NAY PYI TAW – 17th ASEAN Ministerial Meeting on Science and Technology (AMMST-17) resmi dimulai dan dibuka oleh Menteri Pendidikan Myanmar Myo Thein Gyi, dilanjutkan dengan sambutan Menteri Industri dan Kerajinan Tangan Kamboja, Cham Prasidh, Jumat (20/10). Ajang temu Menteri Iptek ASEAN tersebut akan banyak mengambil beberapa keputusan kebijakan yang akan diterapkan untuk kawasan ASEAN di tahun yang akan datang berdasarkan ASEAN Plan of Action on Science, Technology and Innovation (APASTI) 2016 – 2025.

“Keputusan-keputusan dalam rapat kali ini akan sangat penting bagi Asean yang telah berusia 50 tahun. Kebijakan-kebijakan dalam transfer ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi akan menjadi batu loncatan penting bagi Negara Asean untuk memajukan kawasan ASEAN melalui inovasi yang dihasilkan,” ujar Myo Thein Gyi.

Dalam sambutannya, Myo Thein Gyi juga menyampaikan arti penting pengembangan sains, teknologi dan inovasi yakni untuk mengembangkan MSMEs, merealisasikan SDGs dalam konteks ASEAN dan untuk mencapai Visi ASEAN 2025.

Sementara itu Cham Prasidh menggarisbawahi pentingnya pengembangan Sains, Teknologi, dan Inovasi dalam ASEAN menuju Era Industri 4.0 yang antara lain untuk kemajuan pertanian berbasis teknologi, mempromosikan kewirausahaan, meningkatkan market scalibity, dan mendorong inovasi dan pengembangan perusahaan pemula berbasis teknologi.

Indonesia pada pertemuan AMMST-17 kali ini diwakili oleh Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Naim. Pada pertemuan tersebut, Indonesia menyampaikan komitmen untuk berkontribusi pada pengembangan ASEAN Science, Technology and Innovation Partnership sebesar USD 1 Juta. Kontribusi dana tersebut dapat digunakan untuk beberapa kegiatan diantaranya Capacity Building, Training, Workshop, Joint Research, dan pengembangan hasil inovasi.

Selain itu, Indonesia juga menginisiasi untuk membangun Center of Excellent in Disaster Risk Management, Food and Agriculture. Melalui pusat unggulan tersebut diharapkan akan semakin banyak hasil penelitian dan produk inovatif yang dihasilkan sehingga nantinya akan dapat dinikmati oleh semua negara anggota ASEAN, jelas Ainun.

Pada pertemuan the 9th Informal Ministerial Meeting on Science and Technology (IAMMST-9) di Siem Reap, Kamboja pada Oktober 2016 lalu, Indonesia merupakan lead country dalam pengembangan ASEAN Public Private Partnership (PPP) Forum. Indonesia menyampaikan bahwa pada pertemuan ASEAN COST selanjutnya diharapkan dapat melibatkan sektor swasta untuk mendukung program komersialisasi hasil riset yang merupakan tujuan utama pembentukan ASEAN PPP Forum tersebut.

“Namun yang sudah pasti, Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan the 76th ASEAN Committee on Science and Technology (ASEAN COST-76) pada tahun 2019 nanti,” tutur Ainun.

AMMST-17 ini merupakan kegiatan puncak pertemuan the 73rd ASEAN Committee on Science and Technology (COST-73) and related meetings, Forum and Exhibition yang sudah berlangsung sejak 12 Oktober yang lalu di Myanmar International Convention Center (MICC) 2. (NF/DZI)