Surakarta- Bertempat di Hotel Kusuma Sahid Prince, Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptekdikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) pada hari senin (8/8), mengadakan Workshop Pengembangan STP Nasional 2016. Seperti diketahui bersama bahwa Pemerintah akan membangun 100 Science Techno Park (STP) selama tahun 2015 sampai tahun 2019. Sekarang telah dimulai pembangunan 60 STP yang tersebar hampit di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa STP di Indonesia sudah mulai dibangun sebelum tahun 2015.

“Pembangunan STP bukanlah hal yang mudah. Hasil studi banding pembangunan STP di negara-negara yang maju didapatkan ternyata pembangunan STP sampai tahapan yang matang (mature) memerlukan waktu yang lama, ada 35 tahun, 28 tahun, minimal 15 tahun. Dengan belajar dari negara-negara yang lebih dahulu sukses membangun STP, diharapkan Indonesia bisa membangun STP sampai tahapan mature dalam waktu yang singkat,” ujar Dirjen Kelembagaan Patdono.

Patdono menjelaskan bahwa permasalahan yang dihadapi selama ini dalam pembangunan dan pengoperasian STP antara lain adalah kita belum pernah punya pengalaman pembangunan STP yang sukses seperti STP yang sukses di negara maju, yaitu STP-STP yang sudah menghasilkan spin off perusahaan bertaraf multi nasional, revenue yang mencapai ratusan milyar rupiah, penyerapan ribuan tenaga kerja, dan menjadi driver dalam pertumbuhan ekonomi daerah.

Selain itu menurutnya minimnya pasokan hasil penelitian yang siap dikomersilkan di industri, minimnya pasokan tenaga ahli yang mengoperasikan STP serta skema pendanaan untuk mengoperasikan STP juga masih menjadi kendala utama.

Program Prioritas

Kendala-kendala tersebut bisa ditanggulangi dengan beberapa program prioritas yang telah disiapkan Ditjen Kelembagaan Iptekdikti.

“Namun, dalam rangka mensukseskan implementasi Nawa Cita, khususnya pembangunan 100 STP, Kemristekdikti telah menyusun program-program prioritas. Antara lain adalah memberikan dukungan pendanaan, tenaga ahli, laboratorium untuk melanjutkan penelitian yang sudah mencapai TRL 5 dan 6 menjadi penelitian TRL 9, sehingga pasokan penelitian inovatif yang siap dihilirkan dalam STP jumlahnya cukup. Tanpa pasokan penelitian-penelitian yang inovatif niscaya STP akan menjadi mandul,” ungkapnya.

Mengindustrikan TRL 9 serta terus melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan kemampuan untuk membangun dan mengoperasikan STP yang meliputi sosialisasi, bantuan pelatihan, bantuan magang kepada calon pembangun dan calon operator STP, benchmark dan workshop merupakan hal wajib yang harus dilakukan untuk pengembangan STP lanjut Patdono.

“Workshop ini adalah salah satu contoh kegiatan untuk meningkatkan kemampuan untuk membangun dan mengoperasikan STP. Kita juga telah mencapai kesepakatan dengan Perguruan Tinggi-Perguruan Tinggi Luar Negeri yang sudah mempunyai pengalaman pembangunan dan pengoperasian STP yang sukses untuk melakukan pendidikan pascasarjana (master) di bidang STP seperti yang sudah kita lakukan dengan National Chen Kung University di Taiwan, pelatihan dan magang di bidang STP termasuk technology transfer dan business incubation center,” ujar Dirjen yang berasal dari ITS itu.

Sesjen Kemristekdikti Ainun Naim juga menambahkan bahwa di negara-negara maju STP itu merupakan entitas bisnis. Jadi program-program pengembangan inovasi dapat dikomersialisasikan dengan baik.

Agus Sartono, Deputi Koordinasi Pendidikan dan Agama Kemenko PMK juga mengatakan, “dengan adanya workshop STP ini sebenernya ingin mencetak entrepeneur-entrepeneur baru yang berbasis teknologi. Jadi entrepeneur adalah pilihan utama hidup, sehingga lapangan pekerjaan juga bertambah. Hal ini juga sudah sejalan dengan pengembangan pendidikan vokasi yang diinginkan oleh Pemerintah.”

Harapannya personil yang dikirim dalam pendidikan dan pelatihan tersebut adalah personil yang betul-betul nantinya akan mengoperasikan STP yang dibangun, ungkap Patdono lebih lanjut.

Dari 60 STP yang sudah dimulai pembangunannya dan terus mendapatkan dukungan Pemerintah, yang paling maju perkembangannya dilihat dari banyaknya pengusaha pemula berbasis teknologi yang dihasilkan antara lain adalah STP Kopi dan Coklat di Jember, STP di IPB, STP Cibinong, STP Bandung, STP ITB dan STP UGM. Sementara terhadap STP-STP terus dilakukan pembinaan agat bisa menjadi STP di negara-negara yang sudah maju. (Dzi/ard/FLH)