SOLO – “Strategi dan Implementasi Program Pembangunan dan Pengembangan STP Nasional” menjadi bahan diskusi menarik dalam Forum Asosiasi Science Techno Park (STP) yang digelar di Solo Techno Park, pada 9 Agustus 2016. Acara yang digelar dalam rangkaian peringatan Hakteknas ke-21 tersebut diikuti 150 peserta terdiri  pengelola STP, PUI, Kementerian dan lembaga, Balitbang, serta hadir pula Prof. Siann Far Kung dari Taiwan sebagai penanggap.

Acara Forum Asosiasi STP ini diawali dengan laporan hasil Workshop Pengembngan STP. Dari hasil Workshop Pengembngan STP ada beberapa poin penting yang pantas diskusikan.  Indonesia belum mempunyai pengalaman dalam membangun STP sampai pada tahap mature. “Perusahaan-perusahaan spin off dari STP belum bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar dan STP belum bisa menjadi driver pertumbuhan ekonomi,” ujar Gopa Kusworo.

Ada beberapa tantangan yang dihadapi antara lain adalah minimnya ketersediaan tenaga ahli untuk mengoperasionalkan STP, hasil inovasi belum siap untuk dihilirisasi, pendanaan untuk operasional STP belum banyak yang di masukkan kedalam APBD.

Pada kesempatan tersebut, Wisnu Sardjono, Presiden Asosiasi STP Indonesia, menyampaikan paparan berjudul “Kondisi Saat Ini dan Arah Kebijakan STP di Indonesia. Wisnu mengatakan, berdasarkan potensi dan kebijakan pengembangan Sumber Daya Alam dan industri nasional ke depan, maka program pengembangan STP di Indonesia diarahkan untuk mendukung sektor-sektor unggulan terkait, khususnya manufaktur, pertanian dan kelautan, dengan titik berat pada industri pengolahan berbasis agro (pertanian) serta perikanan dan kelautan.

Dengan demikian, STP di Indonesia diarahkan sebagai wahana hilirisasi IPTEK untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah khususnya di luar Pulau Jawa melalui penyebaran pusat-pusat pertumbuhan dalam rangka pemerataan antar wilayah.

Sementara, Yani Sofyan, menyampaikan paparan berjudul “Norma Standar Prosedur dan Kriteria” terkait pengembangan STP. Menurut Sofyan, STP yang hendak dikembangkan di Indonesia harus memiliki beberapa fungsi minimal. Antara lain adalah menyediakan wahana untuk kolaborasi R&D berkelanjutan antar Universitas, Lemlitbang dan industri; memfasilitasi penumbuhan perusahaan berbasis inovasi melalui inkubasi dan proses spin-off;  menyediakan layanan bernilai tambah lainnya melalui penyediaan ruang dan fasilitas berkualitas tinggi (menarik industri ke dalam kawasan).

Dalam kesempatan ini sejumlah pengelola STP menyampaikan pengalamannya dalam mengembangkan STP. Jangkung Rahardjo menyampaikan Model Pengembangan Bandung Technopark, Johan Tamsir menyampaikan Model Pengembangan Cikarang Techno Park, dan L. Sumadi menyampaikan Model Pengembangan Solo Techno Park. (sb/dzi)