Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, tiga pemuda Indonesia mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional dengan meraih juara pertama pada Young Southeast Asian Leaders Initiatives (YSEALI) World of Food Innovation Challenge 2016 pada tanggal 28 Oktober 2016 di Siem Reap, Kamboja.

Lebih dari 200 proposal kegiatan riset diterima oleh US Agency for International Development (USAID) yang dilakukan oleh tiga pemuda dari ASEAN yang berumur antara 18-35 tahun dengan tema solusi teknologi untuk menghadapi tantangan dalam bidang pertanian, akuakultur, dan perikanan. Tiga finalis YSEALI melakukan Presentasi akhir (pitching) di hadapan para ASEAN National Committee of Science and Technology (COST) Chairperson sekaligus menjadi juri akhir tahap penentuan pemenang pada tanggal 27 Oktober 2016. Dengan MINO Micro Bubble, finalis Indonesia memukau para juri dari 10 negara anggota ASEAN dan perwakilan ASEAN Secretariat.

Nabil Satria, Fajar Sidik, Untari Ramadhani merupakan mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Dr. Deendarlianto, Kepala Pusat Studi Energi UGM sekaligus sebagai instruktur tim MINO,  mengalahkan 2 finalis lainnya dari Kamboja dan Malaysia. Para finalis menerima grand prize berupa study trip ke technology hubs di Austin, Texas, pada tahun 2017.

kamboja-7

MINO Micro Bubble menawarkan solusi kepada petani ikan untuk menggunakan teknologi micro bubble ini untuk meningkatkan jumlah oksigen yang larut dalam air yang dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan ikan. Hal ini terbukti melalui uji coba yang mereka lakukan pada petani industri ikan nila  dengan hasil berat ikan nila meningkat, memperpendek waktu panen rata-rata yang diperoleh petani ikan dari 2 kali dalam setahun meningkat menjadi 3 kali dalam setahun. Selain itu, mereka juga memperhitungkan dari segi ekonominya, yakni satu petani ikan nila yang menggunakan MINO Mirobubble Technology ini akan memperoleh hasil produksi meningkat sebesar 62% dengan NPV (Net Present Value) sebesar US$2.798 dan IRR (Internal Rate of Return) sebesar 373%.

…and we know from our past is that the investments we make today are bound to pay off many times over in the years to come…” ungkap Nina Hachigian, Duta Besar Amerika Serikat untuk ASEAN, dalam kesempatannya memberikan pidato dalam pembukaan Award Ceremony of ASEAN. Investasi pada pemuda untuk mempersiapkan masa depan generasi yang akan datang merupakan kunci utama kemajuan suatu bangsa khususnya dalam meningkatkan jumlah pemuda yang menggeluti bidang STEM (Science, Tecnology, Engineering and Mathematics). Cham Prasidh, Menteri Industri dan Kerajinan (Ministry of Industry and Handicraft) Kamboja, menyambut positif inisiasi Amerika Serikat dalam program yang melibatkan pemuda-pemudi ASEAN seperti program YSEALI ini. Prasidh mengakhiri pidatonya dengan menyampaikan, “Masa depan generasi berikutnya berada pada pundak para pemuda, teruslah berprestasi dan kibarkan terus bendera ASEAN dimanapun kalian berada”.

Selain penghargaan YSEALI, pada Award Ceremony ASEAN 2016 ini diumumkan juga pemenang ASEAN-US Prize Women in Science 2016 yang dimenangkan oleh Thailand, dan Da Vinci Award and Scholarship Recipients dimenangkan oleh Brunei Darussalam dan Filipina. Dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti dan perwakilan dari Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik, Kemenristekdikti, Award Ceremony ASEAN 2016  ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan ASEAN Committee on Science and Technology (COST) yang telah berlangsung sejak tanggal 24 Oktober 2016 di Siem Reap, Kamboja. (ap/kskp)