Tangerang Selatan – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi menegaskan pentingnya peran kota dan daerah dalam mendorong inovasi, khususnya Sistem Inovasi Daerah (SIDa). Tanpa iptek dan inovasi, promosi pembangunan berkelanjutan dinilai tidak lengkap. Hal ini disampaikan Jumain Appe, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti pada The 15th World Technopolis Association (WTA) Mayor’s Forum, yang merupakan rangkaian kegiatan Tangerang Selatan Global Innovation Forum (TGIF) 2016, di Tangerang Selatan, Kamis (22/9).

wta1 9ds_0140

Dalam sambutannya pada Forum Walikota yang bertema “Kebijakan dan Program Pemerintah Kota dalam Membina Inovasi Untuk Meningkatkan Perekonomian Daerah” tersebut, Jumain menjelaskan bahwa tahun 2016 merupakan tahun ke-17 The Sustainable Development Goals (SDGs) sejak The 2030 Agenda for Sustainable Development resmi diberlakukan. “Dalam mencapai SDGs di seluruh dunia, kita semua menyadari bahwa kota memainkan peran utama. Tidak diragukan lagi, kontribusi wali kota, pemerintah daerah dan perwakilan dalam mengadvokasi SDGs sangat penting,” tegasnya.

Menurut Jumain, SIDa bertujuan untuk mempercepat pembangunan daerah dan menyukseskan program pemerintah daerah. Oleh karenanya, setiap daerah harus memiliki spesialisasi sendiri mencakup pengetahuan dan budaya lokal bagi perkembangan inovasi, agar mampu bersaing di kancah global. Dalam mengembangkan kebijakan inovasi, adanya tantangan spesifik dan potensi yang berbeda di masing-masing daerah akan menghasilkan strategi yang berbeda-beda pula untuk diterapkan.

Selain itu, meskipun kemajuan teknologi telah mendorong lahirnya berbagai inovasi berbasis teknologi, Jumain melihat bahwa peningkatan pengetahuan non-teknologi juga diperlukan sebagai kekuatan pendorong inovasi. Hal ini disebabkan, pengetahuan yang digunakan untuk inovasi semakin komposit, sejalan dengan pergeseran nilai-nilai dan praktik-praktik di masyarakat. Contohnya, kebangkitan industri kreatif yang menggabungkan aspek budaya dan estetika dalam suatu produk atau jasa.

Jumain juga menambahkan bahwa dalam SIDa, wilayah yang inovatif diidentifikasi sebagai orang-orang yang memiliki kapasitas lokal untuk memobilisasi dan mengonfigurasi ulang sumber daya lokal untuk memperkuat iklim kewirausahaan. “Perlu digarisbawahi bahwa penting untuk memperluas paradigma wilayah inovatif terhadap kedekatan geografis. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan pihak luar sehingga dapat dilakukan transfer pengetahuan,” jelasnya dalam forum yang dihadiri oleh Presiden WTA sekaligus Walikota Daejon, Korea Selatan, Kwon Sun Talk, serta Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany tersebut.

Sementara itu, dijelaskan oleh Walikota Airin, dipilihnya Tangerang Selatan sebagai penyelenggara Global Innovation Forum (GIF) tahun 2016 ini, tidak lepas karena keikutsertaan kota ini sebagai salah satu anggota WTA. Melalui GIF, berbagai kota di Indonesia maupun kota-kota lainnya di berbagai penjuru dunia di bawah koordinasi UNESCO, diharapkan dapat lebih inovatif dalam menggunakan serta mengembangkan hasil riset ilmiah untuk pembangunan kota berkelanjutan. “Dengan demikian, berbagai inovasi serta potensi daerah bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan di masa depan,” tandasnya. (PSP)