SOLO – Ada yang menarik dari Pameran RITECH EXPO 2016 yang digelar di Stadion Manahan Solo, Jawa Tengah dalam rangka perayaan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke-21 Tahun 2016 kali ini. Memasuki lokasi pameran, tampil ciamik dan menarik mata, sebuah stand berwarna biru tua. Stand itu diisi oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memamerkan produk inovasi yang terbilang unik dan tak biasa, yaitu nyamuk. Ia adalah Soleh, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Soleh beserta timnya membuat inovasi dengan menyebarkan nyamuk baru yang telah disuntik Wolbachia.

Soleh berangkat dari pemikiran bahwa infeksi dengue telah mengancam lebih dari seperempat penduduk bumi atau 2,5 miliar orang. ASEAN memiliki jumlah angka kasus infeksi dengue tertinggi di dunia, dimana tiap tahun terdapat sekitar 390 juta orang terinfeksi virus dengue (WHO, 2015). “Berbagai cara telah dilakukan untuk menanggulangi demam berdarah di Indonesia, namun peningkatan kasus masih terjadi dan dengue masih menjadi masalah kesehatan yang cukup besar,” katanya.

Wolbachia merupakan bakteri alami yang terdapat di dalam sel tubuh serangga dan diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya melalui telur. Wolbachia ditemukan pada lebih dari 60% jenis serangga, termasuk ngengat, lalat, buah, capung, dan kumbang. Wolbachia terbukti aman bagi manusia, binatang dan lingkungan. Analisis risiko yang dilakukan Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) pada 2011 di Australia dan Vietnam menunjukkan bukti bahwa metode Wolbachia terbukti aman bagi manusia dan lingkungan.

“Kami melakukan riset dan mengembangkan teknologi Wolbachia sesuai dengan situasi dan karakteristik alam dan masyarakat yang ada di Indonesia,” ucap Soleh. Ia menambahkan bahwa kegiatan penelitian ini telah dimulai sejak tahun 2011 dengan melakukan studi kelayakan dan keamanan metode Wolbachia di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kota ini dipilih karena tingginya angka penderita DBD, dengan angka kejadian lebih dari 28,8 kasus per 100.000 orang.

Ia berharap agar inovasi yang telah dibuatnya dapat memberikan dampak yang positif bagi masyarakat luas, terutama untuk mengurangi tingginya penyakit demam berdarah di Indonesia. “Semoga dapat diimplementasikan secepatnya sehingga kasus demam berdarah ini dapat berkurang,” tutupnya. (Dzi/eva)