Toksin dikenal sebagai senyawa yang membahayakan kesehatan. Pasalnya, racun dapat menyebabkan gangguan fungsi organ dan proses metabolisme dalam tubuh. Namun, disisi lain toksin dapat memberikan manfaat bagi manusia.
“Toksin bisa digunakan sebagai agen diagnostik penyakit pada manusia dan juga untuk obat-obatan,” kata Guru Besar Departement of Biological Sciences, National University of Singapore (NUS), Prof. R. Manjunatha Kini, saat memberikan kuliah umum di Fakultas Biologi UGM, Rabu (26/10)
Dalam kesempatan itu, Kini menyampaikan materi mengenai hubungan struktur-fungsi protein: toksin pada bisa ular, famili protein fosfolifase A2 (PLA2), serine proteases, waprin dan vespryn. Dijelaskan Kini menyampaikan bahwa dalam penelitian terdahulu kebanyakan masih berkutat sekitar tingkat toksisitas, gejala patologis yang ditimbulkan, dan antivenom. Karenanya ia melakukan penelitian untuk mengkaji toksin dari sisi kemanfaatannya. Penelitian mengenai toksin dapat meliputi hubungan struktur-fungsi protein dan mekanisme kerjanya untuk diketahui manfaat sebagai therapeutics agent.
“Saya mulai dengan melakukan isolasi, purifikasi, sekuensing dan karakterisasi senyawa toksin pada bisa ular,” tuturnya.
Terdapat beberapa contoh novel toksin yang telah berahsil dikarakterisasi oleh Kini. Salah satunya adalah senyawa Ohanin yang diisolasi dari ular King Kobra yang menyerang pada sistem saraf pusat. Selain itu juga senyawa Candoxin yang diperoleh dari isolasi  ular Weling yang dapat menyebabkan blokade pada neuromuscular namun dapat kembali ke kondisi normal dengan penambahan anticholinesterase neostigmine.
Dalam kesempatan tersebut, Kini juga membuka kesempatan bagi mahasiswa Fakultas Biologi UGM untuk melakukan studi lanjut di NUS. Dia berharap kedepan aka nada lebih banyak mahasiswa UGM yang melanjutkan studi dan penelitian di Departement of Biological Sciences, NUS. (Humas UGM/Ika)