Setahun sudah pendidikan tinggi dan ristek di bawah satu nahkoda yaitu Kementeritan Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Presiden Jokowi telah menumbuhkan kembali semangat masyarakat Indonesia untuk menjadi bangsa petarung yang kuat dan berkarakter dalam menggapai kesejahteraan dan kemandiriannya. Hal tersebut akan dilakukan melalui peningkatan mutu, relevansi, kuantitas dan kualitas serta kemampuan IPTEK dan inovasi manusia berpendidikan tinggi.

Untuk mampu mencapai cita-cita luhur tersebut, program kerja Kemristekdikti secara khusus berfokus tidak hanya pada mutu dan jumlah lulusan perguruan tinggi sebagai tenaga kerja terdidik, serta jumlah penelitian yang telah dihasilkan, akan tetapi lebih dari itu, bagaimana tenaga kerja terdidik yang bermutu itu relevan dengan kebutuhan industri dan pasar kerja, serta hasil riset dapat dihilirkan menjadi inovasi yang laik industri.

Dalam meningkatkan mutu lulusan perguruan tinggi, beragam upaya telah ditempuh mulai dari penertiban perguruan tinggi yang tidak taat azas, penerbitan dan kaji ulang beragam peraturan pendidikan tinggi sehingga dapat mendorong penyelenggaraan pendidikan tinggi yang bermutu, upaya mendorong akreditasi perguruan tinggi dan program studi secara nasional maupun internasional, peningkatan kualitas dan kuantitas dosen melalui beasiswa, pelatihan dan sertifikasi, peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kependidikan, kerjasama pendidikan tinggi dengan berbagai negara, penyediaan beragam skema beasiswa dan beragam jenis pendidikan tinggi untuk mahasiswa, sehingga semua calon mahasiswa potensial dapat kuliah di perguruan tinggi, dan nantinya akan mampu mengisi kebutuhan pasar kerja di dalam maupun luar negeri, peningkatan kualitas dan kuantitas riset dan pengembangan, serta peningkatan jumlah inovasi.

Enam Puluh Persen Lulusan PT Langsung Bekerja. Hasil dari beragam program tersebut sudah dapat dipetik, misalnya sejumlah program studi memperoleh akreditasi internasional, dua perguruan tinggi Indonesia memperoleh peringkat 500 besar Universitas Kelas Dunia, beberapa keahlian bidang ilmu di perguruan tinggi memperoleh peringkat 200 besar Program Studi Kelas Dunia (misalnya pertanian di IPB: ranking 150 dunia).

Di samping itu, APK Pendidikan Tinggi tahun 2015 sudah mencapai 34,42%, melebihi target 27% yang dicanangkan. 75% lulusan memperoleh IPK di atas 2,75, dan 60% dari lulusan langsung memperoleh pekerjaan. Khusus untuk peningkatan mutu guru sebagai lulusan LPTK, Kemristekdikti juga sudah menerapkan beragam jenis program pendidikan profesional guru, di antaranya SM3T dan Menyapa Negeriku, selain peningkatan kualitas program PPG sebagaimana diterapkan di berbagai LPTK.

Dari sisi ketenagaan, jumlah dosen yang S2 dan S3 sudah mencapai 75%. Jumlah Profesor sekarang ini sudah 5500 orang. Sementara jumlah peneliti adalah 550 per sejuta orang penduduk. Karya-karya mereka sudah tersebar secara internasional. Pada tahun 2014 saja, jumlah terbitan Indonesia sudah mencapai lebih dari 5500 judul menurut Scopus Index, sedikit lebih tinggi dari Vietnam, serta 45% di antaranya ditulis melalui kolaborasi dengan peneliti asing. Di samping itu, sekarang Kemristekdikti telah memiliki Rencana Induk Riset Nasional yang akan memandu peneliti dan dosen dalam melakukan beragam riset dan pengembangan, serta menghasilkan inovasi yang bermutu dan laik industri, terutama dalam 11 bidang riset prioritas, yaitu pertanian dan pangan, energi, energi baru dan energi terbarukan, obat dan kesehatan, informasi dan komunikasi, transportasi, pertahanan dan keamanan, advance material (nanoteknologi), maritim, kebencanaan, kebijakan, serta sosial humaniora.

