60 tahun yang lalu, Indonesia bersama Myanmar, India, Pakistan, dan Sri Lanka menjadi negara inisiator pelaksanaan Konferensi Asia Afrika dengan mengundang berbagai bangsa dari Asia, Timur Tengah, dan Afrika untuk membentuk sebuah tatanan baru antar bangsa yang damai serta saling menghormati.

Pertemuan itu merupakan tonggak bersejarah bagi persatuan bangsa Asia dan Afrika dalam menentukan masa depan mereka sendiri. Perayaan peringatan ke-60 KAA ini tak semata untuk mengenang kembali peristiwa monumental itu namun juga untuk memberikan makna  baru dalam merevitalisasi kembali semangat yang ada ketika itu.

Tema peringatan ke-60 KAA ini adalah “Stregthening South-South Cooperation to Promote World Peace and Prosperity”, yang dimaksud untuk mempererat kemitraan antar negara Asia dan Afrika dalam mempromosikan perdamaian dan kesejahteraan melalui pertukaran pengalaman untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di dua benua tersebut. Perayaan peringatan ini juga membahas solusi dalam menjawab tantangan khas Asia dan Afrika sebagai bagian dari negara selatan-selatan di belahan bumi ini.

Menristekdikti bersama Menteri Kabinet Kerja menghadiri Pembukaan Peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika (KAA) yang resmi dibuka oleh Presiden RI Bapak Jokowi pada Rabu, 22 April 2015 di Jakarta Convention Center.

Dalam pidatonya Presiden RI mengatakan bahwa saat ini dunia membutuhkan kepemimpinan global yang kolektif, yang dijalankan secara adil dan bertanggungjawab. Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru, sebagai negara berpendudukan muslim terbesar di muka bumi, dan sebagai negara demokrasi terbesar ke-3 di dunia, siap memainkan peran global sebagai kekuatan positif bagi perdamaian dan kesejahteraan. Indonesia siap bekerjasama dengan seluruh pihak untuk mewujudkan tujuan mulia tersebut.

Menristekdikti didampingi oleh Sekjen Kemenristekdikti Bapak Ainun Na’im, Staf Ahli Menristek Bidang Pangan dan Pertanian Bapak Benyamin Lakitan, Deputi Bidang Sumber Daya Iptek Bapak Muhamad Dimyati, Asisten Deputi Jaringan Iptek Internasional Ibu Nada Marsudi, dan Kepala Biro Umum Bapak M. Ilmi. (flh/humasristek)