image001Kita masih ingat, pidato sosok Joko Widodo, 20 Oktober 2014 lalu usai pelantikan dirinya sebagai Presiden RI. Ia berkata; “Bangsa Indonesia sudah telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, memunggungi selat dan teluk. Karena sebagai negara maritim, samudra, laut, selat dan teluk adalah masa depan peradaban Indonesia.”

Pesan yang bukan hanya menggugah dan menyadarkan segenap anak bangsa, namun mampu menghentakan perhatian dunia. Bila kejayaan negeri yang sudah menggema sejak Kerajaan Majapahit ranah samudera kembali dibangkitkan. Senafas dengan visi Pemerintah pada kemaritiman, maka inilah momentum pengingat bagi bangsa Indonesia, bila betapa potensi kekayaan laut sesungguhnya menawarkan kesejahteraan tak terbatas.

Ini pula momentum bagi kita untuk mampu mengubah mindset (cara pandang), bila matra laut menjadi wahana tak terbilang untuk dikelola dan diekploitasi dengan sentuhan teknologi dan inovasi.

Sebagai negara bergelar, “The Largest Archipelago In The World,” potensi kekayaan laut seluas 7,7 juta km2, sungguh luar biasa. Namun sayang, potensi lebih dari Rp 3000 Triliun per tahun belum tergarap maksimal. Laut belum dilihat sebagai sumber pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, dan pemecah masalah kemiskinan. Potensi kelautan pun ibarat Sleeping Giant (raksasa sedang tidur).

Mengubah paradigma dalam menjadikan maritim sebagai arus utama pembangunan adalah keniscayaan. Cara melihat pembangunan dari semata berbasis daratan (land based development) menjadi berbasis kelautan (ocean based development), sesungguhnya tak mustahil dapat kita wujudkan.

Kita harus mampu merealisasikan pembangunan terintegrasi disegenap nusantara, mengasah kemampuan mengelola potensi kelautan secara sustainable untuk kesejahteraan masyarakat.

Pada puncak Hari Nusantara ke 14 Tahun 2014 yang dipusatkan di Kotabaru Kalimantan Selatan, maka pemerintah pun berencana untuk mendeklarasikan 1000 Desa Inovasi Nelayan yang akan dibangun dalam 1000 hari, bersama Kementerian Riset Teknologi (Ristek) dan Perguruan Tinggi (Dikti) Mungkinkah? Ini bukan mustahil untuk dilakukan.

Bahkan sebuah program yang dimotori Kementerian Ristek dan Dikti telah menjajaki pembangunan Desa Inovasi Nelayan sejak November 2014 lalu. Adalah Desa Sarang Tiung, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, wilayah yang menjadi fokus desa inovasi percontohan.

Desa inovatif merupakan desa yang penduduknya memiliki kemampuan (individual skill) dan rasa tanggung jawab yang tinggi dalam mengelola lingkungan tempat tinggalnya, mampu diwujudkan melalui individu dan keluarga sebagai pilar utama yang merupakan basis pembangunan.

Konsep desa inovasi sesungguhnya berakar pada pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi pemanfaatan potensi desa dan kearifan lokal dengan cara kreatif dan inovatif untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan.

Program yang melibatkan seluruh unsur termasuk kelembagaan desa dan stakeholders terkait, seperti pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga riset, pihak swasta, lembaga keuangan dan pasar, diharapkan memberi stimulus dari rencana besar untuk membangun 1000 desa inovasi lainnya.

Secara operasional, agar konsep pembangunan terpadu dalam mewujudkan desa inovatif dapat berjalan dengan baik, diperlukan usaha yang intensif dengan tujuan dan kecenderungan memberikan fokus perhatian kepada kelompok maupun daerah tertentu, melalui penyampaian pelayanan, bantuan, dan informasi kepada masyarakat desa.

Dalam empat tahun ke depan, pemerintah pun berencana membentuk 1.000 Desa Inovasi Nelayan serupa. Melalui Desa Inovasi Nelayan, pemerintah akan melakukan langkah-langkah strategis dengan memanfaatkan teknologi dibidang perikanan dan kelautan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan.

Peran Kampus dan IPTEK

Sebagai negara dengan basis 82,3% wilayah Indonesia merupakan kawasan perdesaan maka peningkatan kesejahteraan suatu desa memberi dampak yang signifikan bagi wajah republik ini. Untuk itu sentuhan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam mendorong harapan percepatan pembangunan pedesaan mutlak dilakukan.

Pemanfaatan Iptek diharapkan dapat mengembangkan usaha dengan cara dan teknologi yang tepat guna, sehingga dihasilkan produk baru yang memiliki kualitas, desain dan kemasan yang lebih menarik serta diproduksi dalam kuantitas yang lebih banyak.

Produk yang memiliki daya saing tinggi ini, diharapkan mampu menghadapi persaingan. Baik dengan produk dari daerah atau negara lain, baik di pasar lokal, nasional bahkan global.

Begitu pun dengan peran perguruan tinggi. Para mahasiswa diseluruh kampus di Indonesia seyogyanya diarahkan untuk mengggarap; satu desa, satu mahasiswa, sebagai sumber data utama projek penyusunan laporan akhir, skripsi ataupun tesis berdasarkan jurusan masing-masing.

Para sarjana tidak lagi hanya menjadikan industri sebagai objek penelitian dan pengembangan, sementara desa tempat lahirnya para sarjana terabaikan. Disisi lain mahasiswa dapat berlatih menerapkan disiplin ilmu yang dimiliki secara sinergis dengan kampus lain, tentu dengan disiplin ilmu yang berbeda namun satu tujuan.

Para calon sarjana dari kampus-kampus technology informasi misalnya, akan membantu warga dalam mengemas produk-produk dipedesaan sehingga bernilai jual tinggi, menyususn profile desa dalam kemasan multi media dan lainnya.

Demikian pula disiplin ilmu lain. Seperti ekonomi, pertanian, kehutanan, peternakan, pengetahuan tanaman obat, hukum yang secara bersama-sama dapat melakukan pembinaan dan penyuluhan terhadap warga pedesaan.

Dengan demikian, maka setiap warga akan bangga dengan desanya. Desa akan menjadi sasaran investasi masa depan. Jika pertumbuhan ekonomi berbasis desa dapat dilakukan, maka percepatan Pembangunan Indonesia akan segera terwujud dan merata keseluruh masyarakat.

Desa inovatif pun menjadi simpul sebuah perubahan anak bangsa. Laiknya sebuah harapan yang dihembuskan pada peringatan Hari Nusantara ke 14 Tahun 2014, dengan tema, “Membangun Nusantara dengan Inovasi Maritim untuk Anak Bangsa”. (Sumber : Harian Ekonomi Neraca, 23 Desember 2014)