LAPAN kembali menggagas pertemuan dengan para pemangku kepentingan dan pengguna layanan data penginderaan jauh (inderaja). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan iptek inderaja dalam mewujudkan kemandirian ekonomi Indonesia. Seminar Nasional Penginderaan Jauh (Sinas Inderaja) 2017 berlangsung di The Margo Hotel, Depok, Jawa Barat, Selasa (17/10).

Teknologi inderaja memiliki cakupan luas, mulai dari pengamatan luas, informasi aktual, waktu perolehan cepat, serta punya data historis panjang. Teknologi ini dipergunakan untuk litbang, serta menghasilkan data dan informasi untuk mendukung pemetaan dan pemantauan sumber daya alam dan lingkungan.

Data dan informasi inderaja sangat dibutuhkan untuk berbagai keperluan kewilayahan (tata ruang, batas kota) dan kebencanaan (kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung berapi).

Sementara contoh pemanfaatan informasi di bidang kelautan dipaparkan melalui Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) untuk meningkatkan tangkapan ikan oleh nelayan. Sehingga nelayan tidak lagi mencari ikan, namun berdasar data informasi dari LAPAN mereka bisa langsung menangkap ikan.

Sedangkan contoh kebutuhan data inderaja di sektor perkebunan yaitu untuk pemantauan pengembangan perkebunan sawit. Perkebunan sawit dipantau mulai dari pembukaan lahan sampai dengan pengelolaannya.

Dengan data inderaja tidak hanya memantau sumber daya alam yang tersedia namun juga aspek lingkungannya. Di bidang pertanian, memberi informasi terkait luas lahan baku sawah yang saat ini menjadi problem utama Indonesia. Prioritasnya adalah pemantauan secara rutin fase pertumbuhan padi.

Sebagaimana penjelasan Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin dalam sambutan, “Luas lahan sawah di Indonesia masih belum akurat dan fase pertumbuhan padi di setiap daerah berbeda-beda. Hal ini menyulitkan dalam melakukan prediksi masa pertumbuhan, panen, termasuk untuk distribusi pupuk.”

Hal tersebut dipertajam dengan pernyataan Deputi Bidang Penginderaan Jauh, Dr. Orbita Roswintiarti. Menurutnya, data lahan baku sawah sangat krusial. Tahun ini, LAPAN mempunyai target bisa menjangkau 15 provinsi sebagai sentral produksi padi. Tentunya dengan adanya otomatisasi data dengan tujuan bisa tersaji dengan lebih cepat, tepat, dan akurat. “Sudah sekian banyak data yang disajikan secara otomatis, maka perlu kontrol dengan cara tetap melakukan riset secara rutin,” tegasnya.

Di sektor lain, data inderaja kini diperlukan untuk mendukung peningkatan pendapatan perpajakan. “Dulu perhitungannya berdasarkan laporan pemilik objek pajak, sekarang bisa dipantau langsung dengan data satelit,” Papar Thomas.

Secara lingkup lebih luas lagi, Indonesia membutuhkan data tata ruang, pertanahan, dan sebagainya yang membutuhkan data citra satelit dengan resolusi sangat tinggi. Hal ini membutuhkan data yang bisa diakses secara cepat dan cakupan yang luas.
Dalam keynote speech, Orbita menyampaikan, karakteristik penginderaan jauh bersifat global, baik dari kebutuhan maupun kontribusinya. Maka LAPAN telah melayani berbagai pemangku kepentingan dan pengguna mulai dari kementerian/lembaga, TNI, Polri, Pemda, masyarakat (ilmiah dan umum), serta swasta.

Untuk itu, program utama penginderaan jauh LAPAN berfokus pada Bank Data Penginderaan Jauh Nasional (BDPJN) dan Sistem Pemantauan Bumi Nasional). Sistem pemantauan tersebut disajikan melalui Sistem Pemantauan Sumber Daya Alam (SIPANDA) dan Sistem Informasi untuk Mitigasi Bencana (SIMBA).

Seminar ini mempertajam teknologi inderaja akan sangat penting untuk Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas. Data dan informasinya memberikan hasil pengamatan dan kemajuan di berbagai sektor terutama ekonomi Indonesia. Ini yang sedang diupayakan LAPAN agar produk hasil litbang LAPAN benar-benar bermanfaat untuk masyarakat Indonesia, terutama untuk sektor ekonomi domestik.

Kepala LAPAN mengatakan, jika presiden menghimbau pembangunan Indonesia mulai dari pinggiran, maka harus dikerahkan pembangunan desa dan wilayah tertinggal. Dengan menjalin kemitraan bersama sejumlah 34 provinsi, artinya LAPAN mengimplementasikannya melalui pelayanan informasi berbasis inderaja.

Kemandirian ekonomi saat ini diarahkan pada ekonomi yang digerakkan melalui inovasi, tidak lagi konvensional. Maka peran iptek sangat penting dalam hal ini. Hasil pertemuan ini diharapkan ditemukan dan dikembangkannya metode-metode yang paling cepat, tepat, dan akurat. Kembali pada prinsip keberhasilan pengelolaan data dan informasi inderaja. Sebab keberhasilannya tergantung dari tingkat akurasi data tersebut.