Menjaga asa petani Kopi Sumber Wringin, untuk bisa ekspor

Jember, 30 Juni 2021

Semenjak 29 juli 2020 lalu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Jember bekerjasama dengan PT. Astra Internasional membina petani kopi di enam desa di wilayah Kecamatan Sumber Wringin, Bondowoso. Yakni Desa Sukorejo, Sukosari Kidul, Tegal Jati, Sumber Wringin, Sumber Gading dan Rejo Agung. Kesemuanya adalah desa di daerah penyangga Kawah Ijen yang menghasilkan kopi Arabika. Kopi bermutu tinggi Raung-Ijen ini sudah terkenal memiliki cita rasa khas yang disukai penikmat kopi. Namun, sayangnya keterkenalan kopi Raung-Ijen ini belum sepenuhnya berdampak nyata bagi petani. Hasil panen petani dihargai rendah oleh tengkulak.

Bertolak dari kenyataan ini, LP2M Universitas Jember bekerjasama dengan PT. Astra Internasional membantu petani, dari sisi teknis penanaman kopi, penguatan kelembagaan hingga pemasaran. Salah satu cara yang ditempuh adalah menghubungkan petani dengan buyer secara langsung agar petani mendapatkan harga yang fair. Tentu saja kerja besar ini membutuhkan kerjasama dengan semua pihak, pentahelix istilahnya. Dimana pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, dan media bersatu padu berkoordinasi serta berkomitmen untuk mengembangkan potensi lokal. Pada Sabtu (26/6) lalu Humas Universitas Jember berkesempatan menyaksikan bagaimana kolaborasi pentahelix ini dalam membantu menjaga asa petani kopi Sumber Wringin untuk bisa mengekspor kopi Raung-Ijen mereka.

            Tarian Mulong Kopi atau panen kopi yang ditarikan enam gadis cilik menyambut kami di area hamparan tanaman kopi yang dinaungi tegakan pohon-pohon pinus milik Perum Perhutani di Desa Sukorejo. Memang lokasi pertemuan kami ada di lahan hutan milik Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Bondowoso. Petani koopi diberikan kesempatan mengelola hutan milik Perum Perhutani dalam kerangka program perhutanan sosial. Suasana pagi yang sejuk khas pegunungan, pemandangan alam yang asri ditambahi seruputan kopi Raung-Ijen mampu menjadi penambah semangat di tengah kabar naiknya penderita Covid-19 di Indonesia. Semua yang hadir tampak mengenakan masker mengikuti protokol kesehatan yang berlaku.

            Hari itu petani kopi Kecamatan Sumber Wringin akan melakukan panen kopi Arabika yang dinamakan Raung-Ijen, sambil berdiskusi dengan para pemangku kepentingan. Butiran buah kopi merah siap panen memenuhi sekeliling kami. Hadir dalam kesempatan ini Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir, staf ahli bidang hubungan antar lembaga Kemendes PDTT, Samsul Widodo, juga Ketua LP2M Universitas Jember, Prof. Yuli Witono beserta jajarannya. Tampak pula anggota Komisi C DPRD Jawa Timur, Ahmad Hadinuddin, perwakilan PT. Astra Internasional, Bima Krida Arya, perwakilan Bank Jatim Bondowoso, perwakilan Perum Perhutani, Muspika Kecamatan Sumberwringin serta Kepala Desa Sukorejo, Sumarni.

Di sela-sela acara saya menyempatkan diri ngobrol dengan Pak Anwar, petani kopi setempat. Menurutnya sekali panen dirinya bisa mendapatkan hasil 2 hingga 3 ton kopi dari setengah hektar lahan miliknya. Setahun kopi bisa dipanen dua kali jika dirawat dengan baik. “Selama ini saya menjual kopi secara glondongan, biasanya dihargai paling tinggi 9 ribu rupiah per kilogramnya. Sebenarnya harga kopi akan lebih tinggi jika diolah. Biji kopi yang sudah diolah dengan melewati penjemuran yang baik bisa mencapai harga 250 ribu perkilogramnya. Harga makin tinggi jika sudah diolah menjadi kopi bubuk. Tapi saya butuh uang segera, sementara modal untuk mengolah kopi belum ada,” tutur Pak Anwar yang sudah lima tahun bertanam kopi.

