DR. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.EngBerbicara tentang kemacetan lalu-lintas mencuat ketika terjadi kecelakaan pada lebaran tahun ini di ujung gerbang tol di Brebes-Exit (Brexit)  sehingga mengakibatkan sedikitnya 17 korban meninggal. Fenomena macet pulang mudik saat lebaran selalu menuai berbagai masalah yang tidak pernah ada habisnya. Pasalnya, pertumbuhan jumlah mobil dan sepeda motor meningkat drastis sedang pertumbuhan panjang jalan tidak bertambah secara memadai. Tidak hanya saat lebaran, namun kemacetan sudah menjadi realita yang terjadi di kota besar Indonesia setiap hari. Kemacetan  yang dialami beberapa kota besar seperti Surabaya, Bandung dan Jakarta telah menjadi persoalan serius dan menarik untuk dibahas.

(1) Kemacetan di kota Surabaya umumnya disebabkan oleh samakin banyaknya atau bertambahnya volume kendaraan di setiap tahunnya yang sudah tidak seimbang dengan kapasitas jalan, kesadaran masyarakat untuk menggunakan transportasi umum juga masih kurang, hal ini disebabkan karena transportasi umum di kota Surabaya belum sepenuhnya memenuhi standar dan masih banyak yang tidak layak digunakan sehingga masyarakat lebih memilih menggunakan transportasi pribadi, banyak masyarakat yang tidak tertib berlalu lintas, banyaknya Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menggunakan badan jalan dan juga kemacetan disebabkan karena kurangnya pengaturan dari Polisi Lalu-lintas pada titik kemacetan pada saat jam macet. Pemerintah harus membuat Mass Rapid Transport (MRT) supaya masyarakat lebih memilih menggunakan MRT dari pada menggunakan transportasi pribadi dan pemerintah juga harus menaikan tarif parkir di pusat perbelanjaan tengah kota, supaya masyarakat lebih menggunakan transportasi umun ketimbang transportasi pribadi.

(2) Kemacetan di Bandung dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Bandung yang  ditengarai saat ini  tidak hanya di jalan raya, melainkan juga ketika jalan di komplek-komplek perumahan. Hal ini menunjukkan bahwa kemacetan di Bandung telah menjadi permasalahan kota yang perlu mendapatkan perhatian serius, yang bukan hanya karena banyaknya jumlah wisatawan datang ke Bandung setiap akhir pekan atau di masa-masa liburan. Permasalahan kemacetan juga disebabkan dari pertambahan populasi penduduk yang terus meningkat sekitar 1,16% yang diikuti dengan bertambahnya jumlah kendaraan. Menjadi destinasi wisata bagi para pelancong dari luar kota juga merupakan faktor penyebab kemacetan kota Bandung.

(3) Kemacetan di Jabodetabek umumnya disebabkan oleh peningkatan laju pertambahan jalan (termasuk jalan tol) sebesar 1% per tahun, yang tidak sebanding dengan laju pertambahan kendaraan yang mencapai 11% per tahun. Hal ini menyebabkan kemacetan yang parah pada jam-jam puncak; Sementara itu, Kualitas rencana tata ruang juga belum memadai, pengendalian pemanfaatan ruang lemah menyebabkan instrumen penataan ruang menjadi tidak efektif. Fakta menunjukkan bahwa penataan ruang tidak mampu mengendalikan penumpukan lebih dari 60% kegiatan ekonomi nasional di Jabodetabek (pusat kegiatan industri, komersial, pemerintahan, dan jasa keuangan). Penurunan kondisi jalan dalam banyak hal juga menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas, hal itu merupakan akibat dari: (a) Kemampuan pemeliharaan dan rehabilitasi jalan yang terbatas. (b) Laju perbaikan jalan yang berjalan lambat. (c) Pertambahan volume lalu-lintas maupun intensitas beban yang terus meningkat termasuk overloading yang tidak terkendali. (d) Kualitas hasil penanganan jalan masih belum sesuai dengan rencana/spesifikasi.

Tidak hanya hal itu, perlintasan sebidang juga merupakan biang-keladi kemacetan di kawasan Jabodetabek yang jumlahnya  saat ini mencapai  46 kawasan, terdapat lebih dari 100 titik simpang rawan macet di Jakarta. Belum lagi, pada musim hujan, faktor genangan dan banjir menambah tingkat keparahan kemacetan. 7 (tujuh) juta penduduk Jabodetabek yang melintas di jalan raya diantaranya 3 (tiga) juta lebih penduduk menggunakan kendaraan pribadi memperburuk kemacetan di Jakarta, sedangkan Busway sebagai angkutan andalan di Jakarta hanya mampu mengangkut sekitar 250.000 orang per hari atau hanya sekitar 6 (enam)% dari total penduduk yang lalu lalang. Keadaan ini dari waktu ke waktu semakin tidak menguntungkan, sehingga jika dibiarkan sudah tentu akan terjadi stagnan dan memunculkan masalah baru dikemudian hari.

