seperti tiga tahun lalu,” ujarnya, ditemui di Jurusan Mesin, Kamis, 2 Februari 2017.

Ia ingin tiap jurusan memiliki trade mark atau icon untuk meningkatkan kreativitas mahasiswa, seperti Urban Concept Shell Eco-Marathon pada Jurusan Mesin. Kreativias mahasiswa menjadi salah satu indikator peringkat bagi Polnep untuk dapat masuk dalam 100 perguruan tinggi di Indonesia. “Harapan saya, pengiriman unit pada hari minggu bisa berjalan baik. Kami berdoa, mudah-mudahan tahun ini bisa sukses,” katanya.

Kajur Mesin, H Widodo PS menyatakan, tahun lalu di Manila dengan 11 lap, tim Polnep berhasil menduduki peringkat kedua. Tetapi karena kelebihan satu lab, tim harus didiskualifikasi. “Kalau mau dihitung lagi dengan 10 lap, kami bisa bersaing ketat dengan ITS yang juara 1 waktu itu. Mudah-mudahan tahun ini bisa tercapai,” ujarnya.

Menurutnya, unit urban concept idealnya memerlukan dana Rp40-50 juta. Khatulistiwa Line 5 menghabiskan dana sekitar Rp35 juta. “Memang di bawah ideal, kami buat seminimal mungkin dengan bodi alakadarnya, tapi sudah memenuhi persyaratan. Insya Allah, tahun depan lebih baik lagi dengan dukungan dana sesuai kebutuhannya,” katanya.

Tim Polnep terdiri dari mahasiswa semester V Jurusan Mesin: Dovian Iswanda (tim manajer) dan Edy Saputra; semester 3 Mesin: Faino, Fiqi Mestiwan, dan Andri Haryadi; dan semester 3 Elektro: Ryan Reynaldi. Dosen pembimbing Topan Prihantoro MT dan Kajur Mesin H Widodo PS MT.

“Urban concept kali ini kami meniru bentuk titisan air. Kendaraan ini kami namakan Khatulistiwa Line 5, meneruskan seri sebelumnya,” ujar Dovian, bersama tim dan dosen pembimbing di bengkel Jurusan Mesin, Kamis, 2 Februari 2017. Pengerjaan Khatulistiwa Line 5 mereka mulai sejak November 2016, dengan berbekal mesin diesel Yanmar. “Chasis kami pakai baja ringan dan bodi fiber glass,” tambahnya.

Khatulistiwa Line 5 telah menjalani beberapa kali tes. “Tes efisiensi kami jalankan sejak Senin kemarin (30/1). Data yang didapat mulai 72 kilometer per liter, 80 km/liter, 98 km/liter, dan 120 km/liter. Malam ini (2/2), rencananya tes terakhir, target kami bisa capai 150 km/liter. Kami tes pakai bahan bakar pertamina dex,” ujarnya.

Topan menyampaikan, Khatulistiwa Line 5 mengunakan mesin diesel 150cc-5HP. Untuk dapat melakukan tes, tim harus menunggu hingga tengah malam, ketika jalan sepi. Tes mengunakan track Jl Ahmad Yani 2, sepanjang 12 kilometer. Selain efisiensi bahan bakar, panitia Shell Eco-Marathon juga menilai emisi gas buang dan efisiensi pengunaan listrik.

“Di sana diukur, selesai melalui 10 lap, berapa konsumsi energi listrik yang digunakan,” katanya. Tahun lalu terjadi kesalahan overlap sehingga tim didiskualifikasi. Padahal dari tingkat efisiensi bahan bakar tim mencapai peringkat 2. “Untuk itu, tahun ini, kami lebih membangun komunikasi dengan tim saat race, terutama driver. Kami perbaiki sistem pengereman. Berat kendaraan pun lebih ringan, tahun lalu 120 kg, tahun ini 116 kg. Insya Allah, tahun depan kami kurangi lagi bebannya,” pungkas Topan. (Erwandi-Pranata Humas Muda)

dsc_0035-edit