Salah satu kompetensi yg harus dimiliki oleh bidan adalah kompetensi asuhan persalinan yaitu memimpin selama persalinan dengan bersih dan aman, termasuk menentukan proses penurunan janin melalui pelvik selama persalinan dan kelahiran melalui pemeriksaan dalam. Untuk mengasah keterampilan calon bidan dalam menentukan dilatasi serviks, diperlukan model pembelajaran yang baik dan praktis serta mudah untuk digunakan.
Di bawah bimbingan dosen program studi DIV Kebidanan Sekolah Vokasi UGM, Diah Wulandari, M.Keb., lima orang mahasiswa UGM mengembangkan sebuah inovasi model pembelajaran bagi para calon bidan yang dinamakan Phalasetom, Phantom Dilatasi Sepuluh Serviks Otomatis. Solikhah Maulida Dwi Harsiwi dan Dwi Amalia Rahmadani dari Prodi DIV Kebidanan, Christanto Budi Naryoko dari Prodi Teknik Mesin, Ragowo Tri Wicaksono dari Prodi Teknik Elektro, serta Sofyan Aji Nugraha dari Prodi Teknologi Informasi mengembangkan inovasi ini sebagai solusi model pembelajaran dilatasi yang lebih praktis.

“Di laboratorium sendiri alat peraga yang ada kurang praktis dan mahal yaitu dalam bentuk 10 buah alat peraga yang mewakili setiap 1 pembukaan serviks. Untuk itu, bersama teman-teman dari teknik saya ingin membuat alat yang lebih praktis yaitu hanya terdiri satu alat dan dapat dioperasikan secara otomatis melalui aplikasi android sehingga dosen juga mudah dalam mengevaluasi mahasiswa,” jelas Solikhah Maulida, Rabu (21/6).
Solikhah menjelaskan, ia memperoleh ide untuk membuat alat tersebut ketika ia menjalankan praktik di lapangan dan menolong persalinan. Ia merasa bahwa kondisi yang ia hadapi di lapangan sangat berbeda dari apa yang ia pelajari di laboratorium.

“Ketika menilai pembukaan serviks pada ibu bersalin, itu sangatlah berbeda dan lebih sulit dibanding pembelajaran di laboratorium yang hanya menggunakan phantom. Padahal, keterampilan untuk menentukan kemajuan persalinan sangat penting dan wajib bagi bidan supaya bisa menentukan tindakan selanjutnya pada ibu bersalin, apakah normal atau harus dirujuk,” jelasnya.

Pemeriksaan dalam sendiri, ujarnya, bertujuan untuk mendeteksi dini adanya komplikasi, memantau jalannya persalinan, memantau pembukaan serviks, menilai penurunan bagian terendah dari janin, dan memantau keadaan ketuban. Kompetensi dalam pemeriksaan dalam sangat diperlukan sebagai dasar pengambilan keputusan klinik penatalaksanaan selanjutnya sehingga keterampilan bidan saat melaksanakan pemeriksaan dalam sekaligus keterampilan menentukan dilatasi serviks harus dilatih sebaik mungkin.

Phalasetom, menurutnya, adalah model pembelajaran yang dapat menjawab kesulitan dan permasalahan-permasalahan yang ada bagi calon bidan ketika mempelajari perubahan dilatasi serviks. Phalasetom menggabungkan antara phantom serviks dengan rangkaian elektronik yang berguna untuk menggerakkan aktuator sebagai pengendali serviks. Melalui Phalasetom, mahasiswa dapat mempelajari pembukaan serviks dari pembukaan 1 cm sampai pembukaaan 10 cm hanya dalam satu buah
phantom.

“Pengaturan pembukaan serviks pada perangkat Phalasetom juga dapat dilakukan secara nirkabel menggunakan aplikasi pada smartphone Android,” ujar Solikhah.

Selain lebih praktis, Phalasetom hadir dengan banyak keunggulan seperti penggunaannya yang sederhana, tahan lama, hemat, dan efektif. Alat ini digerakan menggunakan motor setelah menerima sinyal bluetooth dari aplikasi android yang akan melakukan pembukaan serviks.

“Ketika alat dioperasikan, phalasetom menggunakan modul bluetooth hc05 untuk menerima perintah dari aplikasi hp, lalu sistem mikrokontroler arduino nano akan menggerakan motor sesuai dengan pembukaan serviks yang diinginkan, sensor untuk menghitung jumlah putaran supaya sesuai dengan pembukaan menggunakan sensor
rotary encoder,” jelasnya.

Alat ini, lanjut Solikhah, juga dapat lebih memudahkan dosen sekaligus memudahkan mahasiswa calon bidan dalam meningkatkan keterampilan mereka sehingga diharapkan juga saat di dunia kerja nanti, para calon bidan tersebut sudah lebih siap dan memiliki kompetensi yang lebih baik. (Humas UGM/Gloria)