CIREBON – Kita harus menghindari radikalisme agar terjaga persatuan dan kesatuan bangsa sehingga tercipta kondisi rukun damai dan cinta kasih, karena di Indonesia hanya ada satu pandangan sebagai dasar negara yaitu Pancasila dan UUD 1945, hal tersebut disampaikan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir dalam sambutannya pada acara tasyakuran Khotmil Alfiyah, Al-Kutub, Al-Muqorroroh, Juz‘Amma dan Muwada’ah di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Sabtu (13/5).

Tasyakuran tersebut turut dihadiri oleh pendiri pondok pesantren KH. Aqiel Siroj, pengurus pondok pesantren KHAS Kempek, Ketua Pengurus Pusat Nahdatul Ulama Cirebon, wali dari Khotimin serta masyarakt yang berasal dari Cirebon dan luar kota Cirebon.

Menteri Nasir mendorong para santri untuk rajin dalam menimba ilmu baik ilmu akademis maupun ilmu agama, sehingga dapat menciptakan kombinasi yang harmonis antara ilmu pengetahuan dan ilmu agama.

“Disamping agamanya baik dan ilmunya juga baik, Hal tersebut sangatlah penting melihat pesatnya kemajuan ilmu teknologi saat ini,” tutur Nasir.

Menurut Nasir, Ilmu pengetahuan itu tergantung pada siapa yang menggunakannya, jika digunakan untuk kebaikan umat maka akan menjadi manfaat umat. Nasir katakan Santri yang dapat menghafal Quran sebanyak 30 Juz standarnya akan disetarakan dengan Olimpiade Internasional, sehingga dapat memberikan kemudahan dalam mendaftarkan diri ke jenjang Perguruan Tinggi dan mendapatkan beasiswa tidak hanya untuk jurusan Agama Islam saja namun juga jurusan lainnya seperti Teknik dan Kedokteran.

Nasir juga menambahkan bahwa semakin tambah ilmunya maka harus semakin bertambah pemahamannya sehingga dapat memahami dengan baik.

Dalam Tasyakuran tersebut Khotimin Juz Amma sebanyak 240 santri dengan menempuh proses belajar selama 1 tahun dengan 2 kali khatam, Khotimin Juz Amma mempersembahkan hafalannya dengan lancar dan baik. Sedangkan Khotimin Alfiyah sebanyak 49 santri dengan proses belajar selama 7 tahun.

Harapan dengan diadakannya Tasyakuran tersebut, Khotimin dapat menerapkan ilmu yang didapat sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa serta merupakan ilmu yang barokah, ilmu yang didapat dapat menjadi bekal hidup di masyarakat dengan dakwah yang ramah, yang merupakan ciri dakwah nusantara. Dengan ilmu yang dapat diterapkan di masyarakat diharapkan dapat terjalin silaturahim yang baik antar alumni, masyarakat dan warga sekitar.

Galeri