Refleksi Pemikiran Prof Bungaran Saragih atas Pembangunan Pertanian Indonesia

Prof Bungaran Saragih adalah Guru Besar IPB University di bidang agribisnis. Kiprah dan pemikirannya telah menjadikannya sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh. Pemikirannya atas pembangunan pertanian telah ia tumpahkan dalam tulisan dan ikut didiskusikan oleh media mainstream dan masyarakat. Bahkan hingga saat ini, pemikirannya masih sangat relevan dengan kebijakan Pembangunan Pertanian di masa kini dan mendatang.

Dr Bayu Krisnamurthi, Dosen IPB University dari Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) menyebutkan pemikiran Prof Bungaran dalam tiga buku Suara Agribisnis patut direfleksikan. Ia menyebut refleksi tersebut sebagai “Suara Guru Agribisnis yang Konsisten”. Tulisan Prof Bungaran secara konsisten membawakan pemikiran agribisnis dalam bahasa umum dan sederhana. Namun masih dapat memberikan pemahaman yang mendalam atas isu agribisnis yang kompleks.

Buku Suara Agribisnis tersebut dinilai menjadi ‘saksi sejarah’ bahwa meskipun sudah melewati lebih dari satu dekade, beberapa isu agribisnis ternyata belum dapat diselesaikan. Misalnya mengenai impor beras maupun perkebunan sawit.
Konsistensi isi buku tersebut tentunya tidak lepas dari konsistensi sikap dan pemikiran Prof Bungaran sendiri. Dalam sambutan atas penerbitan Suara Agribisnis yang pertama di tahun 2010, Wakil Menteri Pertanian menyatakan bahwa baik sebagai pemikiran ataupun paradigma, sebagai strategi pembangunan pertanian, sekaligus strategi pembangunan ekonomi nasional memang sangat melekat dengan sosok Prof Bungaran.

Baca Juga :  Workshop Penyiapan Kegiatan Prospek untuk Maba UM

Baru setelah memimpin Pusat Studi Pembagunan IPB University menjelang pertengahan tahun 90-an, Prof Bungaran menggali pemahaman akan hulu hilir dalam rangkaian sistem pertanian. Pemikiran yang konsisten tersebut bahkan dibawakannya dan diterapkannya saat menjabat sebagai Menteri Pertanian periode tahun 2000-2004.

“Jadilah pengembangan sistem dan usaha agribisnis resmi menjadi strategi pembangunan pertanian dan coba dijalankan sepenuhnya oleh Kementerian Pertanian RI,” sebutnya dalam kegiatan Bedah Buku “Suara Agribisnis : Kumpulan Pemikiran Bungaran Saragih” yang diadakan oleh Majalah Agrina bekerja sama dengan Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, (19/04).

Mengenai permasalahan yang berulang dan tampak tidak selesai, ketiga buku Prof Bungaran memberikan indikasi yang jelas mengenai akar permasalahannya. Utamanya karena cara pandang sesuai paradigma sistem dan usaha agribisnis belum sepenuhnya dipahami dan dilakukan. Selain itu, pembangunan sistem dan usaha agribisnis membutuhkan waktu dan proses.

Baca Juga :  Prof. Dr. Rahmat Nurcahyo, Guru Besar UI: Dedikasi Pimpinan, Kunci Utama Atasi Kendala Implementasi ISO 9001

Lebih lanjut, pengetahuan dan pemahaman sistem dan usaha agribisnis itu sendiri belum berkembang secepat perkembangan situasi dan kondisi riilnya.  Sehingga masih membutuhkan penyempurnaan yang sesuai tuntutan saat ini.

“Banyaknya pertanyaan yang belum terjawab itu bukan berarti Pak Bungaran dan Suara Agribisnis-nya telah gagal. Bahkan sebaliknya, justru itu menunjukkan keberhasilan Pak Bungaran yang konsisten menjadi seorang guru,” imbuhnya.

Ia menyebutkan seorang guru yang baik adalah yang mampu mendorong timbulnya pertanyaan-pertanyaan baru dalam pikiran muridnya. Tetapi seorang guru yang istimewa adalah guru yang mampu menginspirasi tumbuhnya kerangka berpikir dalam diri muridnya untuk menjawab pertanyaan di masa kini dan masa depan. Selain itu mampu menjembatani dan mendorong muridnya sekaligus membangun keyakinan bahwa murid itu akan mampu membangun jembatan ke masa berikutnya. (MW/Zul)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
145 Views

Terimakasih telah mengunjungi laman Dikti, silahkan mengisi survei di bawah untuk meningkatkan kinerja kami

Berikan penilaian sesuai kriteria berikut :

  • 1 = Sangat Kurang
  • 2 = Kurang
  • 3 = Cukup
  • 4 = Baik
  • 5 = Sangat Baik
x