Malaysia, negara jiran ini memang banyak keunggulan dari negara kita, termasuk dalam hal Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptekin).  Dalam berbagai survei, seperti Global Competitiveness Index (GCI), Technology Achievemnet Index (TAI), hingga Human Development Index (HDI) posisi negara kita memang tidak lebih baik dari negara tersebut. Data empirik juga menjukkan peningkatan kinerja ipktekin yang cukup signifkan seperti dalam hal anggaran litbang, publikasi ilmiah maupun dalam hal SDM iptek. Anggaran iptek negara tersebut saat ini telah mencapai 1.07 persen dari GDP dengan jumlah SDM iptek mencapai 58,2 peneliti per 10.000 pekerja.

Staf dari Kemenristekdikti (Lenggogeni dan Dedy Saputra) berkesempatan untuk mengikuti ISTIC Certified Training Programme on Science, Technology and Innovation (STI) Policy and Management for Developing Countries (ICPS),  17 – 24 August 2015, di Kuala Lumpur, Malaysia. Program ICPS ini dilakukan sebagai sebagai forum interaksi, berbagi dan pembelajaran terkait perkembangan STI/Iptekin, khususnya di negara-negara berkembang. ICPS 2015 menghadirkan tidak kurang dari 30 peserta yang berasal dari 26 negara di  Asia dan Afrika, di antaranya: India, Pakistan, Iran, Uzbekistan, Tazjikistan, Qatar, Jordania, Aljazair, Tunisia, Sudan dan Ethiopia.

Dalam kesempatan itu, pembicara dan nara sumber yang berasal dari Malaysia banyak berbagi pengalaman dengan memaparkan kondisi terkini maupun kebijakan terkait iptekin di negara jiran tersebut, termasuk pengalaman mereka dalam mengembangkan Agro Technopark di Cameron Highland. Dalam perkembangnnya  technopark ini tidak hanya berhasil dalam pengembangan riset di sektor agrikultur, namun juga telah berkembang sebegai pelaku agribisnis yang menjadi pemasok produk agrikultur ke seluruh Malaysia. Lebih dari itu, lokasinya yang strategis dan tata letaknya yang asri membuat  agro technopark ini dikunjungi tidak kurang dari 100.000 wisatawan tiap tahunnya.

Pembelajaran penting yang dapat dipetik dari keberhasilan Malaysia dalam pembangunan Iptekin adalah dijadikannya Iptek sebagai pemicu pembangunan perekenomian negara. Selain itu, plattform pembangunan Iptekin yang dibangun sejak era Mahathir Muhammad melalui visi 2020 tetap berlanjut meskipun kepala pemerintahan telah beberapa kali berganti. Kemudian, yang tak kalah penting adalah peran akademisi, peneliti maupun pelaku industri. Kontribusi sektor industri dalam aktivitas litbang di Malaysia telah mencapai 50 persen.

Setiap peserta ICPS diharuskan untuk membuat country report dalam bentuk paper  dan berkewajiban untuk mengikuti berbagai aktivitias yang disiapkan oleh penyelenggara. Setelah kembali ke negara masing-masing, para peserta juga berkesempatan untuk mendapatkan sertifikasi sebagai STI profesional dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dengan mengembangkan dan mengaplikasikan konsep yang telah dipelajari selama program. Program ICPS dilaksanakan secara reguler tiap tahun, dan pihak penyelenggara (International Science, Technology and Innovation Centre for South-South Cooperation/ISTIC) menyediakan tiket pesawat pp, akomodasi, transportasi  dan konsumsi selama program bagi peserta yang lulus seleksi.    (ds-dir1/bkskpristekdikti)