INDONEWS.ID – Indonesia pada saat lahirnya “Revolusi Industri Jilid Satu” belumlah berbentuk sebuah eukariota diploid multisel, Indonesia secara nyata tidak ada dalam peta dunia industri. Ketika itu, tepatnya pada tahun 1760 telah ada sebuah Negara yang mampu mematahkan teori Malthus. Sebuah teori yang bercerita tentang fakta bahwa pertumbuhan manusia mengikuti deret ukur (geometric progression) sementara pertumbuhan bahan makan mengikuti deret hitung (arithmetic progression), secara detail teori ini menjelaskan peningkatan jumlah populasi dua kali lipat dalam 30-40 tahun, sementara jumlah ketersediaan pangan hanya mampu tumbuh secara aritmatis. Dengan demikian maka pertumbuhan pangan tidak akan mampu mengimbangi pertumbuhan populasi manusia.

Teori tentang Inovasi adalah senjata yang paling tepat dalam mematahkan teori Malthus, dengan cara melakukan optimalisasi dan rekayasa pemanfaatan teknologi tenaga air, angin dan uap secara besar besaran ketika itu. Lahirnya model patent act yaitu sebuah kebijakan tentang hak paten yang diberikan kepada para penemu, berimplikasi memicu bermunculannya penemuan–penemuan baru di berbagai bidang yang terbukti mumpuni meningkatkan produktivitas.

“Revolusi Industri Jilid Dua” seakan menjadi “update” dari versi sebelumnya ketika ditemukannya “energi listrik” untuk menciptakan produksi masal yang bermanfaat bagi masyarakat, hal ini memberi dampak signifikan lahirnya “Revolusi Industri Jilid Tiga”, ditandai dengan ditemukannya teknologi informasi dan elektronika yang diterapkan pada sistem otomatik produksi.

Perkembangan, perpaduan, modifikasi dan inovasi itu mendorong lahirnya “Revolusi Industri Jilid Empat”, yang terjadi pada 50 tahun lalu, yaitu ketika Indonesia menjadi sebuah Negara yang melahirkan perpaduan teknologi yang mampu mengaburkan “garis” dan “bentuk” menjadi algoritma digital sebagai pembeda. Bahkan memiliki kecepatan, ruang lingkup, dan sistem operasi digital yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Revolusi Industri Jilid Empat didominasi oleh teknologi digital yang  berkembang cepat, sehingga memerlukan strategi untuk menemukan pendekatan ideal yang melahirkan teori inovasi yang sesuai untuk melakukan berbagai perubahan nyata dalam seluruh sistem produksi, manajemen, dan birokrasi.

Sejak tahun 1997, dampak nyata Revolusi industri Jilid Empat telah diprediksi oleh James Canton di dalam bukunya berjudul “The Extreme Future: the Top Trends that Will Reshape the World in the Next 5, 10, and 20 Years”, analisisnya membahas seputar ramalan tentang transformasi ekonomi secara global dan krisis energi yang akan memuncak. Bahkan Canton juga menggambarkan bahwa hanya dengan peran penting ilmu pengetahuan dan teknologilah maka Negara dapat berevolusi dalam berbagai bidang. Berbagai istilah menjadi populer dan berkiblat pada analisa Canton, antara lain istilah “innovation economy”. Dengan mengambil contoh dan fakta yaitu ketika Negara mampu mengimplementasikan model patent act maka akan lahir regenerasi dari Thomas Alva Edison dan James Watt. Di bidang lain, berbagai inovasi berbasis sains dan teknologi semikonduktor dapat dinikmati dengan telah tersedianya komputer yang ukurannya semakin kecil dengan kemampuan dan kecepatan semakin tinggi, juga robot-robot yang bisa menggantikan fungsi manusia dan mendampingi manusia dalam bekerja.

Klaus Schwab, Executive Chairman World Economic Forum dalam artikel ilmiahnya memiliki hipotesa bahwa saat ini miliaran orang telah terhubung dengan perangkat mobile, penemuan kecepatan pemrosesan byte demi byte data internet, perkembangan besaran kapasitas penyimpanan hard drive data telah meningkatkan kapasitas pengetahuan manusia melebihi sistem konvensional yang didapatkan anak anak di bangku sekolah, bagaimana akses terhadap ilmu pengetahuan begitu terbuka secara nyata, tidak terbatas dan belum pernah terjadi sebelumnya. Semua ini bukan lagi mimpi, tetapi telah menjadi terobosan teknologi baru di bidang robotika, Internet of Things, kendaraan otonom, percetakan berbasis 3-D, nanoteknologi, bioteknologi, ilmu material, penyimpanan energi, dan komputasi kuantum.

Apakah Indonesia akan kembali tertinggal?

Melihat masih rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia berarti harus memperbaiki dua masalah utama, pertama adalah bagaimana tingkat pendidikan masyarakat dapat dijadikan “indikator” dan gambaran mengenai kemampuan penduduk dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Solusi kongkritnya seperti yang disampaikan Sudjana, yaitu diperlukan perubahan paradigma baru pembangunan yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja.

Pendidikan sebagai subsistem pembangunan harus berorientasi pada pengembangan kemampuan peserta didik untuk siap bekerja dan mampu menciptakan lapangan kerja dengan memanfaatkan potensi-potensi yang terdapat di sekitarnya. Pendidikan perlu mengubah keluaran pendidikan dari worker society ke employee society untuk menjadi entrepreneur society, karena Kemajuan suatu masyarakat dan bangsa tidak ditentukan oleh worker society, melainkan oleh employee society. Oleh karena itu memanfaatkan ilmu pengetahuan menggunakan internet of things diyakini akan jauh lebih efisien dan murah. Dengan itu negara perlu mempertimbangkan besaran nilai investasi pendidikan yang harus dikeluarkan sebanding dengan laju perkembangan digitalisasi.