Baca Juga :  Sambut Hari Lebah Sedunia, Pakar IPB University Bicara Faktor Berpengaruh pada Populasi Lebah di Indonesia

            Permasalahan pemasaran dan permodalan yang dihadapi petani kopi ini persis sama dengan penjelasan yang diberikan oleh Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir. Menurutnya petani kopi Bondowoso sudah paham benar bagaimana bertanam kopi, tapi pemasaran masih menjadi ganjalan. Seringnya petani menjual hasil panennya ke tengkulak atau pengijon. “Pengijon datang saat tanaman kopi sudah berbunga, dibelinya dengan harga 4 ribu per kilogram saja, padahal empat lima bulan kemudian di saat panen kopi harganya di pasaran sudah mencapai 9 ribu rupiah. Artinya keuntungan pengijon sudah mencapai 40 persen,” katanya.

            Kedua, banyak pembeli kopi Raung-Ijen hasil Bondowoso, namun mereka memilih memberi merk tertentu sehingga hilang lah nama Bondowosonya. “Saya ingin kopi dari Bondowoso membawa nama Bondowoso, agar daerah kita makin dikenal, agar wisatawan tertarik datang dan memberi dampak ekonomi berganda bagi Bondowoso. Saya minta Universitas Jember dan PT. Astra Internasional menjadi orang tua asuh yang mampu membantu mencari pembeli dan memasarkan langsung kopi Bondowoso tanpa melewati tengkulak. Membantu pendampingan bagi Bumdes yang akan mengolah kopi.  Saya juga mohon pihak perbankan dalam hal ini Bank Jatim mau memberikan kredit lunak bagi petani kopi kita,” imbau Ahmad Dhafir.

            Permintaan Ketua DPRD Bondowoso diamini oleh Ketua LP2M Universitas Jember. Menurut Prof. Yuli Witono, Universitas Jember akan konsisten membantu petani kopi di Bondowoso, apalagi penelitian kopi sudah masuk dalam Rencana Induk Penelitian (RIP) LP2M. “Universitas Jember tidak mau menjadi menara gading, berjarak dengan masyarakat. Pendampingan sudah berjalan bukan hanya melalui kerjasama dengan PT. Astra Internasional, namun juga melalui program KKN dan pengabdian kepada masyarakat oleh para dosen. Bentuk-bentuk pendampingan akan lebih mudah apalagi kita sudah membuka kampus di Bondowoso,” ungkap Prof. Yuli Witono. 

            Bagi Prof. Yuli Witono, persoalan petani kopi bukan hal yang asing baginya, pasalnya orang tuanya di Dampit, Malang adalah juga petani kopi. “Pendampingan oleh LP2M Universitas Jember selanjutnya akan fokus pada bagaimana memasarkan kopi petani Bondowoso, serta penguatan kelembagaan bagi Bumdes yang sudah didirikan. Rencananya setelah acara ini akan ada pertemuan bisnis dengan para pembeli potensial dengan difasilitasi oleh Universitas Jember, Kemendes PDTT dan PT. Astra Internasional,” kata Prof. Yuli Witono.

            Fokus membantu petani kopi di bidang pemasaran juga diutarakan oleh perwakilan PT. Astra Internasional, Bima Krida Arya. Menurutnya PT. Astra Internasional kini menjalankan program Desa Sejahtera Astra hingga tahun 2022 nanti. Program Desa Sejahtera Astra fokus pada empat hal, yakni penguatan kelembagaan, bantuan sarana dan prasarana, akses pemasaran dan bantuan permodalan. “Target kami akan membantu usaha kecil menengah di bidang kopi hingga mereka yang semula adalah penggerak bakal menjadi local hero di tahun 2022 nanti,” kata Bima Krida Arya.

Baca Juga :  Desain Mahasiswa ITS Sabet Medali Emas dan Predikat Gagasan Terbaik pada Ajang Bharatika Creative Design Fest 2021 Kategori Desain Interior

            Sementara itu Samsul Widodo dari Kemendes PDTT mengajukan usul menarik, yakni pembukaan sekolah atau kursus yang mengajarkan segala hal terkait kopi. Mengapa harus sekolah kopi? Sebab anak-anak muda saat ini enggan meneruskan profesi orang tuanya sebagai petani kopi. Di sekolah kopi, anak-anak muda ini akan belajar kopi dari A hingga Z, dari menanam, merawat, memanen, pemasaran hingga jadi barista handal. “Mungkin orang tua lebih fokus pada produksi kopi, tapi pemasaran libatkan anak-anak muda yang akrab dengan teknologi informasi dan komunikasi,” katanya.

