Beberapa kegiatan riset dan IPTEK juga dilakukan oleh anggota masyarakat sesuai dengan amanah pasal 24 ayat 1 UU no.18 tahun 2002 tentang Sinas P3 IPTEK yaitu “ Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk berperan serta dalam melaksanakan kegiatan penguasaan, pemanfaatan dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.  Sebagian besar kegiatan riset dan iptek yang dilakukan oleh masyarakat tersebut dilakukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat sendiri yang dapat dimasukkan dalam kategori teknologi tepat guna (TTG).

Teknologi tepat guna adalah suatu teknologi yang dikembangkan yang dikarakterisasikan oleh adanya kreativitas dan rekayasa yang mengenali kondisi sosial, lingkungan, politik, ekonomi, serta aspek teknik dan menjadi solusi teknologi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat (Schumacher, 1965 & Sianipar et. al, 2013). Pengembangan, penerapan dan pemanfaatan teknologi tepat guna dapat memberikan nilai tambah pada kegiatan perekonomian masyarakat.

Salah satu kendala dalam pengukuran kinerja program-program yang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas dari inventor dan innovator yang ada di masyarakat adalah mendapatkan indikator kinerja program yang tepat.  Dalam rangka mendapatkan masukan mengenai hal tersebut, maka dilakukan diskusi dengan LPPM UPN Veteran Jatim pada 22 April 2015 sekaligus mensosialisasikan program-program terkait pemberdayaan masyarakat yang ada di kementrian ristekdikti.   Diskusi dimulai dengan paparan Asdep Produktivitas Riptek Masyarakat, Dr. Ira Nurhayati Djarot dan  Kepala LPPM UPN Veteran jatim, Prof. Dr. Ir. Achmad Fauzi MMT.

Universitas Pembangunan Nasional “veteran” Jatim merupakan salah satu universitas negri yang banyak menghasilkan prototype-prototype teknologi tepat guna bekerjasama dengan inventor dan innovator masyarakat.  Sebanyak 183 prototype teknologi tepat guna dimana 72 diantaranya telah mendapatkan perlindungan HKI dalam bentuk 31 paten sederhana (29 paten dalam proses dan 2 paten telah terdaftar), 26 desain produk industri dan 15 hak cipta.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Dekan Fakultas Pertanian, Dr. Sukendah, didapat beberapa kesimpulan antara lain ; 1) jumlah prototype teknologi tepat guna dapat menjadi indikator kinerja program (kuantitatif) bagi program-program riset dan pengembangan yang dibutuhkan masyarakat ; 2) relevansi dan dampak yang diukur dengan survey dapat menjadi indikator sosial (kualitatif)  bagi program-program riset dan pengembangan yang dibutuhkan masyarakat; 3) dibutuhkan intervensi pemerintah dalam percepatan proses perolehan paten dan 4) dibutuhkan intervensi pemerintah dalam perolehan SNI bagi prototype-prototype teknologi tepat guna yang dihasilkan universitas maupun lembaga penelitian agar dapat terjadi proses komersialisasi  (ad4-d4 /humasristek).