(Serpong, 07/02/17). Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sedikit bernafas lega karena akhirnya izin tapak pembangunan Reaktor Daya Eksperimental  (RDE) disetujui oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) pada Januari 2017.

Kepala Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir BATAN, Yarianto Sugeng Budi Susilo mengatakan, walaupun keluarnya izin tapak RDE sedikit meleset dari perkiraan BATAN, yaitu pada bulan Juli 2016, namun ia meyakini proses pembangunan RDE akan berjalan tidak terlalu meleset dari roadmap RDE.

“Dengan izin yang diberikan Bapeten pada 23 Januari 2017, berarti kami bisa melangkah ke perizinan selanjutnya,” ujar Yarianto saat konferensi pers di Gedung 71, Kawasan Nuklir BATAN Serpong, Selasa (07/02).

Ia menjelaskan, ada 4 tahapan yang harus dilalui BATAN dalam pembangunan RDE, yaitu izin tapak, izin konstruksi, izin komisioning dan operasi. Izin tapak sendiri, dimulai dari tahap penyusunan dokumen Program Evaluasi Tapak dan Sistem Manajemen Evaluasi Tapak pada tahun 2014, lalu disampaikan ke BAPETEN dan mendapat persetujuan pada awal tahun 2015.

Kemudian, pada tahun 2015, dilaksanakan evaluasi tapak yang dilanjutkan dengan penyusunan dokumen Laporan Evaluasi Tapak untuk memenuhi persyaratan izin tapak. Paralel dengan pelaksanaan evaluasi tapak, dilakukan penyusunan desain konseptual RDE. Dokumen izin tapak secara administratif sudah dinyatakan lengkap oleh BAPETEN pada November 2015. Namun pembahasan secara teknis diakui Yarianto cukup memakan waktu lama dan sedikit bergeser dari jadwal yang diprediksikan.

“Kenapa harus ada perizinan? Untuk menjamin keselamatan pembangunan RDE secara bertahap dan ketat,” ujar Yarianto.

Setelah melalui berbagai review dan perbaikan, akhirnya BAPETEN menerbitkan izin tapak RDE pada awal tahun 2017. Tahap selanjutnya adalah menyusun dokumen basic design yang akan dijadikan dasar penyusunan dokumen persyaratan pengajuan izin konstruksi.

Saat ditanya mengenai strategi BATAN agar pekerjaan konstruksi dapat berjalan sesuai waktu yang direncanakan, Yarianto menerangkan, BATAN secara teknis instens berkonsultasi dengan Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA). Disamping, BATAN juga bekerja sama dalam hal pengetahuan dan pemahaman dengan negara yang sudah memanfaatkan teknologi yang akan digunakan pada RDE, yaitu High Temperature Gas – Cooled Reactor (HTGR), seperti Jepang, Rusia, dan Tiongkok, dengan harapan pemahaman ini dapat mempersingkat waktu proses perizinan ketika izin konstruksi telah diajukan ke BAPETEN.

“Ini perlu dikomunikasikan dengan pihak internasional dan BAPETEN sehingga kami tahu kelemahannya dan cepat diperbaiki, juga menghilangkan ketidakpastian yang mungkin terjadi”, terangnya. Ia menambahkan, BATAN menargetkan izin konstruksi hingga konstruksi dapat selesai pada tahun 2023.

Reaktor Daya Eksperimental merupakan reaktor nonkomersial  yang akan dibangun di Kawasan Puspiptek Serpong, dengan kapasitas daya 10 megawatt themal atau sekitar 3,3 megawatt elektrik bila sudah dikonversi menjadi listrik.

Terkait pendanaan, Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnuboroto mengatakan, saat ini Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) sedang menggodok blue book untuk menjadi green book agar dapat ditawarkan secara terbuka ke negara manapun dalam bentuk pinjaman lunak (soft loan).

“Yang proaktif menyatakan tertarik pada program ini adalah Rusia dan Tiongkok. Namun mereka masih menyatakan keberatan jika soft loan harus melalui lelang (bidding), tapi negara kita mensyaratkan itu, kecuali ada perjanjian antar negara lainnya, ya silakan saja,” ujar Djarot.

Proyek yang diprediksi akan memakan dana 2,2 tirliun ini diharapkan dapat menjadi percontohan dan digunakan di daerah lain yang membutuhkan. Tidak hanya menghasilkan listrik, panas yang dihasilkan dapat digunakan untuk pencairan batu bara dan memproduksi hidrogen yang dapat digunakan untuk keperluan industri seperti industri pupuk. Djarot menambahkan, Pertamina bahkan sejak dulu tertarik ingin membangun reaktor dengan jenis yang sama yang dapat menghasilkan hidrogen.

“Jadi ini bukan sekedar “mainan” BATAN, lho, kalau sudah jadi lalu selesai.  Harapannya, RDE bisa dijadikan contoh untuk diterapkan di daerah lain yang membutuhkan listrik dan manfaat lain, bahkan kalau bisa skalanya diperbesar,” terangnya (tnt).

Sumber: http://www.batan.go.id/index.php/id/berita-pksen/2985-akhirnya-izin-tapak-rde-disetujui-bapeten#sthash.xkUKbm2B.dpuf