Siaran Pers Kemristekdikti

Nomor : 81/SP/BKKP/XI/2017

Surakarta, 7 November 2017

 

Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla melakukan kunjungan kerja di Politeknik Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta didampingi tiga menteri, yakni Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dhakiri, dan Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartanto.

Dalam sambutannya, Wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa pendidikan vokasi dan dunia industri menjadi elemen penting terhadap kemajuan negara. “Inilah aset generasi muda. Aset bukan hanya mesin, tapi otak dan kedisiplinan yang bisa dimanfaatkan oleh industri. Di Jawa Timur butuh tenaga kerja 70 ribu untuk industri, tapi tidak ada yang mempunyai skill,” kata Wapres di Kampus Poltek ATMI Surakarta.

Menurut Wapres, pemerintah ingin generasi muda mempunyai kemampuan dan kompetensi yang dibutuhkan dunia Industri. Untuk penguatan vokasional, Wapres menginstrusikan kepada para menteri, gubernur, dan kepala BNSP agar mengambil langkah langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi dan kewenangan masing masing dalam merevitalisasi pendidikan vokasi. “Ini untuk meningkatkan kualitas dan daya saing SDM Indonesia.” pungkas Wapres.

Saat ini pemerintah juga tengah menggenjot vokasional Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Menurut Wapres, SMK butuh peralatan dan instruktur bukan hanya teoritis tapi juga anggaran besar. “Pak Menristekdikti, Menaker, Menperin harus berkoordinasi supaya disusun peta kebutuhan tenaga kerja, bagi lulusan SMK sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing dengan berpedoman pada peta jalan pengembangan SMK,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Politeknik ATMI Surakarta T. Agus Sriyono mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan revitalisasi vokasional sejak SMK. Penguatan vokasional dilakukan ATMI karena banyak industri yang membutuhkan tenaga kerja ber-skill tinggi.

“Kami akan membuka Poltek ATMI Cikarang yang dekat dengan industri. Ini upaya ATMI berbagi vokasi dengan daerah lain,” ujarnya.

ATMI mengelola edukasi yang produktif, menjadi pusat pendidikan vokasi, menambah kapasitas, kesulitan. Meski begitu ATMI menghadapi kendala berupa kurangnya diferensiasi antara politeknik dengan universitas, masih sedikit industri yang terlibat dalam pendidikan vokasi, terbatasnya kemampuan investasi untuk mengejar percepatan teknologi, kepastian lokal pengembangan kampus tiga.

“Kami berharap Kemenristekdikti dan Pemda bisa membantu ATMI dalam upaya penguatan vokasional,” tutupnya.

 

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti