Tarakan – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir berkesempatan mengisi kuliah umum di Kampus Universitas Borneo Tarakan (UBT), Tarakan, Kalimantan Utara pada Kamis (8/6). Kuliah umum ini dihadiri oleh wakil gubernur Kalimantan Utara, sekertaris Provinsi Kalimantan Utara, Rektor UBT, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Keahasiswaan Ristekdikti, para Rektor pergururan tinggi se-kalimantan, ketua DPRD Kalimantan Utara.

Temu bersama kuliah umum yang dilakukan oleh Menristekdikti di UBT ini merupakan kunjungan pertama Nasir di Kaltara. Ia mengatakan walaupun Universitasnya baru, mudah- mudahan UBT akan menjadi Universitas yang tumbuh kembangnya lebih cepat. seperti halnya ada sebuah pepatah mengatakan mutu seseorang tidak dilihat dari usia, tapi dilihat dari kedewasaan. “tua itu pasti, dewasa adalah pilihan,” ujarnya diiringi gelak tawa.

Menurut Nasir Perguruan Tinggi yang dewasa ialah Perguruan Tinggi yang mampu bersaing dengan Perguruan Tinggi lainnya tidak hanya di Indonesia melainkan juga di Luar Negeri. Beliau mengemukakan bahwa saat ini di Indonesia ada lebih dari 4.400 Perguruan Tinggi dengan perbandingan jumlah penduduk sebanyak 250 juta.

“4.498 (Perguruan Tinggi) adalah jumlah yang sangat – sangat besar dengan perbandingan jumlah penduduk kita 257 juta. Dalam 4.498 perguran tinggi tersebut ada Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik hingga Akademi Komunitas. Sementara jika dibandingkan dengan Cina, Cina yang jumlah penduduknya 1,4 milyar memiliki Perguruan Tinggi sebanyak 2.825. Berbanding terbalik dengan Indonesia,” paparnya.

Hal ini dibuktikan dengan masuknya 10 Perguruan Tinggi Cina ke dalam daftar 500 Perguruan Tinggi teratas di dunia. Indonesia masih tertinggal dengan hanya memiliki 3 Perguruan Tinggi yang terdaftar di 500 Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi teratas di dunia. Hal ini membuktikan bahwa Perguruan Tinggi di Indonesia harus berbenah memperbaiki segala infrastruktur dan kualitas manajemen Perguruan Tinggi.

“Membangun Perguruan Tinggi ke arah yang lebih baik merupakan tanggung jawab bersama, oleh karena itu mari bersama- sama pemerintah daerah membangun Perguruan Tinggi. Kalau pendidikan tingginya baik, pasti kota itu akan berubah cepat. Pertumbuhan ekonomi akan seperti deret ukur, bukan deret hitung. Pertumbuhan ekonomi rendah karena Sumber Daya Manusia (SDM) nya rendah,” kata Nasir.

Dalam rangka mendukung Pendidikan Tinggi yang lebih baik, Menristekdikti mendukung potensi akademik mahasiswa yang kurang mampu dengan berbagai program beasiswa diantaranya ialah beasiswa bidikmisi.

Menurut data yang diperoleh, sebanyak 60% mahasiswa beasiswa bidikmisi mendapatkan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) diatas 3. Itu artinya anak- anak bidikmisi secara kualitas merupakan anak-anak pintar bahkan menjadi lulusan terbaik.

“Maka para mahasiswa disini punya potensi besar untuk menjadi seperti itu. Kalau anda bisa kerja keras, insya Allah negara akan maju kedepan bersama anda. Karena anak bidikmisi adalah mutiara yang terpendam di daerah-daerah,” tutur Nasir memberi semangat pada Mahasiswa yang menghadiri kuliah umum.

Nasir menambahkan sumber daya yang berkualitas akan menghasilkan inovasi yang baik.

Pada kesempatan yang sama Menristekdikti dalam orasinya mengingatkan kepada para mahasiswa agar senantiasa menjaga kesatuan Indonesia dan untuk tidak menyalah gunakan teknologi informasi untuk menebar kebencian.(TJS)