Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir meresmikan Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai Parangtritis Geomaritime Science Park, Jumat, 12 September 2015.

Peresmian ini ditandai dengan pemasangan prasasti tetenger kawasan konservasi gumuk pasir Parangtritis seluas 141 hektare oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X dan penandatanganan prasasti Parangtritis Geomaritime Science Park oleh Menteristekdikti.

Pembentukan Parangtritis Geomaritime Science Park menjadi langkah Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk merevitalisasi Laboratorium Geospasial Parangtritis dan restorasi kawasan gumuk pasir yang kini terancam rusak.

Penetapan kawasan ini menambah luas kiprah Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis (LGPP) dalam penelitian kelautan. Bila selama ini, LGPP fokus pada penelitian tentang gumuk pasir, maka dengan penetapan Parangtritis Geomaritime Science Park, penelitian dan kajian akan mencakup berbagai hal terkait kelautan.

“Tidak hanya soal gumuk pasir, tapi lebih luas yang memberi manfaat bagi masyarakat. Bagaimana pengkajian tentang pasir, apa kandungan di dalamnya. Pengajaran tentang kelautan, sistem penangkapan ikan, bagaimana menjadi nahkoda yang baik. Nelayan enggak hanya mencari ikan, laboratorium ini menyiapkan informasi tentang plankton,” jelas Menristek Dikti M. Nasir dalam arahannya di Gumuk Pasir Parangtritis.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan HB X menegaskan penetapan batas zona inti gumuk pasir akan diikuti dengan pembersihan permukiman dan pepohonan serta aktivitas lain yang mengganggu pelestarian zona inti gumuk pasir. Sultan juga meminta lurah dan kepala dukuh agar aktif mencegah kerusakan kawasan geoheritage tersebut.

Berdasarkan kajian Fakultas Geografi UGM, kawasan gumuk pasir akan terbagi dalam tiga zonasi. Pertama zona inti seluas 141,1 hektare. Kedua zona terbatas seluas 95,3 hektare. Terakhir zona penunjang seluas 111 hektare. Saat ini, kondisi gumuk pasir sangat mempriha-tinkan. Sebab, salah satu warisan dunia itu hanya tinggal 30 persen. Jika restorasi tidak segera dilakukan tidak tertutup kemungkinan gumuk pasir akan rusak.

Hadir dalam peresmian ini Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Priyadi Jardono; Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwikorita Karnawati; dan pejabat perwakilan Pemerintah Kabupaten Bantul.(mwr/bkskpristekdikti)