Pelopor Knowledge-Based Economy. Peningkatan Mutu tidak terlepas dari Relevansi suatu inovasi dalam memenuhi kebutuhan industri. Dalam rangka peningkatan relevansi, pada tahun 2015, Kemristekdikti telah melakukan beragam upaya untuk membawa inovasi dan teknologi kepada industri dan masyarakat yang membutuhkannya, antara lain melalui pengembangan prototipe inovasi laik industri atau proses hilirisasi, pendirian dan pengembangan Science and Technology Park, pendirian Pusat Unggulan Inovasi, pengembangan klaster inovasi daerah untuk meningkatkan daya saing daerah, sinergi aktor inovasi pusat dan daerah dalam pengembangan produk unggulan daerah, inkubasi bisnis teknologi, serta penerapan teknologi di industri dan masyarakat. Untuk meningkatkan relevansi tenaga kerja terdidik dengan kebutuhan industri, dilakukan pendirian Akademi Komunitas untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga kerja jangka pendek (Diploma 1 dan 3) di sekitar 90 wilayah, serta pemberdayaan mahasiswa melalui program kewirausahaan sehingga nantinya lulusan tidak hanya mampu mengisi kebutuhan pasar kerja di dalam maupun luar negeri, tetapi juga mampu membangun usaha sendiri, self-employed, bahkan juga membuka lapangan kerja baru bagi orang lain. Sementara itu, juga banyak inovasi lainnya yang dikembangkan melalui beragam skema penelitian dan pengembangan serta penguatan inovasi, melalui Kemeristekdikti, BPPT, LIPI, LAPAN, BATAN, BIG, BSN dan kerjasama dengan lembaga lainnya dan industri.

Indonesia, melalui sekelompok penelitinya telah menemukan satu aspek penting dalam revolusi industri, yang biasanya muncul seratus tahun sekali, yaitu “brain to brain communication”. Hal tersebut diakui oleh para peneliti Barat bahwa “Indonesia menjadi negara yang berada di depan dalam revolusi industri mendatang melalui temuan Brain Communication. Banyak lagi peneliti-peneliti Indonesia yang pada tahun 2015 berprestasi di dunia internasional, melalui berbagai wahana olimpiade maupun wahana lainnya.

Dari upaya tersebut telah diperoleh sejumlah inovasi yang laik industri seperti Engine Rusnas Kendaraan Pedesaan, Konverter Kit Solar ke Gas bagi Nelayan, rantai tank, pengembangan sayuran utama di Indonesia, berdirinya beberapa STP seperti Agro Techno Park (Sumatera Selatan dan Bengkulu), ICT Techno Park (Bandung), STP Terpadu (Sragen, Kaltara), berdirinya 18 Pusat Unggulan Inovasi serta sejumlah desa inovasi, bertumbuhnya sejumlah perusahaan pemula bebasis teknologi (Led Ikan, Kapal Pelat Dasar, Ultimate Surface Aerator), penerapan sejumlah teknologi dari perguruan tinggi di berbagai industri, serta diseminasi teknologi untuk masyarakat (padi sidenuk).

Dalam rangka menyongsong pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN, Kemenristekdikti juga berupaya meningkatkan kualitas tenaga kerja terdidik sehingga dapat bekerja secara kompetitif di pasar ASEAN, atau berwirausaha di kancah regional ASEAN. Penyelarasan kebutuhan kerja dengan keterampilan kerja melalui KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) dan peningkatan penguasaan Bahasa Inggris memudahkan terjadinya mobilitas tenaga kerja terdidik lintas negara ASEAN.

Kerja Cerdas 2016. Namun kita juga menyadari masih banyak tantangan yang kita hadapi. Keluasan wilayah Indonesia, heterogenitas dan pluralisme masyarakat Indonesia, serta bonus demografi yang dimiliki Indonesia, menjadikan pengelolaan serta upaya peningkatan mutu riset, teknologi dan pendidikan tinggi di Indonesia merupakan upaya yang unik, dan memerlukan banyak terobosan untuk pengembangan dan peningkatan kualitasnya. Untuk itu, diperlukan kerja keras bersama di jajaran Kemristekdikti maupun kolaborasi dan dukungan berbagai pihak, kementerian lain, DPR, lembaga penelitian, NGO, sektor swasta dan industri, media masa, serta masyarakat secara keseluruhan.

Terima kasih atas dukungan dan kerjasamanya di tahun 2015, dan mari kita teruskan semangat kerja cerdas kita di tahun 2016.