SIARAN PERS

No. 15/SP/HM/BKKP/II/2017

Bandung, 27 Februari 2017

Kemajuan suatu bangsa terletak dari kemajuan industri dirgantaranya. Indonesia merupakan negara dengan jumlah pulau yang banyak dan tersebar. Untuk menghubungkan masyarakat diberbagai daerah tersebut, maka dibutuhkan moda transportasi yang memadai dan terjangkau.

Salah satu transportasi udara yang saat ini tengah dikembangkan putra-putri anak bangsa adalah pesawat udara N219 yang saat ini sudah memasuki tahap akhir pengembangan.

Pesawat N219 merupakan pesawat dengan kapasitas 19 penumpang dengan dua mesin turboprop yang mengacu kepada regulasi Civil Aviation Safery Regulation (CASR). Ide dan desain dari pesawat dikembangkan oleh PT. Dirgantara Indonesia dengan pengembangan program dilakukan oleh PT.DI dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Pesawat N219 telah melakukan berbagai pengujian, misalnya electrical grounding bonding test, leak test dan cleaning test di fuel tank, untuk memastikan tidak adanya kebocoran, selain itu telah dilakukan pengujian landing gear drop test dan electrical power test.

Pesawat N219 prototype pertama saat ini masih dalam proses yang disebut basic airframe dan basic system instalation. Kemudian setelah itu akan melakukan berbagai macam uji fungsi (functional test) untuk memastikan setiap komponen berfungsi dengan baik. Lalu kini sedang dilakukan pula wing static test untuk prototype pertama pesawat N219.
Terbang perdana pesawat N219 rencananya akan dilakukan paling lambat pertengahan tahun ini.

Keberhasilan terbang perdana N219 sangat penting artinya bagi Industri Dirgantara Indonesia. Karena merupakan pembuktian bahwa bangsa Indonesia mampu melakukan rancang bangun pesawat yang murni 100% hasil rekayasa anak bangsa.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir mengungkapkan apresiasinya kepada segenap personil PT. DI yang sejauh ini telah bersusah payah mengembangkan pesawat tersebut.

“Saya mengapresiasi setinggi-tingginya kepada para jajaran PT.DI yang sudah bekerja keras mewujudkan pesawat hasil karya anak bangsa, begitupun dengan proses sertifikasinya. Mudah mudahan schedule yang telah direncanakan bersama dengan Kemenhub, LAPAN, Kementerian Perindustrian dan pihak lainnya bisa berjalan dengan baik,” ujarnya saat Kunjungan Kerja ke PT. DI di Bandung, Senin, 27 Februari 2017.

Nasir menjelaskan pulau-pulau di Indonesia jika dijangkau dengan darat akan memakan biaya yang mahal. Melalui jalur laut pun harus tersedia kapal dalam jumlah yang banyak. Itupun dari segi waktu tidak bisa cepat.

“Maka dengan pesawat bisa mempersingkat waktu antar kota dan antar pulau,” imbuhnya.

Wing Static Test merupakan sebagian dari syarat-syarat teknis sebelum terbang perdana dapat dilaksanakan. Terbang perdana sebuah pesawat baru merupakan sebuah proses engineering dimana pesawat baru dapat diterbangkan apabila seluruh syarat dan permasalahan teknis telah dipenuhi.

Wing static test merupakan pengujian struktur sayap pesawat N219 diberi beban limit mencapai 100% bahkan hingga ultimate atau dipatahkan untuk melihat kekuatan maksimum yang dapat ditahan oleh sayap pesawat N219.

Saat mengunjungi langsung rancangan N219 Menristekdikti yang didampingi oleh Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin dan Dirjen Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, M. Dimyati, ia juga berpesan untuk menetapkan harga yang kompetitif dengan melihat siapa kompetitor pesawat ini. Oleh karena itu, diperlukan momentum yang tepat untuk memperkenalkan pesawat ini ke pasar.

Setelah terbang perdana, nantinya kedua prototype yang dibuat harus melakukan 300 jam terbang Flight Test yang diperlukan agar memberikan bukti akan keselamatan penumpang sesuai yang disyaratkan dalam regulasi.

Proses Sertifikasi Pesawat N219 Masih Berjalan

Proses sertifikasi pesawat N219 berjalan sangat baik dengan didukung oleh Kemenhub. Proses sertifikasi dilakukan pada dua aspek yaitu 1) Aspek design dan analisis 2) Aspek pembangunan fisik pesawat prototype.

Proses sertifikasi untuk aspek design dan analysis, tim Kemenhub memeriksa satu persatu dokumen yang dibuat oleh engineer PT.DI.

Sedangkan pada aspek fisik prototype, tim Kemenhub memeriksa part-part yang akan diintegrasikan (assembly), hal ini untuk memastikan bahwa part yang dibuat sudah sesuai dengan desain dari engineer. Mengingat banyaknya dokumen yang harus direview.

“PT.DI juga telah membangun beberapa laboratorium untuk mendukung berbagai macam pengujian, laboratorium yang telah kami bangun diantaranya laboratorium avionic, laboratorium elektrikal power sistem, laboratorium hidrolik dan simulator pesawat N219,” ujar Direktur Utama PT.DI, Budi Santoso.

Keunggulan Pesawat N219

Pesawat N219 merupakan pesawat angkut ringan yang memiliki kemampuan dapat beroperasi di daerah penerbangan perintis. Pesawat N219 memiliki keunggulan-keunggulan diantaranya dapat lepas landas dalam jarak pendek, dapat lepas landas dan mendarat di landasan yang tidak beraspal.Kemudian dapat self starting tanpa bantuan ground support unit, dapat beroperasi dengan ground support equipment yang minim.

Selain itu memiliki kabin terluas dikelasnya dan memiliki biaya yang kompetitif, dapat terbang rendah dengan kecepatan yang sangat rendah mencapai 59 knots. Pesawat ini juga dilengkapi Multihop Capability Fuel Tank, teknologi yang memungkinkan pesawat tidak perlu mengisi ulang bahan bakar untuk melanjutkan penerbangan ke rute berikutnya.

Pesawat N219 diharapkan mampu menjawab kebutuhan yang melayani operasional bandara perintis dan optimis mampu menguasai pasar pesawat terbang di kelasnya. Dirut PT. DI menyatakan pesawat ini merupakan pintu untuk menguasai pasar komersial dan langkah bersama untuk menguasai teknologi kedirgantaraan.

##

Informasi lebih lanjut :
Divisi Hukum dan Humas
PT Dirgantara Indonesia (Persero)
+62 22 6054191
Email : irland@indonesian-aerospace.com