Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, berharap Perguruan  Tinggi di Indonesia mampu masuk peringkat 10 besar dunia. Ia mengatakan sejauh ini, kampus terbaik dunia masih didominasi perguruan tinggi di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Belanda, Australia, Kanada, Swiss. Menristekdikti mengakui bahwa memang tidak mudah untuk berkompetisi di level internasional. untuk merealisasikan hal itu antara lain mengubah pola pikir dunia akademik Indonesia menjadi national competitiveness atau memiliki kompetensi nasional.

Hal tersebut diungkapkan Menristekdikti saat membuka Seminar Internasional dalam rangka Dies Natalis Universitas Negeri Makassar ke-64, pada hari Kamis, 20 Agustus 2015. Menristekdikti dalam kesempatan tersebut menyebutkan sejumlah tolok ukur agar perguruan tinggi di Indonesia memiliki kompetensi nasional. Pertama, skill worker atau keterampilan tenaga kerja.”Lihat dosen yang dimiliki, kualifikasi doktor berapa banyak, sudahkah mencapai 50 persen. Kalau masih kurang harus ditingkatkan lagi,” ujarnya.

Tolok ukur kedua adalah inovasi atau penemuan hasil riset. Kalau banyak inovasi dalam suatu negara, pasti berdampak langsung pada kompetensi nasional. Inovasi itu memang seharusnya lebih banyak muncul dari perguruan tinggi dibanding lembaga lain. Hasil riset dan inovasi pun dapat dimanfaatkan untuk masyarakat atau kalangan industri, sehingga mampu menyerap banyak tenaga kerja. Semakin berkurang tingkat pengangguran, tentu akan meningkatkan kompetensi nasional.

Menristek menyatakan dukungan terhadapa penelitian yang dilakukan dari hulu ke hilir, yaitu riset dapat diaplikasikan ke dunia industri sehingga memberi manfaat bagi masyarakat serta negara. Dalam kesempatan ini Menristekdikti meminta kepada para pengajar untuk memberikan beban tugas kepada mahasiswa sehingga berinovasi dan terus mengembangkan kemampuannya. (mwr-wwj/bkskpristekdikti)