Pertemuan ke-71 ASEAN Committee on Science and Technology (COST-71) resmi dibuka oleh Menteri Industri dan Kerajinan (Ministry of Industry and Handycraft – MIH) Kamboja, Cham Prasidh, pada tanggal 26 Oktober 2016 di Siem Reap, Kamboja.

Pertemuan Komite Iptek ASEAN ini dilaksanakan rutin setiap dua kali dalam satu tahun dihadiri oleh para pimpinan ASEAN COST tiap negara ASEAN dengan tempat pelaksanaan pertemuan disesuaikan dengan agenda rotasi yang disepakati bersama. Pada pembukaan pertemuan ASEAN COST-71, Houmphanh Intharath selaku Vice Minister for Science and Technology (MOST) Laos sekaligus sebagai pimpinan COST untuk Laos menyampaikan capaian yang diraih selama kepemimpinan ASEAN COST pada tahun 2015-2016. Berbagai capaian yang diraih selama kepemimpinannya, salah satunya adalah ditetapkan ASEAN Plan of Action on Science, Technology, and Innovation (APASTI) 2016-2025 pada tahun 2015 di Vientiane, Laos. Pada kesempatan ini, Intharath menyerahkan estafet kepemimpinan ASEAN COST kepada Kamboja untuk meneruskan tugas untuk meningkatkan kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di kawasan ASEAN.

kamboja-1

Saat ini perkembangan teknologi berkembang sangat pesat. Salah satu contoh teknologi yang menjadi perhatian ASEAN adalah Industry 4.0 dimana perubahan paradigma di dunia industri manufaktur yang semula bersifat labor intensive berubah menjadi automation system yang mencakup internet of things dan cloud computing. Tung Ciny selaku Under Secretary of State MIH, Kamboja, sekaligus sebagai Ketua ASEAN COST 2016-2017 menyampaikan bahwa perusahaan sepatu Adidas mengumumkan pada tahun 2017 akan dimulai penggunaan robot pada lini produksi sepatu yang sebelumnya menggunakan manusia dengan lokasi produksi tidak lagi di negara ASEAN, tapi di negara asal brand tersebut dicetus maupun lokasi dimana pasar produk tersebut berada, yakni Jerman dan Amerika Serikat. Saat ini, industri manufaktur di dunia khususnya di negara ASEAN masih menggunakan jutaan tenaga buruh dalam lini produksinya. Hal tersebut menjadi tantangan ASEAN untuk menyediakan lapangan kerja untuk jutaan pekerja dari berbagai sektor seperti sektor garmen dan sepatu yang berpotensi menjadi pengangguran akibat adanya perubahan paradigma pada industri manufaktur.

Prasidh menekankan bahwa kunci utama untuk mengejar ketertinggalan iptek tersebut adalah memupuk kreativitas dan semangat para pemuda di kawasan ASEAN dalam menghadapi tantangan artificial intelligence tersebut. Selain itu, para pemimpin ASEAN juga harus mempercepat langkah untuk mempersiapkan masa depan para penerus bangsa ini. Pada pertemuan komite iptek ASEAN ke-71 ini, Prasidh menyampaikan akan didiskusikan langkah-langkah bagaimana APASTI 2016-2025 dapat diimplementasikan dan dapat memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan iptek sekaligus menjadi roda penggerak perekonomian kawasan ASEAN.

kamboja-2

Pertemuan komite iptek ASEAN ke-71 dihadiri oleh Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan dan perwakilan dari Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik, Kemenristekdikti. Dalam pertemuan tersebut, dilaporkan pertemuan sebelumnya seperti pertemuan kesembilan Sub Committee yang diselenggarakan pada tanggal 24 Oktober 2016 dan pertemuan ke-2 Board of Advisor COST (BAC) pada tanggal 25 Oktober 2016 di Siem Reap, Kamboja. Melalui pertemuan tersebut telah ditetapkan APASTI Implementation Plan (AIP) 2016-2025 dengan 8 (delapan) priority areas sesuai dengan thematic areas yang tercantum dalam Krabi Initiatives, yaitu: ASEAN Innovation for Global Market, Digital Economy, New Media and Scoial Networking, Green Technology, Food Security, Energy Security, Water Management, Biodiversity for Health and Wealth, dan Science and Innovation for Life yang kemudian akan diadopsi oleh para Menteri Iptek ASEAN pada pertemuan the 10th Informal ASEAN Ministerial Meeting on Science and Technology (IAMMST-9) pada tanggal 29 Oktober 2016. Pada kesempatan tersebut juga, Muhammad Dimyati selaku Dirjen Riset dan Pengembangan dan mewakili sebagai National COST for Indonesia mengundang untuk hadir pada acara ASEAN-Japan Workshop in Science and Technology in Society yang akan dilaksanakan oleh Indonesia melalui BPPT pada April 2016 di Bali, Indonesia. (nf/ap/kskp)