Dalam tiga  hari ini harian Kompas ramai memberitakan tentang  gagasan  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memberikan penugasan khusus bagi Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk melakukan penelitian terobosan dalam rangka memecahkan permasalahan nasional di bidang pangan dan energi.  Penugasan ini direncanakan akan disertai dengan penggunaan sebagian dari bunga dana abadi yang ada di kementerian.

Berita ini seolah oleh menjadi angin segar yang menghidupkan kembali semangat dan roh kebangsaan  para peneliti IPB yang sudah  jenuh dibebani dengan semakin menciutnya sumber dana penelitian dan beban administrasi penelitian yang semakin menghimpit.

Pendidikan Tinggi  Pertanian seperti IPB seharusnya  dapat  berfungsi sebagai  Power House pengembangan dan diseminasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan melalui kegitan penelitiannya.  Melalui kegiatan pengembangan IPTEKS nya Perguruan Tinggi diharapkan dapat berperan aktif dalam memecahkan permasalahan bangsa. Hasil kegiatan penelitian di Perguruan Tinggi tentunya tidak hanya berupa laporan yang teronggok di perpustakaan saja, akan tetapi seharusnya dapat berdampak pada    (a) pencapaian academic excellence (b) Economic value dan (c) Social Impact.

Mengingat dampaknya yang sangat strategis,  Perguruan Tinggi di Indonesia diharapkan dapat memperhatikan atmosfir   penelitiannya secara serius untuk meningkatan citranya di tingkat nasional dan internasional. Ketiga capaian di atas  akan memberikan domino effect pada  (a) percepatan Perguruan Tinggi  menjadi Research  Based University dan World Class University (b) Peningkatan kualitas substansi pendidikan (c) Peningkatan kinerja ekonomi daerah/Negara (d) Pemberdayaan masyarakat serta (e) Peningkatan kualitas lingkungan hidup.  Sayangnya para peneliti di Perguruan tinggi lebih banyak memfokuskan pencapaian academic excellence dibandingkan dengan dua dampak lainnya, yaitu  Economic value dan  Social Impact.

Pola penelitian penugasan (top down) dan dalam jangka panjang (multi years) ini sebenarnya pernah diterapkan Kementerian Riset dan Teknologi beberapa tahun yang lalu melalui program Riset Unggulan Nasional (RUSNAS),  dan telah terbukti memberikan efek lebih jika dibandingkan dengan pola penelitian lainnya. Sayangnya,  pola penelitian ini tidak berlanjut akibat perubahan kebijakan dan visi penelitian. Dengan semakin menciutnya dana penelitian di tingkat nasional, kebijakan yang diterapkan lebih banyak menekankan  kepada pemerataan dana penelitian dengan harapan akan semakin banyak peneliti di perguruan tinggi dapat melakukan penelitian.

Pemerataan distribusi dana penelitian tentu saja akan berdampat positif dengan semakin banyaknya peneliti dapat melakukan penelitian.  Pertanyaan yang muncul sekarang adalah dari sekian besar dana penelitian yang telah dikucurkan, apa hasil nyata dari penelitian yang dihasilkan ? apa manfaatnya bagi masyarakat?  Bagaimana dampak sosialnya? Dengan dana penelitian yang kecil kecil (di bawah 100 juta rupiah) dan tersebar, setelah dipotong honorarium peneliti dan pajak dll akan menyisakan porsi dana yang kecil untuk pelaksanaan penelitian tersebut.

Belum lagi administrasi penelitian (termasuk sistem pertanggungjawaban keuangan) yang menurut sebagian besar peneliti “lebih rumit” jika dibandingkan dengan melakukan  penelitiannya itu sendiri.  Dengan berbagai kendala tersebut akan sangat sulit sekali diharapkan keluar hasil penelitian terobosan.   Tekanan yang sangat besar agar hasil penelitianya dapat dimuat di jurnal ilmiah internasional tentunya akan membuat peneliti bersikap lebih soliter agar mendapatkan kum penelitian yang memadai untuk kenaikan pangkat dan jabatannya.

Secara tidak sadar sistem alokasi dana penelitian yang kecil kecil, lebih menekankan pada pemerataan, sistem kenaikan pangkat dan jabatan dosen nasional yang jauh “lebih” menghargai kum kegiatan penelitian jika dibandingkan dengan kum yang dihasilkan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam penerapan teknologi misalnya, akan menyisakan sedikit ruang saja di benak peneliti untuk menghasilkan penelitian terobosan yang dapat memecahkan permasalahan bangsa, seperti misalnya pangan dan energi.  Dengan sistem yang ada kita belum dapat berharap banyak akan munculnya karya inovatif anak bangsa yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Gagasan yang dilontarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk menugasi IPB secara khusus sesuai dengan khitoh nya dalam memecahkan permasalahan bangsa di bidang  pangan dan energi merupakan suatu terobosan yang perlu diapresiasi.  Dengan gagasan seperti ini diharapkan para peneliti dapat meroposisikan visi, sikap dan pandangannya sebagai salah satu komponen masyarakat yang turut bertanggung jawab dalam memecahkan permasalahan bangsa ini.  Disamping itu sumber dana penelitian yang tidak seperti biasanya akan dapat memicu instansi lainnya dalam memanfaatkan dana tidurnya, untuk turut serta memecahkan permsalahan bangsa yang semakin membelenggu.  Gagasan seperti ini diharapkan pula dapat menyadarkan bangsa ini bahwa permasalahan pangan dan energi harus ditangani bersama secara serius dan kerja keras, bukan ditempuh dengan  budaya instan melalui kebijakan impor.

Bukan tidak mungkin gagasan ini akan memberikan domino effects pada  budaya meneliti lintas disiplin ilmu, penelitian yang komprehensif dari hulu ke hilir yang akan berdampak besar, menghilangkan ego dan sekat sekat bidang ilmu yang selama ini secara sadar ataupun tidak membelenggu para peneliti yang hanya sibuk pada bidang ilmunya masing masing, serta pola pendanaan penelitian yang memadai dan tidak terlalu banyak direpotkan oleh administrasi penelitian.  Diharapkan penugasan penelitian yang bermula darikampus rakyat ini dapat berkembang dengan sangat pesat ke berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian lain.

Inyaallah dengan amanah ini para peneliti IPB akan bangkit dan menghidupkan roh kebangsaan dan pro masyarakat seperti yang pernah dicontohkan beberapa tokoh seniornya yang secara gigih berpikir dan mengabdikan dirinya pada kepentingan masyarakat

___________________________________

Penulis:

Prof. Dr. Ir. Ronny Rachman Noor MRur.Sc.

Wakil Kepala bidang Penelitian LPPM IPB