Jakarta, 21 Januari 2015 – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir dan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi B. Sukamdani menandatangani nota kesepahaman tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat di Lingkungan Perguruan Tinggi. Penandatanganan nota kesepahaman ini disaksikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kepala BKPM Franky Sibarani, Ketua Forum Rektor Indonesia Ravik Karsidi dan undangan lain baik dari kalangan pengusaha yang tergabung dalam Apindo maupun rektor perguruan tinggi yang tergabung dalam Forum Rektor Indonesia di Istana Wakil Presiden pada rabu (21/1).

Pada kesempatan tersebut juga ditandatangani perjanjian kerja sama antara Forum Rektor Indonesia dengan Apindo sebagai implementasi dari nota kesepahaman tersebut yang akan segera ditindaklanjuti dengan kerja sama teknis antara Apindo provinsi dengan perguruan tinggi di wilayahnya. Ruang lingkup kerja sama antara Kemeristekdikti dengan Apindo antara lain pemagangan kerja bagi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi untuk bidang-bidang keilmuan yang relevan, penelitian dan pemanfaatan hasil penelitian, pelatihan dan jasa konsultasi, pengabdian pada masyarakat, dan pertukaran informasi tentang ketersediaan dan kebutuhan Sumber Daya Manusia pada dunia usaha.

Penandatangan nota kesepahaman ini dimaksudkan untuk mendorong peningkatan kerja sama antara perguruan tinggi dengan sektor usaha dan industri melalui pengembangan sumber daya manusia, penelitian dan pengabdian pada masyarakat di lingkungan perguruan tinggi dan dunia usaha. Dalam sambutannya, Menristekdikti berharap bahwa perguruan tinggi melalui tridarma pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan produk-produk intelektual berupa Hak Kekayaan Intelektual, publikasi serta inovasi yang siap dimanfaatkan oleh masyarakat dan sektor industri. Melalui produk inovasi, perguruan tinggi berperan strategis dalam mewujudkan masyarakat berbasis pengetahuan dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa. Oleh sebab itu sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah mutlak harus dilakukan. Ketiga pihak tersebut harus bekerja sama. Perguruan tinggi sebagai lembaga riset bertindak sebagai penghasil ilmu dan pengetahuan baru yang mendorong tumbuhnya modus-modus ekonomi. Sektor usaha bekerja pada bidang produksi. Sedangkan pemerintah bekerja sebagai mediator dan fasilitator.

Dalam arahannya, Wakil Presiden Jusuf Kalla menginginkan perguruan tinggi dapat ‘berjodoh’ dengan kalangan usaha untuk berkembang bersama. “Pendidikan dasarnya dari mana? Dasarnya dari peningkatan ekonomi juga. Tidak mungkin kita bisa membiayai pendidikan kita kalau ekonomi kita tidak tumbuh. Jadi itu suatu perputaran, hubungannya antara produktivitas, ekonomi, teknologi kita berputar. Itu lah perputarannya yang harus kita padukan,” ujar Jusuf Kalla. Menurut Jusuf Kalla, faktor produksi terdiri dari tiga hal, resources, sistem kerja dan skill dan kesemuanya harus saling menundukung satu sama lain. Sebuah perusahaan akan berkembang dengan pesat jika ditopang dengan teknologi. Dari semua hal itu yang paling penting adalah bagaimana meningkatkan kemajuan bangsa dengan mengembangkan kemampuan teknologi dan skill masyarakat. Menurut Jusuf Kalla, kerja sama antara perguruan tinggi dengan kalangan usaha sangat penting dalam meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi, termasuk membangun kesiapan lulusan perguruan tinggi untuk terjun di dunia usaha.