JAKARTA – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir bersama dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (MenPUPera), Basuki Hadimuljono menandatangani nota kesepahaman tentang profesi insinyur di KemenPUPera, Jumat (9/8).

Nota kesepahaman ini sesuai dengan amanat Undang- Undang No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Program profesi insinyur ditujukan kepada semua Sarjana Teknik di Indonesia.

“Kami sudah siapkan dan berikan mandat kepada 40 Perguruan Tinggi baik PTN dan PTS untuk membuka program profesi insinyur,” ujar Nasir.

Nota kesepahaman ini adalah bentuk kerjasama di bidang keinsinyuran infrastruktur sebagai wahana berlatih bagi para insinyur. “Kami siapkan tenaga profesional tapi harus bekerjasama juga dengan user. User ini tempatnya ada di Kementrian PU-Pera terkait dengan infrastruktur,” lanjutnya.

Program tersebut hadir karena sedikitnya jumlah insinyur di Indonesia yang profesional di bidangnya. Tiap tahun hanya ada 10-12 ribu Sarjana Teknik yang memiliki kemampuan dan kompetensi dibidang masing-masing, hal ini sangatlah kurang.

Nasir mengatakan, program profesi insinyur ini terdiri dari 24 SKS yang akan ditempuh sekitar satu sampai satu setengah tahun. Persiapan ini juga dilakukan untuk meningkatkan keahlian Sarjana Teknik untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) per 31 Desember 2016 nanti.

“Inilah yang kami dorong supaya sumber daya Indonesia mampu bersaing di kelas regional dan internasional, karena sebentar lagi sudah memasuki MEA,” tutur Nasir.

Harapannya dalam profesi insinyur akan menghasilkan orang-orang yang profesional dibidangnya. Kebutuhan insinyur juga tidak hanya dibidang infrastruktur tetapi juga kemaritiman dan energi. Maka dari itu, Kemenristekdikti akan memperluas kerjasama dengan Kementerian ESDM dan Kementerian KKP untuk kebutuhan insinyur profesional di bidang energi maupun kemaritiman. (Dzi/lry)

Galeri