Kedua, Tingkat kesehatan yang dimiliki masyarakat sangat mempengaruhi tingkat produktivitas, artinya jika masyarakatnya sehat maka kemampuan untuk bekerja dan berkarya sangat tinggi, dan sebaliknya. Perkembangan revolusi industri jilid empat juga sangat berpengaruh pada berbagai penemuan berbentuk obat untuk penyakit berbahaya seperti kanker atau penyakit berbahaya lainnya.

Negara kita belum terlambat untuk menata Revolusi Industri Jilid Empat ini, sudah saatnya kita berperan sebagai “key player” untuk mentransformasi Indonesia menjadi Negara Industri berbasis digital.

Apa yang harus disiapkan?

Teknologi digital di Indonesia memerlukan suatu logika baru sesuai dengan prinsip kuantum melalui penciptaan Quantum Bit (Qubit). Ketika teknologi informasi dan elektronika terupdate menggunakan ilmu pengetahuan dari lingkungan eksternal, maka Qubit merupakan jawaban yang tepat. Qubit menggunakan mekanika kuantum untuk mengkodekan informasi baik sebagai 1 dan 0 pada saat yang bersamaan. Injeksi teori “mekanika kuantum” ke dalam “quantum computer” menggunakan fenomena mekanika kuantum berupa superposition, entanglement, multi-verse dan tunneling. Namun hingga saat ini Quantum Computing masih dalam tahap perkembangan, yang memerlukan uji coba berkelanjutan.

Identifikasi McQuail tentang pentingnya sistem digital dalam komputerisasi, memungkinkan semua jenis informasi diubah ke dalam sebuah format baru yang lebih efisien. Jika Negara melakukan optimalisasi teknologi digital dan komputasi maka akan meningkatkan efektivitas pola pikir dan pola tindak, sehingga impian dapat lebih mudah menjadi nyata, maka sesuatu yang tidak mungkin dilakukan bahkan masih dalam khayalan dan angan-angan, kenyataannya memberi dampak terhadap sebuah hasil yang tak terduga. Kini komputerisasi dapat dengan mudah diimplementasikan ke dalam  perangkat lain seperti televisi, smartphone, bahkan jam tangan komputer sdh dapat dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat.

Pada saat yang sama, seperti yang dikemukakan Erik Brynjolfsson dan Andrew McAfee, revolusi industri dapat menghasilkan peningkatan ketidaksetaraan terutama terganggunya pasar tenaga kerja yang hatus memiliki keterampilan dan kapasitas tinggi. Namun Erik meyakini bahwa akan tercipta di masa depan segmen pekerja “low-skill/low-pay” dan “high-skill/high-pay”, yang bila dilakukan tidak dengan cermat dapat peningkatan ketegangan sosial.

Dengan kondisi demikian, kedepan tidak menutup kemungkinan semua hal akan dapat ditemukan dan dibuat dalam versi digital. Karena itu pemerintah sudah seharusnya mendukung pendanaan penelitian komputasi kuantum untuk mengembangkan komputer kuantum yang lebih efisien dan bermanfaat bagi masyarakat dan negara.

Persoalan Teknologi merupakan salah satu alasan mengapa pendapatan mengalami stagnasi, atau bahkan menurun bagi sebagian besar penduduk di negara-negara berpenghasilan tinggi yaitu ketika permintaan akan pekerja terampil meningkat sementara permintaan pekerja dengan pendidikan rendah menurun.

Implikasi?

Revolusi Industri Jilid Empat memiliki potensi untuk meningkatkan tingkat pendapatan global dan meningkatkan kualitas hidup bagi masyarakat dunia, akan menghasilkan harga murah dan kompetitif, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, menurunkan biaya transportasi dan komunikasi, meningkatkan efektivitas logistik dan rantai pasokan global, biaya perdagangan akan berkurang, akan membuka pasar baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Untuk itu Negara perlu menyikapi secara bijaksana bahwa baik teknologi maupun kendala yang menyertainya adalah kekuatan “eksogen” dimana manusia tidak memiliki kendali atas hal tersebut, kita semua bertanggung jawab untuk membimbing evolusinya dalam keputusan yang kita buat setiap hari baik sebagai warga negara, konsumen, maupun investor.

Negara juga harus mengembangkan pandangan komprehensif tentang bagaimana teknologi bermanfaat bagi kehidupan dan membentuk lingkungan ekonomi, sosial, budaya, karena pada akhirnya semuanya bermuara pada orang dan nilai.

Tidak mustahil Indonesia akan melompat menjadi negara maju dalam Revolusi Industri Jilid Empat ini, melalui pemanfaatan implementasi teknologi digital dan komputasi kedalam Industri. Namun demikian di saat yang sama Indonesia perlu segera meningkatkan kemampuan dan keterampilan sumberdaya manusia, menjadi operator dan analis handal sebaga pendorong Industri mencapai daya saing dan produktivitas tinggi.

Semoga bermanfaat… Salam Inovasi..

oleh: Agus Puji Prasetyono

sumber: http://indonews.id/revolusi-industri-ke-4-dan-intergrasinya-dalam-tata-kelola-negara/