18 June 2015 | 08.36 WIB Berawal dari pentingnya sistem kelistrikan dalam kapal, Teguh Julianto dan ketiga temannya menuangkan kreativitas mereka dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

PKM berjudul Rancang Bangun Prototype Heat Exchanger Sebagai Pembangkit Listrik Pada Mesin Kapal Berbasis Thermoelectric Generator (TEG) tersebut memberikan rekomendasi alat yang berpotensi menghemat biaya listrik kapal.
Teguh bersama Hangga Krisna P, Bayu Agastya, dan Wasis Tri Handoko adalah mahasiswa Jurusan Teknik Sistem Perkapalan yang mengusung karya tersebut. “Kondisi kapal yang dinamis menuntut kapal untuk bisa menyediakan sumber energi listrik sendiri,” tutur Teguh, ketua tim. Selama ini pemenuhan suplai listrik ke semua sistem kapal ditunjang oleh mesin diesel generator. Sehingga Teguh menjelaskan penggunaan bahan bakar minyak selama kapal beroperasi sangatlah besar.

Energi yang masuk akibat pengoperasian mesin diesel tidak seluruhnya digunakan namun juga diubah menjadi energi lain. “Baik berupa gas buang maupun panas,” tutur Teguh. Energi panas yang terjadi tersebut dinilai menjadi sebuah kerugian lantaran adanya energi panas yang membuat kerja mesin tidak efisien.

“Padahal energi panas yang tinggi dihasilkan oleh mesin utama selama ini justru memiliki potensial yang besar dalam menghasilkan listrik,” ungkap Teguh. Salah satunya menggunakan thermoelectric sebagai materi ramah lingkungan yang dapat mengonversi energi panas menjadi energi listrik, begitu pun sebaliknya.

Menurutnya, panas yang dikeluarkan mesin utama bersuhu antara 300 sampai 400 derajat celcius. Fluida panas (air) yang keluar dari mesin tersebut akan terus disirkulasi menuju mesin utama. Timbulnya arus listrik sendiri diakibatkan oleh perbedaan gradien suhu dalam heat exchanger (alat penukar panas, red) yang digunakan untuk mendinginkan air panas dengan air dingin.

Dikatakan Teguh sistem kerja alat ini memiliki beberapa tahapan. Yakni air dipanaskan hingga bersuhu 75 derajat celcius lalu dialirkan menuju heat exchanger yang telah terpasang 30 thermoelectric. Hasilnya , dengan suhu 70 derajat celcius dapat menghidupkan lampu 12 Volt.”Padahal di kapal suhunya mencapai 300 derajat celcius,” ujar Teguh.
Selam proses tersebut berlangsung air yang keluar dari heat exchanger akan terus bersirkulasi. Dengan demikian alat ini sangat efisien karena pemanfaatan energi panas yang tidak digunakan menjadi energi listrik. “Kami berharap alat ini bisa dikembangkan dalam skala besar,” harap Teguh. Ia pun meyakini hal tersebut sebanding dengan nilai potensial alat untuk mengurangi biaya listrik kapal. (dza/man)
Sumber: https://www.its.ac.id/berita/15191/en
Copyright © Institut Teknologi Sepuluh Nopember