Presiden Joko Widodo membuka secara resmi Kongres Pancasila IX di Gedung Senat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (Sabtu,22 Juli 2017). Pembukaan Kongres Pancasila IX dihadiri Menteri, Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sultan Hamengkubuwono X, Rektor Universitas Gadjah Mada Panut Mulyono, 400 peserta Kongres serta tamu undangan lainnya.

Tema besar yang diangkat dalam kongres ini adalah “Pancasila Jiwa Bangsa: Dinamika, Tantangan, dan Aktualisasi di Indonesia”. Kongres Pancasila IX menjadi momentum yang begitu istimewa yakni telah ditetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahirnya Pancasila yang berdasar pada Keputusan Presiden (Keppres) No. 24 Tahun 2016.

Presiden Jokowi mengatakan bahwa negara-negara lain sangat mengagumi dan penasaran tentang bagaimana bangsa Indonesia yang besar, majemuk dan beragam serta kaya akan kekayaan alam bisa rukun dan bersatu. “Jawaban saya sederhana, karena Indonesia memiliki Pancasila,“ ujar Presiden Jokowi.

Presiden mengatakan bahwa Pancasila bukan hanya milik Indonesia. Pancasila bisa menjadi rujukan bagi kemajemukan masyarakat Internasional. “Kita harus bangga punya Pancasila. Kita harus berani bersuara lantang Saya Indonesia, Saya Pancasila. Saya Mahasiswa, Saya Pancasila,” kata Presiden.

Panut Mulyono mengatakan bahwa sejak dilaksanakan sejak tahun 2009, baru kali ini Kongres Pancasila dihadiri Presiden. “Kehadiran Bapak Presiden memberi semangat api Pancasila dalam jiwa kita semua,” ujar Panut.

Panut menambahkan bahwa Kongres Pancasila merupakan wujud dalam menghayati dan mengamalkan pancasila. Dengan penyelenggaraan Kongres Pancasila IX, nilai nilai Pancasila semakin kokoh mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. “Pancasila bukan hanya komitmen orang dewasa, namun semua generasi,” pungkas Panut.

Kongres Pancasila IX tahun 2017 yang berlangsung di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta merupakan kelanjutan dari kongres-kongres Pancasila sebelumnya. Masing-masing kongres memiliki titik perhatian yang berbeda, namun berkesinambungan.

Kongres Pancasila I di UGM Yogyakarta Tahun 2009 dan Kongres Pancasila ke II di Universitas Udayana, Denpasar Tahun 2010 secara mendasar lebih mengarah pada penguatan wacana dan perumusan bersama masalah berbangsa dan bernegara secara lebih jernih. Kongres Pancasila III di Universitas Airlangga Surabaya Tahun 2011, mengarah pada penggalian dan pencarian model-model pembudayaan nilai-nilai Pancasila dan pelembagaannya yang berjangkar pada pengalaman empiris berbagai pemangku kepentingan.

Kongres Pancasila IV di UGM, Yogyakarta, menekankan pada dimensi institusionalisasi nilai-nilai Pancasila. Berikutnya, Kongres Pancasila V Tahun 2013 menitik beratkan pada strategi pembudayaan nilai-nilai Pancasila di berbagai bidang, dan terakhir Kongres Pancasila VI di Universitas Pattimura, Ambon, Tahun 2014, menitik beratkan pada penguatan, sinkronisasi, harmonisasi, integrasi pelembagaan dan pembudayaan Pancasila dalam rangka memperkokoh kedaulatan bangsa. Kongres Pancasila VII di UGM, Yogyakarta yang menitikberatkan pada pentingnya penguatan basis ideologi dan implementasi kongkret atas program-program pemerintah kepada kawasan 3 T (Terluar, Terdepan Tertinggal). Terakhir Kongres Pancasila VIII menekankan pada aktualisasi kembali Tri Sakti dalam mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur. (ap/kat)