Surakarta – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir dan Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J. Habibie menjadi pembicara utama pada Sidang Paripurna Tahunan Dewan Riset Nasional (DRN) dan Seminar Nasional yang digelar di Hotel Royal Heritage, Solo tanggal 9 Agustus 2016 yang juga dihadiri pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kemenristekdikti, Ketua DRN Bambang Setiadi, serta Ketua Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio. (9/8)

M. Nasir didepan B.J. Habibie dan ratusan tamu undangan mengatakan acara ini juga sebagai bentuk memperingati perayaan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional atau Hakteknas ke-21 yang digelar di Stadion Manahan Solo pada 10 agustus 2016 nanti.

“Bila pada tahun sebelumnya perayaan selalu digelar di Jakarta maka pada tahun ini sengaja kami buat di Solo. Tujuannya agar masyarakat bisa mengenali riset yang menghasilkan inovasi pada daerah-daerah untuk bisa digerakkan semuanya,” ujar Nasir.

Sejalan dengan itu, Kemenristekdikti mengambil topik di Hakteknas tahun ini adalah “Inovasi untuk kemandirian dan daya saing bangsa”. Di era kompetisi, tanpa suatu inovasi sulit rasanya untuk memenangkan persaingan.

“Oleh karena itu, tugas dari DRN membantu Kemenristekdikti dalam mendorong agar riset nasional menjadi lebih baik dan menghasilkan inovasi untuk meningkatkan daya saing bangsa,” terang Nasir.

Nasir menambahkan Kemenristekdikti pun sedang melakukan berbagai upaya untuk menyusun berbagai regulasi terkait, DRN diharapkan dapat membantu dan memperkuat melalui sinergitas dengan para Direktur Jenderal di lingkungan Kemenristekdikti.

“Saya katakan ini sangat penting, kami mempunyai tugas untuk bertanggung jawab mengenai riset dan inovasi harus berkembang terus, maka regulasi apa saja yang harus dibuat, karena masih banyak terjadi benturan pada para peneliti. Riset bukan lagi berbasis pada aktivitas, tetapi berdasarkan pada output atau hasil,” tegasnya.

Presiden RI ke-3 B.J. Habibie juga memberikan imbauan untuk riset di Indonesia. Pada sambutan inspirasionalnya, dirinya mengatakan, “Dimulai pada akhir dan berakhir pada awal. Never give up, Jangan lelah dan mau kalah, pikirlah jauh kedepan,” tegas dan penuh semangat dari Bapak Teknologi Indonesia tersebut.

Dewan Riset Nasional (DRN) memandang bahwa kemampuan penguasaan Iptek yang didukung dengan inovasi dan kemampuan Sumber Daya Manusia yang memadai merupakan kunci keberhasilan untuk mewujudkannya. Untuk mendukung itu, DRN menyelenggarakan Seminar Nasional ini yang bertemakan “Sinergi Pendidikan Tinggi, Riset, dan Bisnis melalui Inovasi untuk Penguatan Daya Saing Bangsa”.

Hasil dari seminar ini dapat dirumuskan berbagai rekomendasi dan kebijakan tentang mekanisme sinergi Perguruan Tinggi, kegiatan atau program riset  dan implementasinya di dunia usaha melalui dukungan sistem inovasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan daya saing produk inovatif yang berdaya saing tinggi di tingkat nasional dan internasional. (ard)