Tidak bisa tinggal diam…!!

Sistem transportasi yang di-idam-idamkan penduduk kota besar adalah bila waktu tempuh perjalanan cukup cepat, tidak mengalami kemacetan, pelayanan cukup, aman dan bebas kecelakaan. Untuk mencapai kondisi itu tidak mudah, karena tergantung oleh banyak faktor penentu, antara lain: (a)  kondisi prasarana (jalan) serta sistem jaringannya, (b) kondisi sarana kendaraan, dan (c) sikap mental pengemudi/pemakai jalan. Dilihat dari aspek perencanaan dan pelaksanaan transportasi kota, maka penting sekali memahami teknik perlalu-lintasan (Traffic Enginering). Teknik lalu lintas angkutan darat meliputi: (a) karakteristik volume lalu lintas, (b) kapasitas jalan, (c) satuan mobil penumpang, (d) asal dan tujuan lalu lintas, dan (e) pembangkit lalu lintas ( Budi D.Sinulingga, 1999).

Waktu perjalanan ditentukan oleh beberapa faktor penting yang dianggap berpengaruh dalam menentukan pilihan moda transportasi sebagaimana dijelaskan oleh Alan J Horowitz, 1980, antara lain:

(a) Penghasilan. Nilai waktu dikatakan tinggi jika diperuntukkan golongan masyarakat berpenghasilan tinggi dimana penghasilan memungkinkan pengeluaran yang lebih besar, moda transport yang digunakan cenderung berkualitas lebih mahal dibandingkan golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Tingkat upah yang lebih tinggi tentu mengakibatkan kesempatan yang tinggi pula, sehingga pilihan peralatan transportasi menjadi lebih beragam.

(b) Tujuan Perjalanan. Bagi individu yang melakukan perjalanan dengan tujuan kerja, nilai waktu yang dilewatkan mungkin akan mempunyai perbedaan yang berarti dibandingkan bagi mereka yang melakukan perjalanan dengan maksud berwisata atau sekedar mengunjungi teman atau keluarga.

(c) Periode Waktu Perjalanan. Bagi individu yang bekerja maka nilai waktu perjalanan selama hari kerja akan berbeda dibandingkan dengan nilai waktu pada akhir pekan dimana kesibukan dan  kebutuhan akan ketepatan waktu tidak lagi mendesak. Hal itu menegaskan bahwa nilai waktu bagi seseorang memiliki korelasi terhadap aktivitas keseharian individu, inilah  yang disebut sebagai periode waktu perjalanan.

(d) Moda Perjalanan, Nilai kenyamanan dari moda perjalanan digunakan akan mempengaruhi penilaian seseorang terhadap waktu yang di luangkannya selama perjalanan. Hal ini dapat dijelaskan secara sederhana yaitu nilai satu menit bagi seseorang yang menggunakan suatu moda angkutan yang padat dan berdesak-desakan serta mengandung resiko keamanan yang tinggi akan berbeda dibanding nilai satu menit bagi seseorang yang menggunakan moda angkutan yang nyaman, lapang, dan aman.

(e) Panjang Rute Perjalanan. Panjang rute perjalanan sangat berpengaruh terhadap penilaian seseorang terhadap waktu yang dihematnya. Sebagai contoh penghematan waktu perjalanan selama sepuluh menit bagi seseorang dengan waktu perjalanan yang pendek akan lebih terasa dibandingkan penghematan waktu sepuluh menit bagi seseorang yang mempunyai waktu perjalanan yang panjang hingga berjam-jam.

Traffic Solution in The Several Cities..!!

