Ilmu Pengetahuan dan Tenologi (Iptek) merupakan salah satu unsur penting dalam membangun dan memajukan suatu bangsa. Terlebih lagi, persaingan ekonomi membuat berbagai bangsa di dunia berlomba dalam penguasaan teknologi sehingga menjadi bangsa yang yang memiliki daya saing (competitiveness). Dalam konteks global, salah satu upaya yang dilakukan dalam perekonomian berbasis teknologi/iptek adalah dengan membangun techno park/science park atau dikenal dengan STP.

Sains Techno Park (STP) harus menjadi indikator utama peningkatan sarana teknologi yang dibutuhkan masyarakat Indonesia. Hal itu diungkapkan Direktur Kawasan Sains Teknologi dan Lembaga Penunjang Lainnya Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti, Lukito Hasta saat membuka acara Forum STP Indonesia 2015 di Hotel Sahid Jakarta, Rabu (2/12).

“Secara umum, kondisi dari masing-masing STP berbeda antara satu dengan yang lainnya. Karena itu, upaya untuk optimalisasi peran dan kinerja STP menjadi penting. Salah satunya melalui forum yang berfungsi untuk menjembatani dan memfasilitasi komunikasi diantara pengelola STP sekaligus sebagai wadah dalam rangka pembinaan, pengembangan dan pengawasan”, ujarnya.

Saat ini diperkirakan jumlah STP (dan calon STP) yang ada di Indonesia berjumlah sekitar 70 buah, yang tersebar di beberapa wilayah seperti Palembang, Bandung, Solo, Sragen hingga Papua. Dalam hal pengelolaan, STP tersebut juga terdiri dari yang dikelola oleh pemerintah pusat (kementerian), pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten), perguruan tinggi dan swasta. Saat ini akan dirancang dan akan dibangun 100 techno park di kabupaten/kota dan science park di setiap provinsi.

“Pengalaman di beberapa negara maju seperti Jepang, Jerman dan Amerika menunjukkan bahwa pembangunan STP sangat berdampak secara signifikan terhadap pertumbuhan perekonomian”, ucap Lukito. (dzi/bkkpristekdikti)