Kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak dilakukan, namun mengapa hasilnya masih belum dimanfaatkan oleh industri di Indonesia? Pertanyaan mendasar inilah yang mendorong Deputi Bidang Sumber Daya Iptek, Kementerian Riset dan Teknologi untuk melakukan diskusi program dan sekaligus memetakan permasalahan yang terjadi di lapangan khususnya di Batam pada tanggal 27 April 2015 di Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Dalam paparannya Muhammad Dimyati, Deputi Bidang Sumber Daya Iptek, menegaskan bahwa industri harus didorong untuk memanfaatkan hasil invesi yang telah dilakukan oleh para peneliti dan perekayasa, baik dari lembaga pemerintah maupun perguruan tinggi, agar iptek dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional. Hal ini selaras dengan konsep Sistem Inovasi Nasional yang menekankan bahwa hasil litbang yang seharusnya berdasarkan kepada demand driven, tidak lagi berlandaskan kepada supply push, dimana pengembang iptek didorong untuk mengembangkan suatu invensi yang dapat dihilirkan ke industri sebagai pengguna iptek, dengan demikian sistem ini dapat berjalan berkesinambungan.

Dalam diskusi, Direktur Lalu Lintas Barang BP Batam, Tri Novianta Putra mengatakan bahwa yang menjadi permasalahan mendasar rendahnya iklim inovasi di Batam adalah masih kurangnya start up UKM yang menjadi cikal bakal hilirisasi hasil litbang ke industri. Novianta menambahkan bahwa industri di Batam sebagian besar adalah industri assembling khususnya elektronik, galangan kapal, dan industri pendukung minyak dan gas. Lebih jauh lagi beliau menyatakan bahwa di Batam membutuhkan inkubator dan Science Techo Park (STP) agar kegiatan litbang iptek dari hulu ke hilir dapat berlangsung di dalam satu kawasan.

Selanjutnya, selain memaparkan konsep hilirisasi teknologi, Deputi Bidang Sumber Daya Iptek juga menjelaskan tentang Peraturan Menteri Keuangan no. 72/2015 tentang royalti dan kegiatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-20 pada tanggal 10 Agustus 2015. Beliau menegaskan bahwa Hakteknas adalah milik seluruh bangsa Indonesia bukan hanya milik Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, sehingga beliau mengajak dan mendorong pemerintah daerah khususnya BP Batam untuk ikut berpartisipasi pada kegiatan tersebut.

Setelah diskusi, Deputi Bidang Sumber Daya Iptek beserta tim dari Asisten Data dan Informasi Iptek dan Asisten Deputi Investasi Iptek melakukan kunjungan lapangan ke PT Kinema yang bergerak pada bidang perfilman dan animasi. Selanjutnya tanggal 28 April 2015, tim Asdep Datin dan Asdep Investasi secara terpisah melakukan kunjungan lapangan sesuai dengan tugas masing-masing. Asdep Datin berkunjung ke Balai Sumber Daya Perikanan Kelautan dan Politeknik Negeri Batam. (ad4/dep2-humasristek)