Beberapa negara mengatasi kemacetan dengan caranya masing-masing, diantaranya adalah :

  • Malaysia mengatasi kemacetan diantaranya dengan memindahkan dari Kuala Lumpur ke Putrajaya. Membangun sistem transportasi bus dan kereta api secara terintegrasi, menciptakan KL Sentral menjadi tempat pertemuan berbagai moda transportasi dalam satu kawasan, membuat sub way, transportasi massal, serta pengelola menyediakan tiket murah penggunaan bulanan yang membuat masyarakat menjadi mudah beraktivitas
  • Rusia mengatasi kemacetan dengan membangun jalur Golden Ring yaitu jalur bus yang terintegrasi berbentuk cincin yang menghubungkan berbagai pemberhentian secara efisien dan efektif. Jalur kereta bawah tanah yang langsung berhubungan dengan pusat-pusat bisnis dibangun untuk memperkecil kemungkinan kemacetan yang terjadi di jalan raya termasuk membangun kendaraan massal berbasis listrik Mass Rapid Transportation ( MRT ).
  • Singapura mengatasi kemacetan dengan menerapkan sistem pajak yamg mahal dan harga pasar yang tinggi terhadap kendaraan bermotor. Masyarakat hanya boleh menggunakan mobil yang sama selama 10 tahun, dan bahkan menerapkan biaya parkir yang sangat mahal, sistem dua warna plat mobil yaitu plat merah digunakan pada hari libur dengan pajak murah, sedangkan plat hitam digunakan setiap hari dengan pajak tinggi, selain itu juga menerapkan Electronic Road Pricing (ERP) dan asuransi.
  • Jepang mengatasi kemacetan dengan melakukan pembatasan emisi terhadap setiap kendaraan dan dilakukan uji ulang setiap 2 tahun, dalam hal ini biaya semakin makin mahal untuk kendaraan tua. Biaya parkir dan tol mahal, tetapi sebaliknya disediakan sarana transportasi umum yang nyaman, aman dan murah.

Beberapa Negara Eropa mengatasi kemacetan lalu lintas umumnya dengan membangun kereta api bawah tanah yang terintegrasi dengan pusat kegiatan ekonomi, menciptakan bus yang nyaman dan tepat waktu, pajak kendaraan pribadi yang mahal sehingga mendorong masyarakat menggunakan moda transportasi umum seperti monorail dan commuter line dan sepeda untuk keperluan sehari-hari.

Smart City as a Comprehensif Solution : Changing how we life..

Why Smart City?

Smart City sebagai solusi mengatasi kemacetan karena  mampu menjawab minimal 3 (tiga) hal penting, yaitu : (a) mengetahui (sensing)keadaan kota, (b) memahami (understanding) keadaan kota lebih jauh, dan (c) dapat melakukan aksi (acting) terhadap permasalahan timbul. Mengatasi kemacetan merupakan salah satu tujuan untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi warganya, membuat kota semakin efektif dan efisien serta meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi serta pemerataan penghasilan. Semua itu ada dalamSmart City.  Beberapa dimensi yang harus dipenuhi dalam sebuah Smart City adalah (a) Dimensi Sosial, (b) Dimensi Ekonomi, (c) Dimensi Kemananan dan (d) Dimensi Lingkungan. Hampir semua sektor strategis seperti energi, industri, lingkungan hidup, pariwisata, kepemerintahan, pendidikan serta perdagangan menjadi variable utama dalam membangun Smart City. Ini penting untuk dipahami dalam rangka mencari solusi mengatasi kemacetan di Kota besar. Smart Citymengembangkan system inovasi sangat efisien, khusus bidang strategis di perkotaan seperti :Smart Energy System, Smart Transportation, Smart Health, Smart Retail, Smart Parking, Smart Home, Smart Lighting, Water Resources Management System. Dan bahkan masih banyak lagi system yang ditawarkan dalam Smart City.

Kemacetan yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pemekaran kota. Kemacetan tidak akan pernah selesai dengan hanya meminimalisir simpul-simpul kemacetan secara parsial. Terlebih jika yang diatasi hanyalah simptom yang terlihat dipermukaan, dan tidak menyentuh akar masalah. Jika ini terjadi maka apapun yang dilakukan pemerintah tidak akan memberi dampak dan solusi kemacetan secara berkelanjutan.

Smart City memiliki kemampuan mengatasi kemacetan secara Komprehensif.

Dengan Teknologi Smart, masyarakat dapat memanage waktunya untuk bekerja secara remote. Melakukan rapat melalui perangkat tele conference sehingga hal ini dapat mengurangi lalu lalang masyarakat di jalan raya. Karena itu marilah kita mengatasi kemacetan dengan Teknologi Smart yang efektif dan efisien, mampu mengatasi kemacetan kota-kota besar di Indonesia. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi dapat mengkoordinasi berbagai unsur membentuk konsorsium membuat  percontohan Smart City di Indonesia. Semoga…

Penulis : DR. Ir. Agus Puji rasetyono, M.Eng., Senior Advisor to the Minister for Relevance and Productivity, Ministry of Research, Technology and Higher Education, Republic Indonesia.

Sumber: www.wargapeduli.com/2016/07/iptek-solusi-komprehensif-atasi-kemacetan-lalu-lintas