            Alumnus FISIP Universitas Jember ini lantas mencontohkan kisah sukses Sekolah Kopi Gemawang di Kabupaten Temanggung. “Sekolah Kopi Gemawang dirintis oleh Bu Camat Gemawang, sekolahnya gratis bagi anak-anak muda sekitar yang ingin menjadi wirausaha kopi. Dan ternyata lulusannya berhasil menggerakkan bisnis kopi di Gemawang, akhirnya regenerasi petani kopi pun sukses berjalan,” ujar Samsul Widodo yang hari itu juga mengajak perwakilan Lion Parcel yang akan memfasilitasi petani dalam mengirimkan produknya ke seluruh wilayah Indonesia.

            Hari semakin siang, diskusi makin gayeng kala para petani kopi Kecamatan Sumber Wringin mengutarakan permasalahan yang mereka hadapi. Seperti Pak Sholeh yang minta agar ada penyuluh pertanian khusus kopi yang ditempatkan di Kecamatan Sumber Wringin. Sementara Bu Sundari yang mewakili kelompok Srikandi Kopi menyampaikan kendala susahnya proses mencari ijin legalitas atas produk-produk yang mereka hasilkan seperti masker kecantikan dari kopi, sabun kopi dan lainnya. Acara kemudian ditutup dengan pelantikan pengurus Bumdes RAISA (Raung Ijen Sumber Wringin Agropolitan) dan panen kopi secara simbolis.

            Di lain kesempatan, rasa optimis kopi Raung-Ijen bisa dikenal dan diekspor hingga ke luar negeri disampaikan oleh Sekertaris I LP2M Universitas Jember, Ali Badrudin, saat ditemui di kantornya (30/6). Seusai kegiatan panen kopi di Sukorejo, timnya mengadakan pertemuan secara daring dengan kurator kopi yang juga sekaligus roastery handal asal Bandung, Ferry Kusnadi. “Dari diskusi yang kita lakukan, disepakati kita akan mengirimkan contoh kopi Raung-Ijen untuk menjalani proses penyangraian oleh Ferry Kusnadi. Dari hasil penyangraian ini nanti kita akan tentukan akan kita tawarkan kepada pembeli dari mana? Sebab setiap pembeli punya selera dan keinginan masing-masing. Tapi secara umum kopi Raung-Ijen Sumber Wringin diakui memiliki cita rasa khas, layak menyandang nama speciality coffee,” ungkap Ali Badrudin.

            LP2M Universitas Jember bersama PT. Astra Internasional pun sudah mempersiapkan laman untuk memasarkan kopi Raung-Ijen, namanya kopiraisa.com yang tidak hanya memasarkan produk kopi saja, tapi juga produk kreatif Bumdes di Kecamatan Sumber Wringin. “Sebenarnya permintaan kopi Raung-Ijen untuk memenuhi pasar lokal dan nasional masih terbuka lebar, tapi kita ingin memasarkan ke luar negeri agar keuntungan yang didapat oleh petani makin meningkat. Kuncinya petani harus bisa menjaga kualitas kopinya,” pungkas Ali Badrudin.               Target petani kopi di Sumber Wringin Bondowoso untuk memasarkan kopi Raung-Ijen memang baru dirintis. Memang bukan perjalanan yang ringan namun bukan juga mimpi di siang bolong. Kuncinya tentu kerjasama dan kolaborasi  melalui pentahelix. Dimana pemerintah melalui Pemkab dan DPRD Bondowoso hadir, akademisi diwakili oleh Universitas Jember, PT. Astra Internasional dan Bank Jatim turut membantu warga Sumber Wringin. Semuanya bersatu padu berkoordinasi serta berkomitmen untuk mengembangkan potensi Sumber Wringin pada khususnya dan Bondowoso secara keseluruhan pada umumnya. Semua hadir membantu menjaga asa petani kopi Sumber Wringin untuk bisa mengekspor kopi Raung-Ijen mereka.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
537 Views

Terimakasih telah mengunjungi laman Dikti, silahkan mengisi survei di bawah untuk meningkatkan kinerja kami

Berikan penilaian sesuai kriteria berikut :

  • 1 = Sangat Kurang
  • 2 = Kurang
  • 3 = Cukup
  • 4 = Baik
  • 5 = Sangat Baik
x