JAKARTA – Delegasi US-ASEAN Business Council, yang diketuai oleh Michael W. Michalak, melakukan pertemuan dan diskusi dengan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, Selasa (18/10). US-ASEAN Business Council atau Badan Bisnis Amerika Serikat-ASEAN, merupakan sebuah badan yang mewakili sekitar 160 perusahaan multinasional milik Amerika Serikat yang bergerak dalam berbagai sektor, di antaranya barang kebutuhan konsumen, kesehatan dan ilmu hayati, teknologi dan informasi, pertanian dan pangan, serta minyak dan gas.

Kunjungan US-ASEAN Business Council ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) merupakan salah satu agenda dalam rangkaian kunjungan kerja bertajuk Indonesia Business Mission. Lembaga pemangku kepentingan perusahaan milik AS ini adalah satu-satunya organisasi di luar negara anggota ASEAN yang diakui dalam Piagam ASEAN. Beberapa perwakilan perusahaan yang turut menghadiri pertemuan ini di antaranya adalah Honeywell, Monsanto, 3M, Booz Allen Hamilton, Mattel, Seagate, dan Amazon.

Pertemuan dengan Menristekdikti ini bertujuan untuk bertukar pikiran mengenai konsep pembentukan PPP (Public–Private Partnership) dalam bidang pengembangan teknologi, inovasi dan pendidikan yang menyesuaikan dengan perkembangan global. Adapun PPP ini tidak hanya melibatkan peran dari pihak swasta, namun juga pemerintah dan pelaku akademik. Michael W. Michalak, selaku ketua delegasi US-ASEAN Business Council,  menyampaikan harapannya agar Indonesia dapat dengan efektif dan efisien menerapkan konsep PPP ini seperti yang sudah berhasil dijalankan di negara Vietnam.

Guna membuktikan efektifitas peran perusahaan milik AS berkontribusi dalam perkembangan teknologi, inovasi dan pendidikan di Indonesia, beberapa perusahaan mengutarakan kontribusi yang telah dilakukan oleh perusahaannya dalam beberapa bidang di antaranya teknologi, pendidikan, kewirausahaan, dan CSR (Corporate Social Responsibility).

Perusahaan Monsanto, yang diwakili oleh Bapak Herry Kristanto, mengatakan bahwa mereka mendukung agenda Presiden Joko Widodo untuk dapat mandiri dalam penyediaan kebutuhan dalam negeri, khususnya dalam bidang pertanian. Monsanto telah mengembangkan produk rekayasa bioteknologi GMO (Genetically Modified Organism) untuk meningkatkan produk pertanian. Lebih lanjut Monsanto meminta dukungan Menristekdikti agar Monsanto dapat membuat para petani di Indonesia menjadi lebih kompeten dan dapat bersaing dengan petani-petani dari Argentina, Brazil, dan AS.

Sama halnya dengan Monsanto, Honeywell, perusahaan multinasional penghasil berbagai produk komersial, jasa teknologi, dan sistem aerospace, saat ini sedang membangun sebuah laboratorium penelitian bekerjasama dengan ITB yang akan dimanfaatkan untuk transfer teknologi dan berkomitmen untuk tidak berhenti pada satu institusi pndidikan saja, namun akan mengembangkan smart technology dan smart building untuk institusi pendidikan lainnya.

Peningkatan kapabilitas sumber daya manusia menjadi sorotan penting dalam pertemuan ini, perusahaan 3M dan Honeywell sama-sama telah menunjukkan kontribusinya melalui pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada tenaga keja perusahaan dan tenaga kerja pendidikan dalam negeri. US-ASEAN Business Council pada bulan Mei tahun ini telah mengadakan seminar tentang Human Capital Development di Indonesia.

Pada kesempatan ini juga disebutkan bahwa pendidikan vokasi dan kewirausahaan di Indonesia harus dapat dikembangkan melalui ketersediaan peluang internship dari perusahaan-perusahaan milik AS. Konsep CSR yang mendukung program pendidikan juga perlu untuk ditinjau ketersediaannya dari masing-masing perusahaan.

Selain melalui program yang dikeluarkan perusahaan milik AS, Michael W.Michalak, juga menyebutkan bahwa anak-anak muda Indonesia dapat mengikuti program yang ditawarkan oleh YSEALI (Young Southeast Asian Leaders Initiative) untuk dapat mengasah kemampuan kepemimpinan dan kewirausahaan mereka. (IP)